Mengapa Pilihan Finansial Remaja Jarang Rasional

Remaja sering dianggap boros ketika uang saku cepat habis, seolah-olah mereka tidak mampu mengendalikan diri atau tidak berpikir panjang. Setiap jajan kecil, setiap pembelian impulsif, dan setiap keputusan keuangan yang terasa terburu-buru kerap dilihat sebagai bukti kurangnya kedewasaan. Namun, cara pandang ini sering melewatkan satu hal penting: pilihan finansial remaja tidak selalu berangkat dari niat buruk, melainkan dari cara otak mereka bekerja.


Dalam ilmu perilaku, terdapat konsep yang disebut present bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan kesenangan yang dirasakan saat ini dibandingkan dampak yang akan muncul di masa depan. Pada remaja, bias ini bekerja lebih kuat karena bagian otak yang mengatur pertimbangan jangka panjang masih berkembang. Ketika uang saku digunakan untuk sesuatu yang langsung terasa menyenangkan, otak memberi sinyal kepuasan cepat, sementara konsekuensi jangka panjang belum terasa nyata.


Kondisi inilah yang membuat uang remaja sering habis tanpa disadari. Bukan karena mereka tidak memahami nilai uang, tetapi karena otak secara alami lebih peka terhadap manfaat yang bisa dirasakan sekarang. Pilihan yang tampak sederhana membeli sesuatu yang disukai hari ini sering terasa lebih masuk akal dibandingkan menabung untuk kebutuhan yang masih jauh dan abstrak. Dalam situasi ini, keputusan finansial lebih dipandu oleh dorongan sesaat daripada pertimbangan rasional.


Hal serupa terjadi ketika utang kecil, seperti paylater atau cicilan ringan, terasa aman bagi remaja. Manfaatnya langsung dirasakan, sementara dampaknya seolah berada di masa depan yang jauh. Cicilan yang tampak kecil dan ringan sering diambil tanpa rasa khawatir, hingga akhirnya menumpuk perlahan. Sekali lagi, ini bukan soal kecerdasan, melainkan tentang cara otak menilai waktu “sekarang” terasa jauh lebih penting daripada “nanti”.


Memahami hal ini membantu kita berhenti melabeli remaja sebagai tidak bijak atau ceroboh. Yang mereka butuhkan bukan sekadar nasihat keras, melainkan pemahaman tentang bagaimana keputusan keuangan bekerja di dalam pikiran mereka sendiri. Di sinilah literasi keuangan berperan, bukan sebagai larangan, tetapi sebagai alat kesadaran.

Literasi keuangan membantu remaja mengenali dorongan impulsif dan memberi jarak sebelum mengambil keputusan. Dengan memahami bahwa setiap pilihan memiliki dampak jangka panjang, remaja belajar untuk berhenti sejenak, menimbang, dan tidak langsung mengikuti dorongan sesaat. Uang tidak lagi dikelola hanya berdasarkan rasa ingin, tetapi melalui pertimbangan yang lebih sadar dan terarah.


Pada akhirnya, keputusan finansial yang lebih rasional bukan tentang menekan keinginan, melainkan tentang mengenali cara kerja diri sendiri. Ketika remaja dibekali pemahaman, bukan penghakiman, proses belajar mengelola uang dapat menjadi bagian dari pertumbuhan bukan sumber rasa bersalah, tetapi latihan menuju kemandirian yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Ingin menjadi versi terbaik dari dirimu?

Bergabunglah dengan komunitas kami dan dapatkan akses ke berbagai sumber daya yang akan membantumu mencapai tujuanmu.