Remaja dan Dorongan untuk Dianggap Mampu
Di balik keinginan membuktikan diri, ada kebutuhan untuk dipercaya. Pada masa remaja, keinginan untuk menunjukkan kemampuan sering terlihat kuat. Remaja ingin dianggap mampu, ingin diberi tanggung jawab, dan ingin dilihat sebagai individu yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang tua. Dari luar, dorongan ini kadang tampak seperti ingin menantang atau melawan. Namun di baliknya, ada kebutuhan yang lebih mendasar, yaitu kebutuhan untuk dipercaya.
Dalam psikologi dikenal konsep self-efficacy. Self-efficacy adalah keyakinan seseorang bahwa ia mampu melakukan dan menyelesaikan sesuatu. Keyakinan ini tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk dari pengalaman, dari keberhasilan kecil yang diakui, serta dari respons lingkungan terhadap usaha yang dilakukan. Pada remaja, self-efficacy masih berkembang. Ia bisa menguat, tetapi juga mudah goyah.
Ketika usaha remaja lebih sering dikoreksi daripada diakui, pesan yang tertangkap bukan semata tentang perbaikan. Yang lebih kuat terasa adalah keraguan terhadap kemampuannya. Jika setiap langkah disertai pengawasan yang ketat dan penekanan pada kesalahan, remaja bisa mulai meragukan dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, dorongan untuk dianggap mampu kadang muncul dalam bentuk sikap defensif atau keras kepala. Sikap tersebut bukan selalu bentuk pembangkangan, melainkan cara untuk mempertahankan harga diri.
Memahami self-efficacy membantu kita melihat bahwa kepercayaan yang konsisten memiliki dampak besar. Ketika remaja diberi ruang untuk mencoba dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan, keyakinan dirinya tumbuh secara bertahap. Pengawasan tetap penting, tetapi tidak perlu mendominasi setiap proses.
Kepercayaan yang diberikan dengan batas yang jelas membantu remaja belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Ia merasa dihargai sebagai individu yang sedang bertumbuh, bukan sekadar diawasi agar tidak salah. Dalam jangka panjang, rasa dipercaya ini lebih efektif membangun kemandirian dibandingkan kontrol yang terus-menerus.


