Banyak orang tua mendapati anaknya mampu berbicara lancar di rumah. Anak dapat menjelaskan pendapat, mengajukan pertanyaan kritis, bahkan berdiskusi panjang dengan penuh antusias. Namun ketika berada di sekolah, anak yang sama justru terlihat pendiam, jarang mengangkat tangan, dan memilih diam di kelas. Perbedaan ini sering dianggap sebagai masalah kepercayaan diri atau kurangnya kemampuan sosial.
Padahal, kemampuan anak sebenarnya tidak berubah. Yang berubah adalah situasi dan rasa aman yang dirasakan anak di ruang belajar tersebut. Dalam psikologi pendidikan, terdapat konsep psychological safety, yaitu kondisi ketika seseorang merasa aman secara emosional untuk berbicara, bertanya, dan mencoba tanpa takut disalahkan, dipermalukan, atau dibandingkan.
Di lingkungan belajar yang menuntut kecepatan, jawaban benar, dan konsistensi performa, sebagian anak menjadi sangat berhati-hati. Mereka menimbang risiko sebelum berbicara. Anak mungkin sudah memahami materi, tetapi memilih diam karena khawatir salah, ditertawakan, atau dianggap mengganggu. Dalam kondisi ini, diam bukan tanda tidak paham, melainkan strategi bertahan.
Hal ini sering terlihat dalam proses pendampingan di Piwulang Becik. Tidak sedikit anak yang pada awalnya tampak pasif, jarang bertanya, dan memilih mengamati. Namun seiring waktu, ketika mereka menyadari bahwa kesalahan tidak langsung dikoreksi dengan nada menghakimi dan pendapat dihargai sebagai bagian dari proses belajar, keberanian mulai muncul. Anak perlahan berani menyampaikan pikirannya dengan cara yang lebih percaya diri.
Pendekatan belajar di PBx menempatkan relasi dan rasa aman sebagai fondasi utama. Anak tidak dipaksa untuk langsung aktif, tetapi diberi ruang untuk bertumbuh sesuai ritmenya. Diskusi dilakukan dalam kelompok kecil, pendamping memberi waktu bagi anak untuk berpikir, dan proses belajar diarahkan sebagai dialog, bukan ajang unjuk kemampuan.
Lingkungan yang aman secara emosional membantu anak menyadari bahwa berbicara bukan ancaman. Ketika anak merasa diterima, kemampuan berpikir yang selama ini hanya terlihat di rumah mulai muncul di ruang belajar. Dari sinilah partisipasi, kepercayaan diri, dan potensi akademik berkembang secara lebih utuh.
Memahami mengapa anak pintar di rumah tetapi diam di sekolah membantu kita menggeser fokus dari “anaknya kenapa” menjadi “ruangnya bagaimana”. Karena kemampuan anak berkembang paling baik bukan hanya di tempat yang menuntut hasil, tetapi di tempat yang memberi rasa aman untuk mencoba dan bertumbuh.



