Kenapa Remaja Mudah Merasa Tertinggal dari Orang Lain

Ketika Remaja Mudah Merasa Tertinggal dari Orang Lain

Perasaan tertinggal sering muncul secara halus. Tidak selalu diawali oleh kegagalan atau kesalahan besar. Terkadang cukup dengan melihat unggahan teman, mendengar cerita pencapaian orang lain, atau menyadari bahwa seseorang sudah memiliki rencana masa depan yang tampak jelas. Dari situ, muncul perbandingan yang diam-diam mengubah cara kita memandang diri sendiri.


Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO adalah rasa cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari tren, pengalaman, atau momen menyenangkan yang dialami orang lain. Pada masa remaja, kebutuhan untuk merasa terhubung dan relevan berada pada titik yang cukup tinggi. Identitas sedang dibentuk, posisi sosial sedang dicari, dan pengakuan terasa penting. Dalam fase ini, perbandingan menjadi jauh lebih sensitif.


Media sosial memperkuat mekanisme tersebut. Yang terlihat di layar adalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Kelulusan, prestasi, perjalanan, momen kebersamaan. Yang jarang terlihat adalah proses panjang, kegagalan, kebingungan, atau keraguan yang menyertainya. Otak kita cenderung menyusun cerita dari potongan-potongan itu dan menyimpulkan bahwa orang lain selalu berada satu langkah di depan.


Padahal perbandingan yang terjadi sering kali tidak setara. Kita membandingkan proses pribadi yang penuh detail dan keraguan dengan hasil akhir orang lain yang sudah diseleksi. Kita melihat pencapaian mereka, tetapi merasakan perjuangan kita sendiri. Ketidakseimbangan inilah yang membuat perasaan tertinggal terasa begitu nyata.


Dampaknya tidak sederhana. Remaja bisa mulai meragukan kemampuannya, merasa kurang cukup, atau terburu-buru mengambil keputusan hanya agar terlihat tidak tertinggal. Pilihan jurusan, kegiatan, bahkan pertemanan kadang dipengaruhi oleh dorongan untuk mengejar ketertinggalan yang sebenarnya belum tentu nyata.


Mengelola FOMO bukan berarti menolak perkembangan zaman atau menutup diri dari lingkungan sosial. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki ritme pertumbuhan yang berbeda. Ada yang menemukan minatnya sejak awal, ada yang membutuhkan waktu mencoba berbagai hal sebelum merasa cocok. Keduanya bukan lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda fase.


Salah satu pendekatan yang mulai banyak dibicarakan adalah Joy of Missing Out atau JOMO. Konsep ini mengajak seseorang untuk merasa tenang ketika melewatkan sesuatu yang tidak selaras dengan kebutuhan atau tujuan pribadinya. Bukan karena tidak mampu mengikuti, melainkan karena memilih dengan sadar. Dalam JOMO, fokus bergeser dari apa yang dilakukan orang lain ke apa yang bermakna bagi diri sendiri.


Bagi remaja, ini berarti belajar mengenali arah pribadi tanpa terlalu sering mengukur langkah dengan standar orang lain. Bagi orang tua, ini berarti membantu anak memahami bahwa perjalanan hidup tidak selalu seragam dan tidak harus berjalan serentak.


Pada akhirnya, merasa tertinggal sering kali bukan tentang jarak yang sebenarnya, melainkan tentang cara kita melihat posisi sendiri. Ketika perbandingan dikurangi dan fokus dialihkan pada pertumbuhan pribadi, arah menjadi lebih jelas dan langkah terasa lebih stabil.


Karena hidup bukan perlombaan siapa yang sampai lebih dulu, melainkan proses memahami ke mana kita benar-benar ingin menuju.




Ingin menjadi versi terbaik dari dirimu?

Bergabunglah dengan komunitas kami dan dapatkan akses ke berbagai sumber daya yang akan membantumu mencapai tujuanmu.