Ki Hadjar Dewantara

Nama kecilnya adalah Raden Mas Suwardi Surjaningrat, (lahir 2 Mei 1889, wafat 26 April 1959 di Yogyakarta). Pendiri Taman Siswa di bulan Juli 1922, sebuah jaringan sekolah yang meluas dan berpengaruh, dimana sangat menggalakkan modernisasi tetapi tetap berpijak kepada kearifan lokal dan budaya Indonesia.

Semboyan Tut Wuri Handayani yang berasal dari tradisi Jawa, digaungkan lagi oleh Ki Hadjar Dewantara. Menjadi masyhur dan kemudian dijadikan slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN DI TAMAN SISWA

Pengajaran dan pendidikannya menekankan kepada budaya kehidupan tradisional Jawa. Tetapi pengetahuan dari dunia Timur dan Barat dikenalkan juga, diajarkan untuk membantu siswanya menghadapi tantangan dunia modern pada jaman itu. Maka tidak heran jika pemikiran dari pujangga besar India Rabindranath Tagore, yang pernah mengunjungi pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927 dan Maria Montessori dari Italia, yang sempat berkunjung ke Taman Siswa tahun 1941, telah dikenal dengan baik.

Ki Hadjar Dewantara mengagumi ide Montessori yang membongkar dunia pendidikan lama kemudian membangun aliran baru. Montessori membangun perkembangan psikologis, kehidupan jasmani anak-anak, menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya. Tetapi Taman Siswa dikembangkan lebih dari itu, yang mengutamakan perkembangan batin anak-anak, mengajarkan anak untuk mengenal penciptaNya.

Ki Hajar mengatakan pendidikan yang “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, yang menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”

Sementara itu, sistem pendidikan Tagore menjadikan anak sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan terutama dalam religiusitas, tetapi kurang memperhatikan masalah kognitif dan psikologis.

Taman Siswa mengembangkan sistem pendidikan tradisi Jawa – yang bisa jadi – telah mencakup ide dari sistem Montessori dan Tagore.

PENDIDIKAN YANG BERDAMPAK SOSIAL

Baginya, pendidikan tidak hanya berdampak kepada pribadi pembelajar saja, tetapi juga kepada masyarakat luas. Kepedulian kepada keadaan sekitarnya yang terjajah, membangkitkannya untuk aktif dalam perjuangan melawan ketidakadilan tersebut. Selain aktif di organisasi Sarekat Islam, bersama Douwes Dekker (Dr Danudirdja Setyabudhi) dan dr Cipto Mangoenkoesoemo, mereka mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara memprotes perayaan 100 tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Tulisannya di surat kabar De Expres pada 13 Juli 1913, yang diterbitkan oleh the Indische Partij, berjudul “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) sangat mengena dan kritikan pedasnya menggema:

“Sekiranya aku adalah seorang Belanda, aku tak akan membuat pesta kemerdekaan di negeri yang telah kurampas sendiri kemerdekaan mereka. Sejalan dengan pikiran tersebut, bukan saja tak adil, tapi juga tak pantas untuk menyuruh para inlander memberi sumbangan untuk dana pesta tersebut. Ide pesta itu saja sudah menghina mereka sendiri, dan sekarang kita rampok pula kantong mereka. Teruskan saja penghinaan itu! Andai saja aku seorang Belanda, hal yang paling menyinggung perasaanku dan kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa pribumi diharuskan ikut membayar pesta yang mereka tidak punya kepentingan apapun bagi mereka!”.

Karena tulisan ini, dia diasingkan ke Belanda pada tahun 1913 dan baru dipulangkan ke Indonesia pada September 1919.

Dengan jasa-jasanya yang besar ini, maka pemerintah RI menetapkan hari kelahirannya, 2 Mei, sebagai Hari Pendidikan Nasional.

PEJUANG KEMERDEKAAN

Menariknya, di Iran, tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Guru, untuk mengenang jasa besar Murtadha Muthahari seorang pejuang pendidikan dan melawan kediktatoran. Beliau dibunuh oleh kelompok Furqan yang anti Revolusi pada tanggal 1 Mei 1979. Kalau Ki Hajar Dewantara memprotes perayaan 100 tahun bebasnya negeri Belanda, Murtadha Muthahari dijebloskan ke penjara oleh rezim saat itu karena menentang perayaan mewah memperingati 2500 imperium Persia ditengah-tengah kemiskinan dan kemelaratan rakyat Iran.

Keduanya dikenang sebagai Penegak Keadilan ; bapak pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *