Posts

Husayn : Explore, Exposure & Expertise

PKBM Piwulang Becik menjadi saksi perjalanan Husayn, seorang siswa kelas XI, yang memilih mengambil jalan pendidikan nonformal. Husayn dan orangtuanya menjelajahi berbagai bidang, dari musik hingga astronomi, membuka pintu menuju pengetahuan yang lebih luas.
Sebagai seorang anak kinestetik, dalam proses eksplorasinya, Husayn menemukan kegemarannya dalam dunia basket sejak usia delapan tahun. Melibatkan diri di dalam kejuaraan tingkat daerah hingga nasional, dan masih terus menjalani berbagai keterampilan termasuk belajar skill animasi dan ilustrasi.

Husayn menghadapi titik balik ketika usianya mencapai 14 tahun, dihadapkan pada pilihan untuk fokus di dalam satu bidang antara mempertahankan karier di dunia basket atau menyusuri jalur visual. Hal ini menjadi ruang sulit untuk Husayn, karena saat itu Husayn lebih menyukai bermain basket dibanding keterampilan animasi, namun akhirnya dia memilih fokus menjalani prosesnya di bidang animasi dengan mempertimbangkan banyak hal.

Keberanian untuk mengejar jalur visual membawa Husayn ke dalam dunia animasi dan ilustrasi di PKBM Piwulang Becik dengan didampingi oleh mentor yang berpengalaman di bidangnya. Bersama teman-temannya, setiap hari di studio adalah perjuangan untuk mencapai pencapaian sesuai tujuan individu masing-masing.

Saat ini di usia 18 tahun Husayn sudah mencapai titik pertamanya, yaitu memiliki unit usaha dengan pelayanan pembuatan animasi dan ilustrasi. Husayn dan timnya dipercaya oleh klien dari berbagai negara dan tetap didampingi oleh mentornya yang sudah lebih dahulu menjalani bidang tersebut.

Cerita di atas bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman seusianya. Terima kasih, Husayn, karena telah berbagi kisah ini! 😇

Tonton cerita Husayn di :

 

FIdella Anandhita: Merdeka Berperan dan Merasakan Community Enterprise Di PKBM

Sekolah Nonformal atau PKBM memang seringkali disalahpahami sebagai tempat yang hanya menyelenggarakan ujian untuk Paket A, B, dan C. Namun, seperti yang dialami oleh Fidella Anandhita atau Della, PKBM sebenarnya merupakan tempat yang aktif dan dikelola secara profesional. Della #livein di Piwulang Becik dari Oktober sampai Desember 2022 dan menemukan bahwa PKBM merupakan sebuah wadah untuk pertumbuhan anak-anak, orang tua, dan guru dalam komunitas belajar, mengajar, bekerja, dan berwirausaha.

Salah satu hal yang mengejutkan Della adalah bahwa PKBM dan industri saling terhubung. Hal ini menunjukkan bahwa PKBM bukan hanya sekadar tempat belajar, tetapi juga memiliki peran yang penting dalam pembangunan industri dan masyarakat. PKBM dapat menjadi community enterprise atau lembaga wirausaha yang dimiliki dan dikelola oleh komunitas dengan tujuan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh komunitas. Prinsip koperasi dan Community Enterprise ini dikelola dalam lingkungan komunitas JRU (Jaringan Rumah Usaha).

Sebagai sebuah community enterprise, PKBM memiliki berbagai macam program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan masyarakat. Program-program ini disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat dan dilaksanakan oleh para pengajar yang terlatih dan berkompeten. Della merasa kagum karena menemukan bahwa PKBM telah mengaplikasikan dengan baik prinsip-prinsip yang selama ini hanya terdapat dalam buku, makalah, dan riset.

Tonton video lengkapnya di :

The Social Dilemma & Factfulness

Mari kita diskusikan hubungan antara film dokumenter disertai drama The Social Dilemma (Netflix, 2020) dengan buku Factfulness (Hans Rosling, 2018). Hubungan keseimbangan antara ketakutan dengan harapan.

The Social Dilemma

menceritakan bahayanya perubahan yang sangat kecil dari dunia internet sekarang ini, baik itu Google, Facebook, Instagram, dllnya … dengan cara yang sangat halus, pelan … tetapi menghanyutkan. Para developer di perusahaan-perusahaan besar tersebut mengingatkan akan bahayanya layanan yang telah mereka bangun sendiri. Kita telah salah tangkap, mengira yang mereka buat adalah sebuah layanan bagi kita, padahal sebenarnya tanpa kita sadari, perilaku kita berubah mengikuti yang mereka mau.

Fenomena Bumi Datar

Salah satu contoh menarik dari cara bekerjanya algoritma media sosial adalah fenomena tentang bumi datar. Ketika seseorang baru pertama kali ingin mencari tahu tentang isu bumi datar atau tidak, maka dia akan disuguhkan dengan beragam informasi, baik yang mendukung atau pun tidak. Jika kita lakukan search di Google, maka yang muncul paling atas adalah yang paling banyak diklik dan dibaca. Dan itu tidak bermakna bahwa yang paling atas adalah yang paling benar. Kenapa begitu? Karena bagi algoritma medsos, bukan benar salahnya, tetapi seberapa banyak yang telah mengklik dan membaca. Hal ini berkaitan dengan dunia bisnis, pengiklan. Pengiklan akan memberikan insentif finansial kepada situs yang paling banyak dibaca. Karena targetnya adalah jumlah.

Lantas, setelah itu, algoritma pada saat bersamaan juga akan mencatat, kecenderungan dari pembaca pertama tadi. Situs mana saja yang lebih banyak dibaca, pengikut bumi datar atau penentangnya.

Jika yang dibaca lebih banyak di bagian pengikut bumi datar, maka pencarian berikutnya akan diarahkan kepada situs-situs yang mendukungnya. Yang secara lambat laun, si pembaca digiring, seolah-olah kecenderungannya mendapatkan pembenaran. Dan opini ini terus akan dibangun untuk semakin menguatkan bahwa medsos memang dibutuhkan oleh pembaca tersebut untuk mendapatkan info tentang bumi datar. Secara tidak sadar, pembaca secara pelan tapi pasti, dia telah terperangkap oleh algoritma medsos dan menjadi kecanduan akan informasinya.

Bagaimana dengan pembaca lain yang punya kecenderungan menentangnya? Dia juga akan mendapatkan info hal lain yang mendukung kecenderungannya tersebut. Sehingga, seolah dia juga mendapatkan pembenaran akan kecenderungannya tersebut.

Walhasil, keduanya akan merasa benar dan mendapatkan pembenaran. Keduanya telah terperangkap oleh algoritma artifisial intelijen yang mereka ciptakan. Dan sekarang, pembaca bukan lagi sebagai pencari informasi, tetapi telah menjadi produk, yang dijual kepada pemasang iklan.

Itu hanya salah satu contoh saja. Sudut pandang lain tentang film tersebut telah banyak ditulis, salah satu review yang cukup bagus ditulis oleh Bernadetta Yucki dan bisa dibaca di tautan berikut.

Factfulness

mengajak kita melihat kenyataan bahwa dunia tidak seburuk yang kita sangka. Informasi yang sampai kepada kita, terlalu bias, krn kita tidak pernah mau menyediakan waktu sebentar saja untuk menganalisa dengan jernih. Kita hanya follow the crowd. Sadarkah kita dengan hal ini?

Afrika Adalah Negara Miskin

Seolah-olah telah menjadi takdirnya bahwa Afrika selamanya akan miskin dan terbelakang. Tapi seringnya, opini ini terbentuk atas dasar perasaan saja.

Padahal kenyataannya, harapan hidup orang Afrika lebih dari 72 tahun. Sementara rata-rata harapan hidup dunia hanya 72 tahun, di bawah orang Afrika. Mereka telah mengembangkan pendidikan, ketersediaan listrik, air dan sanitasi yang semakin baik. Penurunan tingkat kematian bayi menurun lebih cepat dibandingkan Swedia. Lantas, kenapa semua itu tidak pernah dilihat sebagai perkembangan yang luar biasa?

90 tahun yang lalu, Swedia juga miskin. 50 tahun yang lalu, China, India, Korea Selatan dalam kondisi jauh lebih buruk dari Afrika saat ini.

Tapi orang cenderung tidak mau melihat kenyataan akan adanya perubahan. Padahal, perubahan yang kelihatannya pelan, tidak berarti tidak ada perubahan sama sekali. Tahukah bahwa 1 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda setelah 70 tahun. Dan 2 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda dalam 35 tahun. Kemudian 3 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda hanya dalam 24 tahun. Sekecil apapun perubahan itu, akan berdampak besar.

Orang cenderung melihat kondisi saat ini saja, dan tidak mau melihat proses perkembangannya. Sehingga mereka sering terkaget-kaget ketika 20 tahun kemudian, masyarakatnya mundur, dan sebaliknya, masyarakat lain semakin maju.

Banyak contoh dari data yang valid dihadirkan, untuk melihat kondisi dan perekembangan sebuah masyarakat dengan nyata, buka sekedar perasaan saja. Salah satu review menarik dari sudut pandang yang lain lagi, ditulis oleh Bagja Hidayat dan bisa dibaca di tautan berikut. Dan ebook yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tersedia di Gramedia di tautan berikut.

Bagaimana Kita Menyikapinya?

Film dokumenter tersebut menjadikan kita ngeri melihat pesatnya perkembangan zaman. Di lain pihak, buku factfulness justru memberikan kita gambaran akan dunia yang lebih baik dari yang kita takutkan selama ini.

Lantas, apakah info di atas menjadikan kita tambah galau, bingung atau justru kita bisa mengambil tindakan dengan lebih rasional lagi? Sebagai manusia sosial, kita perlu menyeimbangkan antara ketakutan dengan harapan. Untuk menyeimbangkan keduanya, kadang kita butuh teman berdiskusi dan saling mengisi, saling memberi ketika kita sudah melangkah mengambil keputusan.

Di situlah letak pentingnya kita
bergotong royong
saling menguatkan,
saling mengingatkan,
saling meringankan.

form pendaftaran PBx

Suffer Now & Live the Rest of Your Life as a Champion

Muhammad Ali’s 10 Rules for Success

1. Think differently

My thinking is so superior, my knowledge is so positive, my logic is so wise. I can see high and see farther than you.

2. Have confidence

He didn’t knock me out. He could hit hard, but he couldn’t find nothin’ to hit. I’m so fast, so hard to hit, so scientific.

3. Defy the rules

I don’t pay no attention to what they say about me. All I do is just do what I have to do. I don’t pay no attention to rules of boxing, I defy all the rules. And I’ve added pages and new sections to the book of boxing.

4. Stick to your game plan

I didn’t dance for a reason, I wanted to make him lose all his power. When I stay on the ropes, you think I’m doin’ bad? Stay on the ropes is a beautiful thing with heavyweight, when you make him shoot his best shots.

5. Have a bigger vision

Boxing is just a stepping stone to introduce me to the audience. like when I speak, I draw people in the States, to draw my people, teach ’em various things, which ‘ll give ’em dignity, pride, and self-help. And go for self, or help the ghetto, and help the dope, prostitution problem, the juvenilles. I use my image to help, or do all I can to stop a lot of trouble among our own people, fightin’ and killin’ each other.

So boxing is just going for to be another year, though my main fight is for freedom and equality.

6. Be prepared to handle anything

So I just had everything ready. Now, after the first round, and bein’ here, able to talk professional, a man so great, had so many knocks-out, never been defeated, never been even scratched. I didn’t know really how good he was. So I had to come in, actually a little nervous, and with everything ready, after one round dancin’, I’d found out that this would tire me out. So I would have resort to ropes. I figured that out that after the first round, So I said I’m going to go to these ropes.

And I’mma let this man through everthing he can, let him tire himself out. He might look like he’s winnin’. And if he don’t hurt me, I’mma stay here. Now after I found out he didn’t have it, I stayed there.

7. Show good sportsmanship

And it’s really silly when you think about fightin’. I look at other fighthers fight and I say I must be a fool. Here are two men like two roosters, you all know them cockfights. They took two roosters, and they put ‘em out, and they put knives on ‘em. And the roosters are fightin’ each other, and they’re not even mad, don’t know each other. And just to please somebody.

And here are two men in the ring, fightin’ each other and they’re hittin’ each other, and they bleed, and they’re fightin’. What they mad about? They’re not mad about nothin’. Just a bunch of agitatin’, bloodthirsty people. Sayin’ you can whoop him, he can whoop him, my man can whoop your man. Alright. You all get in there and fight.

Humans should have more sense than that. And you’re sittin’ out there, dressed up, drinkin’ your beer and they just fightin’ and just … and this is serious. The nose’ll bleed and the eyes cut, the teeth is out, and the brain, they might have a concussion, just to please you human beings. It’s real savage.

And I said, I’m not gon’ be that kind of fighter. I’m going to dance, and be pretty. I’m just gon’ win on points. And if I hurt my man, I’m going to let him go. I’m not going to kill him, just because somebody’s watchin’.

8. Be determined

I fought Ken Norton. My last fight, the fights was even, up until the last round. But I had somethin’ that he didn’t have, although I’m much older. And that was the last minute kick. The mental capacity to realize what’s involved and how important it is, and make it about to do somethin’ that’s really too tired to do. Your mind makes you do it.

Mark Spits, this olympic track star I was mentionin’, he wasn’t that much greater than all the people in the world. But sometimes he won by just that much. And the champion is just one who can come out at the last minute and close the show. As they say, the star closes the show.

A 14, 15 round fight, and it’s even, and usually this champion, you can depend on him, to come through at the last two seconds, and find some initiative from somewhere.

Not only that (discipline), it’s mental and physical. His body’s in physical shape to do it. Plus mentally too. He’s got his self in condition, where both fellas may be, sometimes, the will can outdo the skill.

And, sometimes, the fella’s will is stronger than the man who’s actually better physically. And the determination weakens the other man, just to see him so determined.

9. Outsmart your competition

I really do be angry. I have to psych myself up. I put myself on spots. It actually puts fear into your opponent. George Foreman. Just before the fight, I’m lookin’ at him when the man’s givin’ us instructions. I said, sucka, you are in trouble tonight. You are fightin’ the greatest fighter for all times. I’m fast sucka. I’m going to burn you up. I said, you’re meetin’ your master, your idol.

I talked through the whole fight. I said come on sucka. I said, show me somethin’. They told me you could hit hard. You’re just a sissy. Come on sucka, show me somethin’. Come on , you can do better than that, George. Look at you, round seven and you’re tired.

10. Be charismatic

I was told that it’s a big honor to be invited to speak at a place like Harvard. I’m trying to be serious, but you want to make me laugh anyway. I understand that out of people, such as you all, come presidents, and governors, and mayors, and great doctors, and physicians, and scientists, and everything. So I say, well to get somethin’ together, to talk to these people, it’s got to be pretty heavy.

If you had told I’d be offered a professorship to teach philosophy, and poetry at Oxford, and speakin’ at Harvard. Man, I never would’ve believed it. So I’m really humble, and I’m thankful, to be here at such a high of learnin’.

And now, I’m just a boxer. But most boxers can’t even talk. You couldn’t invite Joe Frazier or George Foreman.

… and this is the Ali shuffle …

I don’t count my sit ups
I only count them when it hurts
because these are the ones that count

Setara Daring Menyambut Asesmen Kompetensi Minimum

Prospek Setara Daring

Bapak Ir Harris Iskandar Ph.D, Widyaprada Ahli Utama, Ketua Sub Bidang Edukasi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, Kemendikbud, dalam penutupan “Diseminasi Pembelajaran Setara Daring Pendidikan Kesetaraan” yang diselenggarakan oleh Direktorat PMPK, Dirjen PAUD Dikdas & Dikmen, Kemdikbud, dari tanggal 22-24 Oktober 2020 bertempat di Harris Hotel Sentraland, Semarang, menggarisbawahi bahwa era digitalisasi tidak bisa dielakkan.

Sebagai salah satu pejabat utama yang menggagas Setara Daring tahun 2016 dan menggalakan penerapan aplikasi ini sejak 2018, memperlihatkan data dimana pada April 2018 penggunanya baru 10 SPNF, kemudian meroket dengan cepat per data tanggal 21 Oktober 2020 telah digunakan oleh 1.554 SPNF, dengan 12.770 Tutor, 41.555 Peserta Didik.

Pembelajaran online ini justru lebih tertib secara materi. Bisa disetting bahwa peserta didik harus mengikuti secara bertahap, tidak bisa melompat. Di dunia perkuliahan, bisa jadi tidak pernah masuk, dan hanya mengikuti ujiannya saja. Tapi di sistem online yang ketat, jika seminggu tidak pernah login, bisa dihapus dan harus mengulang dari awal lagi.

Jadi, walaupun memberikan fleksibilitas ruang dan waktu, tetapi akuntabilitasnya bisa lebih tinggi dari offline. Setara Daring dengan fitur di Learning Management Systemnya yang semakin lengkap, memberikan prospek cerah dalam pendidikan di Indonesia.

Momentum Bagi Perluasan Homeschooling

Era pandemi sekarang ini menjadikan anak-anak mendadak homeschooling. Sebagian masih tergagap-gagap, sebagian lain menikmati, dan bisa jadi setelah pandemi, mereka akan terus menginginkan model pembelajaran seperti ini. Para atlet dan artis terbantu sekali dengan HS di SPNF, karena mereka bisa fokus kepada keahliannya, tetapi tidak tertinggal pendidikan akademisnya.

Pandemi ini mengembalikan pendidikan kembali kepada keluarga. Merekalah yang menentukan pendidikan anaknya. Yang secara sadar, teratur dan terarah mengutamakan kemandirian dalam belajar.

Setara Daring yang dirancang sejak 2016 ini menjadi solusi bagi para homeschooler yang terdaftar di SPNF.

Gotong Royong di Setara Daring

Beberapa hal telah diusulkan, salah satunya adalah menggagas gotong royong semua pelaku dunia pendidikan yang aktif menggunakan Setara Daring: Seamolec dan Forum Komunikasi PKBM, untuk memberikan wadah dengan fasilitas IT yang bagus bagi warga SPNF untuk membuat modul, soal dan jawab yang berasal dari kearifan lokal masing-masing daerah.

Jadi, modul, soal dan jawab, tidak berasal dari pusat saja, tetapi juga daerah. Ini meningkatkan rasa gotong royong dan memiliki Setara Daring.

Sehingga kekuatan konten di Setara Daring, akan semakin menguat.

Setara Daring Menyambut AKM

Dengan platform yang semakin lengkap dan baik ini, ditunjang oleh beragamnya konten dari berbagai daerah di Indonesia, Setara Daring tentu akan sangat siap untuk menerapkan Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

Karena karakter gotong royong ini sudah terbiasa di lingkungan Setara Daring. Dan partisipasi setiap daerah akan memberikan lingkungan belajar yang luas, sekaligus menghargai kearifan lokalnya.

Jalan Tengah Untuk Anak Tidak Sekolah

SKB & PKBM Lebih Siap Menangani ATS

Bapak Dr Samto sebagai Direktur PMPK (Pendidikan Masyarakat & Pendidikan Khusus), dalam sambutan pembukaan “Penanganan Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah dan Program Indonesia Pintar Pendidikan Kesetaraan” yang diselenggarakan oleh Direktorat PMPK, Dirjen PAUD Dikdas & Dikmen, Kemdikbud, dari tanggal 22-24 Oktober 2020 bertempat di Harris Hotel Sentraland, Semarang, salah satunya menyebutkan tentang tren bertambahnya ATS dari tahun ke tahun. Tahun ini meningkat 700ribu-an. Bisa jadi peningkatan jumlah ini karena pendataan yang lebih baik, tetapi juga bisa karena alasan lainnya.

Yang jelas, ATS ini menjadi perhatian serius pemerintah RI dan juga masyarakat internasional dalam SDGs.

Dan lembaga yang justru sangat siap untuk menangani ATS ini adalah sekolah non formal, SKB dan PKBM. Kehadiran peserta didik yang fleksibel, materi pelajaran yang juga tidak terlalu akademis, dan pendekatan yang dilakukan oleh lembaga non formal ini lebih mengena.

Sebagian besar Satuan Pendidikan Non Formal ini didirikan oleh para aktivis yang peduli dengan dunia pendidikan. Walau pendiriannya dengan upaya sendiri dan fasilitas seadanya, tetapi semangat untuk ikut menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia ini, justru tinggi.

ATS ini tidak sekedar masalah uang dan kurikulum, tetapi lebih ke masalah perhatian dan kepedulian.

Program Indonesia Pintar

Bantuan PIP (Program Indonesia Pintar) salah satunya adalah untuk mengatasi ATS (Anak Tidak Sekolah) dengan rentang umur usia sekolah (6 sampai 21 tahun). Untuk yang kurang dari 6 tahun atau lebih dari 21 tahun, maka tidak bisa diajukan sebagai penerima PIP.

Informasi dari ibu Tien Suryani, pencairan PIP untuk daerah merah dan oranye di masa pandemi, dilakukan secara kolektif oleh satuan pendidikan. Penggunaan PIP tidak fleksibel karena sudah ditanggulangi oleh bantuan lainnya seperti PKH dllnya. Tapi satuan pendidikan tidak boleh memotong PIP ini untuk membayar SPP, karena sudah ditanggung lewat BOP.

Tapi, tantangan terbesar saat ini justru bukan dari dana, tetapi adalah menarik anak yang sudah bekerja untuk kembali ke sekolah dengan pendidikan yang akademis.

Ada jurang pemisah antara anak yang terbiasa bekerja, dengan dunia akademis, apalagi kalau harus mengulang dari awal lagi. Anak yang sudah berusia 15 tahun, tidak akan pernah mau untuk kembali ke sekolah dari kelas 1 SD.

Padahal anak ini sudah pandai menulis dan mendapatkan penghasilan dari kegiatan sosial medianya sekarang. Kalau mengulang dari kelas 1 SD lagi, artinya dia justru turun derajatnya.

Sertifikat Keahlian

Bapak Dr Abdul Kahar, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kemdikbud RI, menceritakan usahanya dahulu bersama teman-teman Non Formal untuk memberikan sertifikat keahlian yang setara dengan kelas akademis. Misal, anak usia 15 tahun ini bisa setara kelas 3 SMP krn telah menghasilkan karya yang setara dengannya. Sebagai alternatif dari placement test, yang isinya juga masih terlalu akademis.

Tapi, ternyata usaha itu masih belum berhasil karena perlawanan dari pihak akademisi yang tetap mewajibkan ATS untuk melakukan placement test atau mulai dari awal lagi.

Asesmen Kompetensi Minimum

Pun begitu, usaha ini bisa terus dilakukan, dengan harapan Mas Menteri yang menggulirkan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Survei Karakter dan Survei Linkungan Belajar ini, selaras dengan sertifikat keahlian yang sesuai untuk menangani ATS.

Dapodik

Data PIP nantinya akan dipastikan diambil dari data lengkap di Dapodik. Sehingga hanya yang ditandai “bersedia menerima PIP” saja yang akan diajukan untuk mendapatkan bantuan. Pun begitu, untuk mendapatkan kevalidan data, ada beberapa saringan, seperti: sudah mempunyai NISN dan tidak terdaftar di sekolah lain (data ganda).

NISN

Masalah lain dari PIP adalah hanya diberikan bagi siswa yang telah mempunyai NISN. Secara sistem, mustinya maksimum setelah 3 bulan setelah terdaftar di dapodik, maka akan mendapatkan NISN. Tapi kenyataannya, sering ketika mendekati ujian, NISN baru diterbitkan. Dan ini tentu mengganggu program KIP. PMPK terus berupaya bekerjasama dengan Pusdatin untuk penerbitan NISN ini.

Gotong Royong di Proses ISO 21001:2018

ISO 9001:2000

Sebelumnya, telah dikenalkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 dalam dunia pendidikan. Dengan tujuan untuk menjamin dan memastikan mutu tamatan pendidikan sehingga bisa hidup mandiri, diserap di dunia usaha dan industri serta mampu bersaing secara global. Dan ini melampaui gambaran pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

Tapi, ISO 9001 (yang kemudian diperbarui menjadi ISO 9001:2008 dan ISO 9001:2015) ini sebenarnya dipergunakan dalam dunia usaha dan industri, untuk memastikan mutu produk mampu menjaga dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Yang tentunya tidak sesuai dengan hakikat mutu dunia pendidikan. Siswa bukanlah pelanggan. Siswa bukan obyek, siswa adalah subyek dari pembelajaran.

Mutu dalam dunia pendidikan berbicara mengenai nalar yang sehat, karakter yang baik, dan kehidupan sosial lingkungan sekitarnya, selain menguasai numerasi dan literasi itu sendiri. Penilaian mutunya lebih substansial dan kompleks, karena langsung berhubungan dengan manusia dalam konteks sosial, budaya, psikologis, dan bahkan politis-ideologis.

Nalarnya bukan memuaskan pelanggan, tetapi menumbuhkan manusia.

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Walau tidak berkaitan secara langsung dengan ISO 9001, tetapi keinginan untuk mengglobalisasikan pendidikan Indonesia terus bergulir. Dibuatlah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan tujuan supaya sekolah memenuhi standar nasional pendidikan dan juga internasional dengan diperkaya kriteria mutu yang berasal dari negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) atau negara maju lainnya.

Yang dalam pelaksanaannya lebih cenderung kepada peningkatan persaingan dalam dunia pendidikan, layaknya dunia industri. Muncul istilah sekolah unggulan untuk membedakan dengan sekolah biasa lainnya. Yang lagi-lagi tidak sejalan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yang lebih menekankan kepada kerjasama, gotong royong.

ISO 21001:2018

Di Juni 2018 muncullah ISO 21001:2018 yang fokus kepada proses interaksi antara organisasi pendidikan, pembelajar dan pihak lain yang berkepentingan. Lebih mementingkan proses, bukan produk. Sebuah standar sistem manajemen yang berdiri sendiri tanpa terkait dengan dunia industri lagi. Tetapi sejalan dengan standarisasi yang lain melalui aplikasi High Level Structure.

BSN (Badan Standardisasi Nasional) Indonesia mengadopsinya di bulan September 2019. Dan di tahun 2020 ini, gencar mengadakan sosialisasi di tingkat Perguruan Tinggi. KAN (Komite Akreditasi Nasional) sampai Oktober 2020 ini belum menetapkan lembaga mana yang bisa mengadakan sertifikasi ISO 21001 ini. Jadi ISO ini masih sebuah proses perjalanan dan akan mengalami perubahan-perubahan.

ISO 21001 ini melatih organisasi untuk meningkatkan sistem manajemennya secara berkelanjutan, memenuhi kebutuhan dan harapan pembelajar, memperhatikan anak berkebutuhan khusus.

Gotong Royong di Proses ISO 21001:2018

Dari sejarah awal pengenalan standar industri untuk dunia pendidikan (ISO 9001), sampai ISO yang khusus tentang organisasi pendidikan (ISO 21001), bisa kita lihat dinamika perubahan yang sangat cepat. BSN dan KAN pun masih dalam proses pengembangan dan belum final dalam menentukan lembaga mana saja yang mendapatkan ijin untuk memberikan sertifikasi ini.

Pun begitu, proses dalam ISO 21001 ini bagus untuk digunakan, seperti Plan Do Check Act untuk meningkatkan mutu pembelajaran di satuan pendidikan. Dan semangat gotong royong di PKBM Piwulang Becik sesuai dengan prinsip partisipatif di ISO 21001.

Pertemuan kami dengan mas Tegar dari BSN di hari Minggu 11 Oktober 2020 di Piwulang Becik, menambah semangat untuk mengimplementasikan standar proses yang bagus ini.

Mari kita kembangkan.

Gotong Royong di Komite Sekolah

Era Pemerintahan NKRI Setelah Kemerdekaan (1945 sampai 1966)

Sejak jaman kemerdekaan, masyarakat telah dilibatkan dalam dunia pendidikan NKRI. Dimulai dengan dibentuknya POMG (Perkumpulan Orangtua Murid dan Guru), berdasarkan UU Pendidikan No.12 Tahun 1945 Pasal 28. Bertujuan untuk memelihara hubungan yang erat antara orangtua murid, agar sekolah dapat hidup subur dan lebih sanggup memenuhi tugasnya sebagai tempat yang membentuk manusia yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Namun beberapa tahun kemudian, dalam pelaksanaannya diterpa isu bahwa guru-guru telah menyalahgunakan keuangan POMG, yang mengakibatkan terbentuknya POM (Perkumpulan Orangtua Murid) saja, tanpa guru.

Pemerintahan Masa Orde Baru (11 Maret 1966 hingga 1998)

Di era orde baru, POM diganti menjadi BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan) berdasar surat keputusan Nomor:17/1974, tanggal 20 Nopember 1974, yang ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri dan Menteri P&K. Bertujuan meningkatkan hubungan yang erat dan kerja sama serta tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah untuk menyempurnakan kegiatan pendidikan.

BP3 diperkuat dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0293/U/1993.

Sejarah pendidikan di era orde baru dipenuhi dengan berbagai kepentingan politik dan industri yang berbenturan dengan budaya kita sendiri. Apa yang tertulis pada sebuah kebijakan beserta jargonnya, terlihat bagus, tetapi dalam pelaksanaannya berbeda. Dan meskipun orde baru sudah tumbang, tetapi dampaknya masih berlanjut.

Pemerintahan Masa Reformasi (sejak 1998)

Di tahun 2000an, dikenalkan istilah MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang diadopsi dari negara maju. Dimana dalam penerapannya adalah dengan membentuk Komite Sekolah (KS).

Dasar hukum Komite Sekolah adalah Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), yang kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. tentang Dewan Pendidikan dan Komite sekolah. Pasal 1 butir (2) disebutkan bahwa;
“ Pada setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan dibentuk Komite Sekolah atas prakarsa masyarakat, satuan pendidikan, dan/atau pemerintah kabupaten/kota.”

Dan untuk sosialisasinya, dibuatlah iklan di televisi tentang Komite Sekolah ini. Tapi … peranan KS yang ditonjolkan adalah fungsi pengumpulan dana dari wali murid, seperti dana untuk mengganti genteng yang bocor dan tembok yang rusak. Dan dalam prakteknya, fungsi KS ini memang sering dipakai untuk penggalangan dana dari orang tua dalam mendukung kegiatan di sekolah.

Secara operasional, tugas dan wewenang Komite Sekolah, disebutkan:
a) Mendorong dan meningkatkan hubungan baik antara masyarakat, sekolah maupun pemerintah.
b) Membantu kelancaran kegiatan pendidikan dan tidak mencampuri urusan teknik pengajaran sekolah yang menjadi wewenang kepala sekolah, guru dan pengawas.
c) Mengusahakan bantuan dari masyarakat, baik berupa benda, uang maupun jasa dengan tidak menambah beban wajib bayar.
d) Memberikan perimbangan kepala sekolah dan kepada perwakilan Depdikbud tentang permohonan keringanan atas permohonan wajib bayar.

Padahal, di negara maju, peran Komite Sekolah adalah untuk mendorong terjadinya demokratisasi penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah, seperti pemilihan kepala sekolah, penentuan seragam sekolah, kurikulum, buku pelajaran, dan tata tertib di sekolah.

MBS dan KS ini sebenarnya telah mendapatkan payung hukum yang kuat di UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas/SPN). Pasal 1 butir 25 menyebutkan bahwa;“Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali, peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan”.

Dimana dalam Pasal 54, mengatur tentang partisipasi masyarakat :
1. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
2. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

Secara regulasi, bahkan ada tiga yang terkait Komite Sekolah, yaitu:
1. Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
2. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Anggota Komite Sekolah

Keanggotaan Komite Sekolah sesuai PP Nomor 17 Tahun 2010, pasal 197, diatur sebagai berikut:
Anggota komite sekolah/madrasah berjumlah paling banyak 15 (lima belas) orang, terdiri atas unsur:
1. Orang tua/wali peserta didik paling banyak 50%.
Catatan: orang tua/wali peserta didik yang dimaksud adalah yang anaknya masih aktif bersekolah di sekolah yang bersangkutan.
2. Tokoh masyarakat paling banyak 30%.
Catatan: tokoh masyarakat yang dimaksud adalah tokoh formal dan informal yang ada di lingkungan sekolah, diantaranya: tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah setempat (RT, RW, Lurah, Camat, dan pihak terkait lainnya) serta alumni.
3. Pakar pendidikan yang relevan paling banyak 30%.
Catatan: pakar pendidikan yang dimaksud adalah tokoh/pegiat yang memiliki keahlian dan kepedulian terhadap pendidikan. Unsur ini bisa berasal dari perguruan tinggi, organisasi profesi tenaga kependidikan, LSM, dunia usaha/industri.

Masa jabatan keanggotaan komite sekolah/madrasah adalah 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

Peran Komite Sekolah

Sedangkan peran KS, lebih kurang adalah sebagai berikut:
1. Fasilitator
Menerima masukan dari orangtua, menggali keterangan lebih lanjut, menyimpulkan pendapat mereka, dan membuat program yang melayani kebutuhan tersebut.

2. Katalisator
Yang menyebabkan dan mempercepat terjadinya perubahan ke arah lebih baik.

3. Komunikator
Menyampaikan pesan kepada seluruh orangtua siswa, dan juga memberikan respons dan tanggapan, serta menjawab pertanyaan dan masukan yang disampaikan oleh orangtua, sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman bersama dengan warga sekolah.

4. Inspirator
Memberi inspirasi dan sumber yang menggerakkan seluruh warga untuk terus bersemangat dalam mengembangkan dunia pendidikan dan memberi layanan terbaik, pada situasi yang menyenangkan, maupun dalam situasi sulit.

Semangat Gotong Royong di Komite Sekolah

Dari sejarah di atas, kita bisa membaca bahwa ada jurang perbedaan yang mencolok antara kebijakan dan pelaksanaan. Dalam pelaksanaannya, ada dua kubu ekstrim: KS dijadikan alat pembenaran kebijakan sekolah yang buruk, di lain pihak terjadi tuntutan yang berlebihan dari pihak orangtua terhadap sekolah.

Mari kita kembalikan fungsi KS kepada fungsi asli bangsa kita: gotong royong. Dengan semangat gotong royong, kita selalu menghindari saling menuntut, karena yang ada adalah saling meringankan. Dalam gotong royong juga tidak saling memanfaatkan secara negatif, tetapi saling membantu untuk menyelesaikan masalah.

Dengan gotong royong, juga tidak saja berkutat dengan lingkungannya sendiri, tetapi juga lingkungan sekitarnya. Misal ikut serta mengentaskan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Mari kita sikapi keberadaan KS ini dengan positif, demi kemajuan pendidikan anak bangsa kita sendiri.

catatan:
Beberapa kutipan diambil dari buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan”, tahun 2014, yang ditulis oleh Darmaningtyas, Edi Subkhan dan Fahmi Panimbang.

Mengkultuskan Ujian dan Ijazah ?

“Ki Hajar ternyata pernah mengkritik pendidikan nasional kita. Ini sebenarnya kita sudah merespons dalam Merdeka Belajar, kita coba untuk memindahkan fokus dari Ujian Nasional yang berbasis kepada mapel, kepada Asesmen Kompetensi Minimum yang sifatnya literasi, numerasi, karakter. Sifatnya lintas mapel dan fleksibel,”

Demikian ungkap Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril pada webinar bertema “Kebijakan Pendidikan terkait Guru dan Tenaga Kependidikan” yang diselenggarakan oleh Pusdatin Kemendikbud, Selasa (15/9/2020).

Dan beliau memandang apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara berikut, layak untuk dijadikan bahan refleksi tentang kondisi saat ini.

“Ini pesan Ki Hajar di tahun 1956 dan saya rasa ini masih relevan untuk kita berefleksi apakah kita sudah bergerak dari sini atau masih tergerak dalam cara berpikir yang mengultuskan ujian dan tidak menumbuhkembangkan secara holistik. Jadi ini sebenarnya sudah lama diingatkan oleh bapak pendidikan kita,”

Ki Hajar pernah melakukan kritik terhadap pendidikan Indonesia melalui pernyataannya pada tahun 1956:

“Kita lihat di zaman sekarang masih terpakainya bentuk-bentuk rumah sekolah, daftar-daftar pelajaran yang tidak memberi cukup semangat mencari ilmu pengetahuan sendiri, karena tiap-tiap hari, tiap-tiap tri wulan, tiap-tiap tahun, pelajar-pelajar kita terus menerus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam school raport-nya atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini sebaiknyalah kita para pemimpin perguruan, bersama-sama dengan Kementerian P.P. dan K, mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit examen cultus dan diploma jacht itu.

Examen cultus berarti mengultuskan ujian. Sedangkan diploma jacht berarti mengejar-ngejar ijazah.

referensi:
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/memberantas-penyakit-yang-mengultuskan-ujian (17 September 2020)

Paket A Mulai Kelas 1 atau 4 ?

Paket A dimulai dari awal Tingkatan 1 (Kelas I).
Calon peserta didik bisa langsung ke Tingkatan 2 (Kelas IV) jika memiliki satu dari dua hal ini:
– sertifikat SUKMA Lanjutan (Surat Keterangan Melek Aksara Lanjutan), atau
– memiliki rapor kelas III semester genap SD/MI

Untuk diketahui, pembagian Tingkat dan Kelas saat ini adalah sebagai berikut:
– Tingkat 1 (Kelas I – III) – SD
– Tingkat 2 (Kelas IV – VI) – SD
– Tingkat 3 (Kelas VII – VIII) – SMP
– Tingkat 4 (Kelas IX) – SMP
– Tingkat 5 (Kelas X) – SMA
– Tingkat 6 (Kelas XI – XII) – SMA

Pembelajaran di Tingkat 1 (Kelas I – III)

Hakekat muatan kurikulum Tingkat 1 adalah : membaca, menulis dan berhitung (calistung). Tingkatan 1 lebih membutuhkan bahan ajar dengan pendekatan tematik, bukan mata pelajaran. Karena peserta didik (dalam usia sekolah) di tingkat 1 ini belum bisa membaca dan belajar secara mandiri.

Bahan ajar tematik ini berdasarkan silabus atau kompetensi dasar yang sudah diterbitkan oleh Kemendikbud. Bahan ajar ini bisa sangat berbeda antar wilayah, sesuai dengan kondisi dna lingkungan wilayahnya sendiri-sendiri.

referensi:
https://fauziep.com/tingkatan-1-tidak-ada-modul-kenapa/ (4 September 2020)

catatan:
Pbx sudah mencoba, tetapi belum mendapatkan kepastian apakah ujian utk mendapatkan sertifikat SUKMA ini bisa dikerjakan secara daring atau tdk, di era wabah corona ini. Mengingat saat ini banyak anak HS yg tdk pernah bersekolah sama sekali dan ketika menginjak usia 10 tahun, ingin langsung masuk kelas 4 SD (Tingkat 2). Dimana kebanyakan mereka belajarnya di https://www.ixl.com/ atau situs online lainnya, dengan hasil nilai yang bagus kalau dinilai dari *kemampuan calistung* nya.