Jangan Menyamakan Cara Belajar Anak, Simak Gaya-Gaya Belajar Yang Tak Banyak Orang Paham

Jangan Menyamakan Cara Belajar Anak, Simak Gaya-Gaya Belajar Yang Tak Banyak Orang Paham

Apakah anda termasuk orangtua yang memarahi anak saat ia menonton video animasi di YouTube padahal sudah waktunya belajar? Jika iya, cobalah tahan emosi Anda sejenak. Cobalah duduk di samping anak, kemudian tunggu sampai videonya berakhir. Jika sudah, tanyakan pada anak apa yang mereka tonton barusan, mintalah mereka agar menceritakan ulang apa saja yang terjadi dalam video animasi tersebut. Jika anak ternyata menjelaskan dengan baik tentang apa yang mereka tonton, bisa jadi menonton video adalah cara belajarnya.

Jangan Menyamakan Cara Belajar Anak, Simak Gaya-Gaya Belajar Yang Tak Banyak Orang Paham

Contoh di atas hanya sebuah ilustrasi yang mungkin sering terjadi di sekitar kita. Sampai saat ini masih banyak orangtua yang belum memahami jika ternyata gaya belajar setiap anak itu berbeda. Sehingga jika sebuah kelompok belajar hanya menggunakan satu metode pengajaran saja, maka sangat memungkinkan bagi beberapa anak untuk tertinggal materi. Ini belum tentu karena anak tersebut tidak memperhatikan si pengajarnya,  bisa jadi anak-anak tersebut kurang cocok dengan metode belajar yang disampaikan oleh pengajar.

Tak banyak orang yang tahu jika ada beberapa jenis gaya belajar yang dimiliki setiap anak ataupun orang dewasa. Sayangnya, masih banyak orang yang tak menyadari itu, padahal dengan memahami gaya belajarnya maka seseorang akan lebih cakap dalam memperluas pengetahuan. Untuk itu, pahami beberapa gaya belajar yang ada di bawah ini.

Gaya belajar visual

Gaya belajar ini berfokus pada penglihatan, saat anak mendapatkan materi baru mereka umumnya melihat secara visual terlebih dahulu agar memahami materi tersebut. Gaya belajar visual umumnya berkaitan dengan gambar, akan tetapi tak menutup kemungkinan jika mereka nyaman belajar dengan penggunaan warna-warna, garis, ataupun bentuk. Hal ini, membuat anak yang memiliki gaya belajar visual lebih cepat memahami nilai-nilai artistik. Untuk mengatahui apakah anak termasuk orang yang memiliki gaya belajar visual berikut ciri-cirinya:

  1. Lebih mudah mengingat apa yang dilihatnya dibanding didengarkan
  2. Lebih suka membaca dibanding dibacakan
  3. Berbicara dengan tempo yang cepat
  4. Cukup memperhatikan penampilannya
  5. Sulit menerima instruksi secara verbal, cenderung memahami peringatan yang tertulis
  6. Suka menggambar apapun di kertas atau buku

Jika anak Anda termasuk dalah gaya belajar ini, maka anda bisa menjadikan media video dan gambar yang menarik agar anak cepat belajar hal baru. Berikan buku yang bukan hanya berisi tekst saja, berikan buku yang terdapat ilustrasi, jika perlu sediakan pridol warna-warni untuk membuat catatan anak.

Gaya belajar auditori

Gaya belajar auditori mengandalkan indera pendengaran untuk menerima berbagai sumber informasi dan pengetahuan. Anak dengan gaya belajar ini tidak mempermasalahkan tampilan visual saat mengajar, yang terpenting dia dapat mendengarkan apa yang orang lain jelaskan padanya dengan baik. Sehingga, anak yang memiliki gaya belajar ini cenderung peka dan hafal setiap perkataan yang didengarnya. Adapun ciri-ciri yang menandakan jika anak memiliki gaya belajar auditori:

  1. Senang mendengarkan
  2. Mudah terdistraksi dengan keramaian
  3. Kesulitan saat memahami hal baru yang melibatkan visual
  4. Pandai meniru nada atau irama suara
  5. Senang membaca dengan mengeluarkan suara atau menggerakkan bibir saja
  6. Fasih berbicara
  7. Mudah mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru

Jika anak anda memiliki ciri-ciri di atas, maka untuk mendukung proses belajarnya anda bisa menyetel musik relaksasi saat belajar, merekam pengajar kemudian didengarkan kembali, biarkan anak membaca buku dengan bersuara. Serta ajak anak untuk berdiskusi dengan temannya akan lebih mudah memahami dan mengingat materi.

Gaya belajar kinestetik

Gaya belajar yang terakhir adalah gaya belajar yang melibatkan gerakan tubuh. Biasanya anak yang memiliki gaya belajar ini cenderung mempelajari dengan mempraktikannya. Misalnya, anak bukan hanya sekadar membaya namun ia juga menggerakan tangan atau kakinya untuk memperjelas apa yang dibacanya. Selain itu, dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari mereka akan memperoleh pengalaman tersendiri. Sehingga anak yang memiliki gaya belajar ini termasuk anak yang susah diam. Adapun ciri-ciri yang dimiliki:

  1. Lebih suka belajar secara praktik
  2. Kedulitan untuk menulis namun pandai bercerita
  3. Menyukai aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh seperti olahraga atau menari
  4. Dapat berkomunikasi dengan isyarat tubuh
  5. Menghafal dengan cara berjalan

Jika anak anda memiliki ciri-ciri di atas, maka sebagai orangtua yang perlu dilakukan ajaklah anak untuk mempraktikan apa yang mereka pelajari. Biarkan anak bereksperimen dari materi yang dia peroleh, ajak anak untuk mengunjungi tempat wisata edukasi bisa museum, pusat kebudayaan, agrowisata berkebun dan lain sebagainya.

Dengan memahami gaya belajar anak, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima materi baru atau mengasah kemampuan yang dimiliki. Sayangnya, masih banyak orangtua yang belum peka dengan gaya belajar anaknya. Untuk itu, orangtua harus membangun kedekatan yang baik dengan anak serta menjadi pihak pendamping selama proses belajar mereka. Semoga artikel ini bermanfaat.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

Makna Dari “Tut Wuri Handayani” Dan Bagaimana Penerapannya

Makna Dari “Tut Wuri Handayani” Dan Bagaimana Penerapannya

Seberapa sering anda mendengarkan istilah “Tut Wuri Handayani”? sudah cukup sering pastinya. Istilah ini dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara yang memuat nilai-nilai pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Adapun penggalan dari istilah yang kini menjadi semboyan pendidikan di Indonesia yakni Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Kurso, Tut Wuri Handayani.

 

Meski sering diperdengarkan, namun ternyata tak banyak orang tahu betul makna dari semboyan Tut Wuri Handayani. Untuk itu, akan lebih baik jika kita mengetahui bersama makna dari semboyan tersebut terlebih dahulu. Penjelasannya sebagai berikut ini.

Arti dari Tut Wuri Handayani

Secara sederhana makna dari semboyan Tut Wuri Handayani adalah sebagai seorang pendidik, guru harus memberikan teladan, dorongan, dan arahan. Adapun kedua penggalan lain yakni Ing Madya Mangun Karsa yang mengartikan di tengah semangat membimbing, memotivasi, memberikan semangat, dan menciptakan kondisi pembelajaran yang mendukung dan kondusif.

Sedangkapn pada penggalan kalimat pertama, Ing Ngarsa Sung Tulada berarti di depan, seorang pendidik mampu memberikan contoh tindakan yang baik dan bermoral.

Banyak orang yang hanya sekadar membaca kemudian melupakan semboyan pendidikan ini. Padalah istilah Tut Wuri Handayani menyiratkan prinsip kepemimpinan. Dimana sosok  guru atau pengajar menjadi cerminan bagi peserta didiknya, bukan hanya itu saja dalam dunia pendidikan ada hal lain yang harus dicukupi agar proses belajar seseorang tercukupi yakni kebutuhan batin dan kebutuhan meteril. Kebutuhan batin bisa berupa semangat dan sifat mendukung. Kebutuhan materil berupa lingkungan belajar yang kondusif. Tentu hal ini tidak akan berjalan dengan baik jika hanya guru/pengajar saja yang menjalankan, perlu pihak lain yang turut menyukseskan pendidikan seseorang, terutama orangtua.

Sejarah dari Tut Wuri Handayani

Membahas tentang semboyan Tut Wuri Handayani, tentu kita perlu melihat bagaimana sejarahnya di masa lalu. Semboyan pendidikan tersebut tentu berkaitan erat dengan sosok Ki Hajar Dewantara, beliau adalah pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Pada masa itu, Ki Hajar Dewantara mencetuskan Tut Wuri Handayani yang terdapat pada 7 pasal asa pendidikan di Taman Siswa. Yang mana hal ini menjadi wujud perjuangan beliau dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda sekaligus mempertahankan kelangsungan hidup dan sifat nasionalisme. Semangat mengajar Ki Hajar Dewantara tercermin dari keputusan beliau mengganti nama gelar kebangsawanan dari Raden Mas Soewardi Soerjanignrat,dan mengajar murid-muridnya secara ikhlas dan tanpa membeda-bedakan.

Selain itu, sejarah juga mencatat jika Ki Hajar Dewantara menjadi Menteri Pendidikan Pertama Indonesia. Sehingga untuk mengenang jasa-jasa beliau ditetapkan pada Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959 tanggal 28 November 1959 perihal penetapan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, sesuai dengan tanggal lagi Ki Hajar Dewantara.

Lalu bagaimana dengan penerapan Tut Wuri Handayani?

Terkadang cukup sulit mengamalkan sesuatu setelah kita memahami maknanya, akan tetapi hal ini bukan berarti kita menjadikan Tut Wuri Handayani hanya sebagai semboyan pendidikan saja. Ada banyak tindakan yang mencerminkan semangat Tut Wuri Handayani, sebagai contoh:

1.      Ing Ngarso Sung Tulodo

Penerapannya bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari, sebagai guru/pengajar dapat mengajarkan peserta didiknya dengan metode ceramah atau memberikan nnasihat, mereka harus tahu jika ilmu-ilmu yang diterima adalah hal yang baik dan bermanfaat.

2.      Ing Madyo Mangun Karso

Hal ini dapat tercermin dari kegiatan belajar mengajar dengan metode diskusi. Sebagai pendidik, guru/pengajar diharapkan memberikan masukan atau arahan yang relevan dan berguna bagi anak/peserta didiknya.

3.      Tut Wuri Handayani

Pelaksanaannya bisa berupa proses mengamati, mengikuti, dan mengarahkan anak dari belakang saat mereka mengimplementasi apa yang telah dipelajarinya.

Meskipun Semboyan Tut Wuri Handayani sangat kental dengan kegiatan belajar di sekolah. Akan tetapi, bukan berati semangat mengajar hanya dibebankan pada guru. Ingat, “semua orangtua adalah guru” yang berarti semboyan tersebut juga bisa diberlakukan dimana saja, di rumah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Semoga semangat belajar selalu tertanam pada diri kita semua.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

4 Karakter Yang Harus Ditanamkan Pada Anak Sedari Dini

4 Karakter Yang Harus Ditanamkan Pada Anak Sedari Dini

Pendidikan Karakter merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi anak-anak. Pendidikan karakter bukan hanya sekadar pengenalan anak terhadap diri mereka, namun pendidikan karakter juga membantu anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan hampir semua lembaga pendidikan di dunia, mementingkan unsur pendidikan karakter dalam setiap kegiatan yang dilakukan sang anak. Apalagi jika lembaga pendidikan tersebut berbasis ajaran-ajaran agama, dimana kecerdasan spiritual dijunjung tinggi. Lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan umumnya bukan hanya mementingkan aspek akademis saja, mereka juga membentuk perilaku anak, dan menanamkan karakter keagamaan secara praktek.

 

Sebenarnya pendidikan karakter bisa dilakukan mulai dari hal yang paling kecil, contohnya saja membiasakan anak untuk pamit sebelum pergi entah belajar atau bermain dengan temannya, atau mengucapkan salam kepada orangtua, membuang sampah pada tempatnya sebagai wujud melindungi alam sekitar. Namun saat ini masih banyak orangtua yang belum memahami bagaimana pendidikan karakter pada anak. Bahkan mereka belum tahu karakter seperti apa yang sebaiknya diajarkan pada anak sedari dini.

Saat ini banyak lembaga pendidikan baik itu formal maupun non-formal yang menggaungi pendidikan karakter. Tentu saja hal itu sangatlah bagus, namun sebagai orangtua tentu kita harus tahu dasar-dasar dari pendidikan karakter itu sendiri. Jangan sampai karena minimnya informasi anda langsung memasrahkan semuanya pada pihak pengajar. Padahal peran orangtua juga sangat penting dalam membangun karakter anak-anaknya.

Secara istilah formal, pendidikan karakter merupakan sebuah sistem pendidikan yang sistematis dan direncanakan dalam mendidik serta memberdayakan dan mengembangkan potensi peserta didik agar membangun karakter pribadinya sehingga mereka dapat tumbuh sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat umum.

Berbagai pendidikan karakter yang perlu ditanamkan pada anak sedari dini

Karakter merupakan identitas yang melekat pada anak. Karakter bisa ditunjukkan melalui sikap, perilaku, dan tindakan anak dalam lingkungan sosialnya. Tanpa ada pendidikan karakter, anak akan kesulitan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Pendidikan karakter yang kurang baik akan membangun stigma negatif masyarakat terhadap anak tersebut. Adapun pendidikan karakter yang perlu ditanamkan sedari dini, antara lain:

1.      Karakter religius

Nilai agama sangat dijunjung tinggi di masyarakat, karena nilai-nilai agama menjadi langkah awal manusia dalam mengembangkan sifat, sikap, dan perilaku. Apalagi agama menjadi cerminan penghargaan terhadap perbedaan terutama pada perkembangan anak. Nilai religi mernjadi nilai yang paling tepat ditanamkan sejak kecil dan tentunya harus berkembang seiring bertambahnya usia anak. Tentu peran orangtua dan pihak pengajar sangatlah penting, karena mereka akan menjadi sosok teladan sekaligus pengingat bagi anak.

2.      Mencintai kebersihan dan lingkungannya

Pendidikan karakter lain yang harus ditanamkan sedari dini adalah cinta terhadap kebersihan diri dan lingkungan di sekitarnya. Kebersihan dapat menghindarkan anak dari hal-hal buruk seperti gangguan kesehatan. Apalagi semakin hari kondisi bumi semakin buruk, karena tingkat polusi yang semakin tinggi. Kebersihan diri bukan hanya tentang rajin mencuci tangan saja, namun hal ini berkaitan pula dengan kondisi jiwa yang kuat.

3.      Sikap dan perilaku yang simpatis

Rasa simpati yang besar menjadi hal yang perlu dimiliki anak saat hidup bermasyarakat nanti. Rasa peduli akan membantu anak dalam membangun relasi yang sehat nantinya. Relasi ini bukan hanya dalam lingkup pertemanan saja, namun juga dalam keluarga, ataupun bermasyarakat. Wujud dari simpatik bisa dalam bentuk menolong sesama, serta dapat memposisikan dirinya sebagai orang lain. Saat anak berhasil memposisikan dirinya sebagai orang lain, maka ia akan lebih cerdas dalam berkomunikasi dan berinteraksi.

4.      Sikap dan perilaku yang jujur

Sikap jujur merupakan sesuatu yang sangat mahal di zaman sekarang. Tak heran kini banyak orang yang mengalami krisis kepercayaan, seperti  membuat orang sulit mempercayai kebaikan seseorang yang secara tulus. Sehingga kejujuran menjadi hal yang langka. Menumbuhkan kejujuran pada anak bisa dikatakan memiliki tantangan tersendiri. Kejujuran kini menjadi investasi dan modal yang besar bagi anak untuk membangun komunikasi yang sehat dan efektif dengan orang lain. Cara mudah untuk mengajarkan anak bersikap jujur adalah dengan membiasakan bersikap jujur pula bagi orang dewasa.

Mengingat pentingnya pendidikan karakter, ada baiknya orangtua dan lingkungan sekitar anak ikut berperan dalam proses pembentukkannya. Mulailah melakukan hal-hal baik bersama anak, serta berikan nasihat-nasihat yang menenangkan hati pada mereka. Sehingga secara perlahan anak akan mulai memahami nilai-nilai karakter. Ingat, saat masih berusia anak-anak seseorang tidak bisa membedakan baik dan buruk. Orang dewasalah yang sepatutnya membimbing mereka.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

Simak Cara Menciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan untuk Anak di Rumah

Simak Cara Menciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan untuk Anak di Rumah

Kegiatan belajar di rumah menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa orangtua saat-saat ini. Kondisi rumah dan ruang belajar tentu saja memiliki berbeda, misalnya di rumah Anda terlalu banyak perabotan sehingga ruang belajar yang dimiliki anak tidak terlalu besar. Namun tenang saja, dengan melakukan perubahan kecil maka kondisi rumah sekarang ini bukanlah penghalang untuk anak terus belajar dengan baik.

 

 

Seorang konsultan psikologi dan Coach Trainer Achsinfina H Sinta dikutip dari CNN Indonesia, menjelaskan jika proses belajar di rumah mesti dibangun dengan cara menyenangkan agar anak termotivasi untuk belajar dengan sendirinya dan paham materi yang diberikan. Belajar di rumah tentu berbeda jauh dengan belajar di institusi pendidikan biasanya karena ada keterbatasan ruang, teknologi, serta banyak perusaban yang mesti dilakukan di rumah yang terkadang membuat menjadi tidak praktis menjadi hal yang dipikirkan oleh kebanyakan orangtua. Akan tetapi kembali lagi hal-hal tersebut sebenarnya bukanlah menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan lingkungan belajar yang menyenangkan di rumah.

Untuk itu, sebagai orangtua Anda perlu tahu bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan bagi anak,s ehingga proses belajar tidak terhenti begitu saja selama masa pandemi. Oleh sebab itu, berikut ini hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk membangun lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak di rumah:

1.      Sisihkan area tertentu di rumah yang dikhususkan untuk belajar

Cobalah tengok bagian rumah, adakah ruang yang jarang dipakai? Pilihlah satu tempat khusus yang nanti akan digunakan untuk rutinitas belajar anak. Jika tidak ada ruangan khusus, Anda juga bisa memanfaatkan ruang tamu atau ruang keluarga sebagai tempat anak belajar setiap harinya. Area tersebut sangat mudah diakses, sehingga Anda dapat memantau proses belajar anak.

2.      Jaga kebersihan area belajar anak

Pastikan tempat anak belajar selalu bersih dan nyaman, hal ini akan membuat anak lebih berkonsentrasi saat belajar. Pastikan pula kondisi tempat tersebut tertata dengan rapi, kondisi yang bersih rapi akan membuat suasana hati anak membaik sehingga semangat belajar pun akan tumbuh. Selain itu, jauhkan anak dari berbagai bentuk distraksi (gangguan) seperti Televisi dan lain sebagainya.

3.      Buat lingkungan belajar yang personal

Saat anak sudah belajar, pastikan area tersebut memang personal baginya. Anda bisa menanyakan apakah ia perlu ditemani atau tidak. Jika anak ingin memiliki ruang sendiri, maka biarkan anak untuk mengeksplorasi dirinya saat belajar. Penting bagi orangtua untuk menanyakan cara belajar seperti apa yang disukai anak.

4.      Gunakan teknologi jika memang dibutuhkan

Agar anak tetap belajar dengan baik, siapkan segala kebutuhannya, seperti buku bacaan, alat tulis, bahkan gawai penunjang. Anda bisa tanyakan kira-kira apa saja yang anak butuhkan saat belajar di rumah. Jika memang membutuhkan gawai sebagai penunjang belajar, ajarkan anak untuk fokus memfungsikannya hanya untuk belajar. Anda bisa membuat kesepakatan bersama dengan anak agar gadget tersebut tidak menjadi pengganggu fokus anak.

5.      Atur jadwal rutinitas anak

Meskipun tengah belajar di rumah, tentu anak harus memiliki jadwal belajar dan kegiatan lainnya secara seimbang. Kebosanan merupakan tantangan terbesar ketika anak belajar di rumah. Jika dari pihak pengajar sudah memberikan jadwalnya, maka ajarkan anak untuk mematuhi jadwal tersebut. Atau Anda bisa juga memandu anak untuk mengatur jadwal kegiatannya sendiri. Beri pemahaman penuh tentang pentingnya menjalankan sesuatu sesuai dengan jadwal.  Selain itu, saat sisihkan jeda waktu anak untuk bermain di sela-sela kegiatan belajarnya. Hal ini bertujuan agar proses belajar tidak terlalu membebani anak.

6.      Buatlah target belajar

Agar anak lebih termotivasi dan menikmati proses belajar di rumah, maka tak ada salahnya jika anda membuat target. Target ini bisa didiskusikan bersama anak serta berikan apresiasi yang disepakati bersama. target bisa dimulai dari yang kecil hingga yang besar, namun yang perlu diingat buatlah target tersebut sesuai dengan kompetensi anak.

Demikian cara yang bisa Anda terapkan untuk mendukung proses belajar anak di rumah. Kami memahami bahwa membangun ruang belajar anak di rumah akan menjadi tantangan tersendiri. Selama masa pandemi kebutuhan akan lingkungan belajar yang baik menjadi PR tersendiri bagi banyak orangtua, namun bukan berarti itu menjadi masalah yang besar. Dengan cara cerdas menyiasatinya maka proses belajarpun akan berjalan lancar.

Gotong Royong di Proses ISO 21001:2018

ISO 9001:2000

Sebelumnya, telah dikenalkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 dalam dunia pendidikan. Dengan tujuan untuk menjamin dan memastikan mutu tamatan pendidikan sehingga bisa hidup mandiri, diserap di dunia usaha dan industri serta mampu bersaing secara global. Dan ini melampaui gambaran pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

Tapi, ISO 9001 (yang kemudian diperbarui menjadi ISO 9001:2008 dan ISO 9001:2015) ini sebenarnya dipergunakan dalam dunia usaha dan industri, untuk memastikan mutu produk mampu menjaga dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Yang tentunya tidak sesuai dengan hakikat mutu dunia pendidikan. Siswa bukanlah pelanggan. Siswa bukan obyek, siswa adalah subyek dari pembelajaran.

Mutu dalam dunia pendidikan berbicara mengenai nalar yang sehat, karakter yang baik, dan kehidupan sosial lingkungan sekitarnya, selain menguasai numerasi dan literasi itu sendiri. Penilaian mutunya lebih substansial dan kompleks, karena langsung berhubungan dengan manusia dalam konteks sosial, budaya, psikologis, dan bahkan politis-ideologis.

Nalarnya bukan memuaskan pelanggan, tetapi menumbuhkan manusia.

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Walau tidak berkaitan secara langsung dengan ISO 9001, tetapi keinginan untuk mengglobalisasikan pendidikan Indonesia terus bergulir. Dibuatlah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan tujuan supaya sekolah memenuhi standar nasional pendidikan dan juga internasional dengan diperkaya kriteria mutu yang berasal dari negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) atau negara maju lainnya.

Yang dalam pelaksanaannya lebih cenderung kepada peningkatan persaingan dalam dunia pendidikan, layaknya dunia industri. Muncul istilah sekolah unggulan untuk membedakan dengan sekolah biasa lainnya. Yang lagi-lagi tidak sejalan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia yang lebih menekankan kepada kerjasama, gotong royong.

ISO 21001:2018

Di Juni 2018 muncullah ISO 21001:2018 yang fokus kepada proses interaksi antara organisasi pendidikan, pembelajar dan pihak lain yang berkepentingan. Lebih mementingkan proses, bukan produk. Sebuah standar sistem manajemen yang berdiri sendiri tanpa terkait dengan dunia industri lagi. Tetapi sejalan dengan standarisasi yang lain melalui aplikasi High Level Structure.

BSN (Badan Standardisasi Nasional) Indonesia mengadopsinya di bulan September 2019. Dan di tahun 2020 ini, gencar mengadakan sosialisasi di tingkat Perguruan Tinggi. KAN (Komite Akreditasi Nasional) sampai Oktober 2020 ini belum menetapkan lembaga mana yang bisa mengadakan sertifikasi ISO 21001 ini. Jadi ISO ini masih sebuah proses perjalanan dan akan mengalami perubahan-perubahan.

ISO 21001 ini melatih organisasi untuk meningkatkan sistem manajemennya secara berkelanjutan, memenuhi kebutuhan dan harapan pembelajar, memperhatikan anak berkebutuhan khusus.

Gotong Royong di Proses ISO 21001:2018

Dari sejarah awal pengenalan standar industri untuk dunia pendidikan (ISO 9001), sampai ISO yang khusus tentang organisasi pendidikan (ISO 21001), bisa kita lihat dinamika perubahan yang sangat cepat. BSN dan KAN pun masih dalam proses pengembangan dan belum final dalam menentukan lembaga mana saja yang mendapatkan ijin untuk memberikan sertifikasi ini.

Pun begitu, proses dalam ISO 21001 ini bagus untuk digunakan, seperti Plan Do Check Act untuk meningkatkan mutu pembelajaran di satuan pendidikan. Dan semangat gotong royong di PKBM Piwulang Becik sesuai dengan prinsip partisipatif di ISO 21001.

Pertemuan kami dengan mas Tegar dari BSN di hari Minggu 11 Oktober 2020 di Piwulang Becik, menambah semangat untuk mengimplementasikan standar proses yang bagus ini.

Mari kita kembangkan.

Mengkultuskan Ujian dan Ijazah ?

“Ki Hajar ternyata pernah mengkritik pendidikan nasional kita. Ini sebenarnya kita sudah merespons dalam Merdeka Belajar, kita coba untuk memindahkan fokus dari Ujian Nasional yang berbasis kepada mapel, kepada Asesmen Kompetensi Minimum yang sifatnya literasi, numerasi, karakter. Sifatnya lintas mapel dan fleksibel,”

Demikian ungkap Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril pada webinar bertema “Kebijakan Pendidikan terkait Guru dan Tenaga Kependidikan” yang diselenggarakan oleh Pusdatin Kemendikbud, Selasa (15/9/2020).

Dan beliau memandang apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara berikut, layak untuk dijadikan bahan refleksi tentang kondisi saat ini.

“Ini pesan Ki Hajar di tahun 1956 dan saya rasa ini masih relevan untuk kita berefleksi apakah kita sudah bergerak dari sini atau masih tergerak dalam cara berpikir yang mengultuskan ujian dan tidak menumbuhkembangkan secara holistik. Jadi ini sebenarnya sudah lama diingatkan oleh bapak pendidikan kita,”

Ki Hajar pernah melakukan kritik terhadap pendidikan Indonesia melalui pernyataannya pada tahun 1956:

“Kita lihat di zaman sekarang masih terpakainya bentuk-bentuk rumah sekolah, daftar-daftar pelajaran yang tidak memberi cukup semangat mencari ilmu pengetahuan sendiri, karena tiap-tiap hari, tiap-tiap tri wulan, tiap-tiap tahun, pelajar-pelajar kita terus menerus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam school raport-nya atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini sebaiknyalah kita para pemimpin perguruan, bersama-sama dengan Kementerian P.P. dan K, mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit examen cultus dan diploma jacht itu.

Examen cultus berarti mengultuskan ujian. Sedangkan diploma jacht berarti mengejar-ngejar ijazah.

referensi:
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/memberantas-penyakit-yang-mengultuskan-ujian (17 September 2020)

Gotong Royong Mengembangkan STEAM

It takes a village to raise a child 

Sering kita jumpai di masyarakat pedesaan, seorang ibu tengah mengajari mengaji anak-anak tetangganya. Ibu lain mengajari menjahit ibu-ibu lainnya. Seorang bapak mengajari bertukang pemuda di sekitarnya. Warga di desa itu belajar dari warga di sekitarnya. Mereka bertumbuh bersama .

Tanpa kita sadari, Piwulang Becik (PBx) sekarang ini sedang melakukan hal yang serupa dengan masyarakat pedesaan di atas. Mereka bertemu dan saling belajar satu sama lain didampingi oleh bapak, ibu atau anak yang bersedia menyedekahkan waktunya bagi warga lainnya.

STEAM & Basic Literacy

Kalau sebelumnya di sisi pedesaan, saat ini STEAM (Science Technology Engineering Arts Mathematics) dan Literasi Dasar yang merupakan bagian dari kegiatan pendidikan secara global, pun sedang dibangun secara bersama-sama oleh warga Piwulang Becik. Matriks kegiatan Student Club kita memperlihatkan dengan jelas keterkaitan kegiatan pedesaan PBx dengan pendidikan global.

4C’s
(Critical Thinking & Problem Solving, Communication, Collaboration, Creativity & Innovation)

Hal di atas bisa terlaksana karena kita mampu menganalisa dan mengevaluasi keadaan saat ini di sekitarnya. Warga PBx tanggap ingin menyelesaikan masalah, dimana salah satunya adalah karena keterbatasan pertemuan fisik imbas dari wabah corona. Kemudian menjalin komunikasi yang baik dengan warganya untuk mengatasinya secara bersama. Hasil musyawarah itu kemudian berbuah kerjasama antar warga satu dengan lainnya untuk mewujudkan pendidikan yang lokal tetapi diterima secara global. Ini adalah sebuah kreativitas dan inovasi yang bagus dari warga PBx dalam membesarkan, mengembangkan dan menumbuhkan anak-anak dan orang tua secara gotong royong.

Gotong Royong

Ya, gotong royong. Sebuah tradisi lokal yang terbukti sampai sekarang terus bertahan dan menjadi solusi kehidupan modern saat ini. Dengan semangat gotong royong ini, mari kita kembangkan secara bertahap beberapa hal yang dirasa penting untuk kita berikan kepada anak-anak kita, mulai diwujudkan.

Biaya Bertumbuh di PKBM Piwulang Becik

Dengan segala hal yang menarik itu, lantas, berapa biaya yang musti kami keluarkan?

PKBM Piwulang Becik tidak menetapkan biaya pendidikan kepada peserta didik. Dengan asas gotong royong, kami memberikan kesempatan kepada orang tua untuk ikut berpartisipasi secara sukarela.

Asas gotong royong di tengah era wabah corona sekarang ini, akan meningkatkan rasa kebersamaan dan sepenanggungan dalam menyelesaikan masalah di tengah masyarakat kita, salah satunya adalah pendidikan anak. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menumbuhkan mereka, anak bangsa kita sendiri.

Sumbangan partisipatif ini dicatat dan dipertanggungjawabkan serta disalurkan lewat rekening yayasan pendidikan berikut: Yayasan Xanov Bahtera Mulia, BCA Kantor Cabang Salatiga, nomor rekening 01312 88891.

Tertarik untuk menjadi siswa di PKBM Piwulang Becik ?:), silakan mendaftar di tautan ini.

Pendampingan Di Student Clubs

Student club (SC) bukanlah kata yang asing didengar oleh kita. Kadang ada yang menyebutkannya extra kurikuler. Wadah berdiskusi dan berkegiatan siswa di luar mata pelajaran atau kurikulum yang ada.

Namun ketika kemdikbud sekarang ini lebih menekankan kepada karakter dan ketrampilan, SC adalah wadah yang penting dalam membentuk karakter dan ketrampilan.

Pun begitu, SC tetap bukan kelas pengajaran. Tidak ada guru di SC. karena SC isinya adalah aktivitas para siswa. Tidak ada tutoringnya. Yang ada pendamping.

Dan pendamping paling utama di sekolah rumah (homeschooling) adalah orang tuanya, karena orang tua melihat perkembangan anaknya setiap hari.

SC di Piwulang Becik (PBx) diselenggarakan secara offline dan online. Keduanya saling melengkapi.

Untuk yang tinggal berdekatan, akan ngumpul di PBx untuk bertemu muka. Bahkan yang dari luar kota menyempatkan untuk datang. Tapi, itu ketika wabah virus corona belum melanda. Sekarang tidak boleh lagi. Stay at home.

Untungnya, sekarang ini akses internet lebih cepat, bahkan didukung oleh koneksi data seluler yang bagus, pertemuan virtual menjadi lebih bisa dinikmati. Layanan video conference pun semakin banyak, bisa memakai Microsoft Office 365 Teams Meet, Skype, Jitsi, Zoom dan banyak layanan lainnya.

Virtual Student Club memacu kreativitas baru kita.

Saat ini sudah ada 10 SC yang berjalan secara virtual. Tidak dibatasi oleh lokasi lagi. Berikut adalah jadwal dari SC virtual tersebut.

Jadwal Student Clubs di Piwulang Becik : 20 April – 27 Juni 2020
# STUDENT CLUBS SEN SEL RAB KAM JUM SAB PENDAMPING
1 Fotografi 09:00 husayn.prasetya
2 Teknologi Informasi 16:00 16:00 robert-iswanto
3 English Club 09:00 moi-kusman
4 Seni Musik (perkusi) 16:00 bambang
5 Videografi 09:00 reza.prasetya
6 Seni Rupa (gambar) 16:00 16:00 kliwon
7 Traveling 14:00 dodi-kusmajadi
8 Astronomi 14:00 petra.chandra
9 Seni Drama 16:00 kunti
10 Seni Rupa (ilustrasi) 09:00 ratna-halim

 

Cuplikan pendampingan Student Club Menggambar oleh kak Kliwon
Cuplikan pendampingan Student Club Mengilustrasi Cerita oleh tante Ratna

Tanya Jawab Seputar PKBM PBx saat Kunjungan Teman PHI

Hari Rabu 26 Desember 2018 lalu, tim PHI (Perkumpulan Homeschooler Indonesia)  berkunjung ke PKBM Piwulang Becik.

Sebelum jam 8 pagi, mbak Ellen Kristi dan mbak Anggrahenny C Putri dari Semarang telah hadir terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian mbak Noor Aini Prasetyawati dengan putranya, R, dari Solo hadir. Dan setelah beberapa waktu, mas Sapta Nugraha dari Yogyakarta bergabung. Diskusi menjadi lebih seru.

Cukup lama juga, sekitar 5 jam lebih, kami berbincang seputar hal ihwal homeschooling di tanah air. Dan berikut adalah sedikit ringkasan dari hasil perbincangan kami tersebut, yang bisa jadi juga adalah pertanyaan-pertanyaan dari banyak teman tentang PKBM Piwulang Becik (PBx).

pendidikan yang berakar kuat dalam budayanya sendiri

tetapi terhubung dengan budaya dunia luar yang lebih luas

  1. PBx bukanlah pkbm berlabel homeschooling, lembaga homeschooling atau perkumpulan homeschooler yang dilembagakan. PBx terbuka bagi semua, baik itu HSer, siswa sekolah formal atau nonformal dari PKBM lain pun bisa ikut belajar dan berkegiatan di PBx. Tidak terbatas untuk siswa dari Salatiga saja, siswa dari seluruh Indonesia juga bisa bergabung dengan mengikuti kelas dan tutorial online.
  2. PBx menerapkan sistem belajar modular online dari Setara Daring Kemdikbud ; sebuah LMS ( Learning Management System ) yang track record pembelajaran siswanya diakui oleh diknas, dimana siswa belajar dengan kecepatan masing-masing sesuai Kontrak Belajar.
  3. Tatap Muka peserta didik dan orang tua dengan PBx dilakukan di simpul PBx, saat berkunjung ke PBx atau PBx yang mengunjungi peserta didik. Juga disediakan pembelajaran secara online dan tutorial. Dengan sistem modular, ujian modul sesuai dengan Kontrak Belajar masing-masing yang telah disetujui di awal. Dan ini menggantikan UTS dan UAS (dengan jadwal yang telah ditentukan secara serentak).
  4. PBx tidak memungut/menarik/mengutip biaya pendidikan kepada peserta didik. Tapi kami memberikan kesempatan kepada orang tua jika ingin memberikan sumbangan secara sukarela. Sumbangan tersebut akan kami catat dengan rapi dan bisa disalurkan lewat rekening yayasan pendidikan.
  5. Bagi anak yatim dan/atau tidak mampu, PBx justru tidak mau menerima sumbangan. PBx dengan senang hati memberikan pelayanan yang penuh kepada mereka, sama seperti lainnya, tanpa dibedakan. PBx selalu mengusulkan mereka di program pemerintah KIP (Kartu Indonesia Pintar).
  6. PBx tidak akan menerima permintaan untuk pembuatan rapor atau ijazah secara ilegal. PBx berkomitmen untuk taat peraturan, tidak melanggar hukum. PKBM dan pemerintah telah memberikan banyak kemudahan kepada praktisi homeschooler atau siswa informal/nonformal. Jalur yang baik, benar dan legal bisa ditempuh … jadi tidak ada alasan untuk mencari celah secara ilegal.
  7. PBx akan memandu keluarga menyusun portofolio anak secara disiplin dan rapi. Mengumpulkan Portofolio wajib dibuat oleh setiap anak didik sebagai pembelajaran akan pentingnya membangun skilset sedari dini. Karir anak dirintis dan ditekuni sedari dini, bukan nanti. Dimulai dari yang sederhana dan yang mampu dilakukan saat ini.
  8. Karenanya PBx menuntut komitmen anak dan orangtua untuk disiplin membaca materi, mengerjakan tugas dan evaluasi sesuai arahan pemerintah. Walau ini tidak bisa diartikan memindahkan kurikulum sekolah formal ke rumah, karena kurikulum pendidikan non formal dari pemerintah sudah sangat memberikan kebebasan kepada para siswa untuk menjalankan program atau proyeknya sendiri secara mandiri. Dan PBx mengakomadasikan hal ini ke dalam sistem pembelajarannya, project based education.
  9. PBx bukanlah lembaga bimbingan belajar. Tidak ada pembelajaran secara reguler untuk setiap mata pelajaran. Tetapi PBx bersedia membimbing siswa yang akan menghadapi UN atau mengambil UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) seperti yang telah dilakukannya selama ini, baik siswa dari PKBM PBx, PKBM lain, atau pun sekolah formal lainnya.
  10. PBx bukanlah sebuah agen atau biro konsultan untuk bersekolah ke luar negeri, tetapi PBx bersedia untuk berbagi pengalaman kepada anak yang hendak melanjutkan kuliah ke luar negeri.
  11. PBx bukanlah sekolah, mengajar atau tempat ujian kurikulum internasional. Tetapi dengan pengalamannya, PBx bersedia untuk memberikan info seputar ujian Cambridge IGCSE/A-Level (British Curriculum) dimana di Indonesia, seorang HSer bisa ikut Ujian IGCSE sebagai Private Candidates di tempat-tempat yang tersebut di situs tersebut. Atau mengambil SAT (American Curriculum) yang juga mempersilakan HSer untuk hanya mengikuti ujian SAT saja tanpa bergabung ke sekolah internasional sebagai Home-Schooled Students.
  12. Peserta didik wajib datang ke kota Salatiga untuk mengikuti UN.

Wuih, banyak juga yang sudah dibahas dan didiskusikan. Paling tidak, ini akan memberikan gambaran luas tentang dunia pendidikan non formal, homeschooling dan menjadikan PKBM HS-Friendly.

Terimakasih atas kehadiran dan info-info yang telah dibawa oleh para pegiat PHI. Mari kita bersama-sama memajukan pendidikan di negeri ini. Dan terimakasih atas hadiah buku Cinta Yang Berpikir nya dari mbak Ellen Kristi.

Rabindranath Tagore

Dilahirkan dengan nama Robindronath Thakur, Kolkata India 7 Mei 1861, wafat 7 Agustus 1941. Penyair dan filsuf yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra tahun 1913 melalui karya puisinya: Gitanjali. Git berarti lagu dan Anjali berarti persembahan.

“Dan karena aku mencintai kehidupan,
maka aku pun tahu
ku harus cintai juga kematian.
Layaknya bayi menangis,
seketika ibu pindahkan dari tetek kanan,
yang dalam sekejap,
tuk dia temukan tetek sebelah kiri.
Begitulah penghiburan.”.

Tagore berusaha untuk menyeimbangkan kecintaannya terhadap perjuangan kemerdekaan India dengan kepercayaannya kepada humanisme yang universal dan kekhawatirannya akan ekses-ekses nasionalisme.

Saya telah menjadi seorang yang optimis menurut versi saya sendiri. Jika saya tidak berhasil mencapainya dengan melewati satu pintu, saya akan mencobanya dengan melewati pintu yang lain. atau saya harus membuat sebuah pintu baru. Sesuatu yang luar biasa akan saya capai betapapun gelapnya masa sekarang ini.

Tagore menjadikan Shantiniketan sebagai benang penghubung antara India dengan dunia yang melintasi batas bangsa dan geografis. Sekolah yang kemudian ia namakan Visva-Bharati dengan slogannya Yatra Visvam Bhavatyekanidam (tempat seluruh dunia dapat menemukan sarang).

Awan-awan datang mengambang kedalam kehidupanku, tidak lagi membawa hujan atau mendatangkan badai, tetapi untuk menambah warna kepada langitku pada waktu sang mentari terbenam.

Ia mengembangkan kurikulum yang merupakan perpaduan unik antara seni, nilai-nilai kemanusiaan dan pertukaran budaya pada prinsip-prinsip humanisme, internasionalisme, dan lingkungan yang berkelanjutan. Salah satu pendidik awal yang berpikir tentang Desa Global, sebuah pendidikan yang berakar dalam di lingkungan terdekat seseorang tetapi terhubung dengan budaya dunia yang lebih luas.

“Pendidikan tertinggi tidak hanya memberi informasi, tetapi membuat semua keberadaan selaras dengan hidup INI”