Satu Hari Bersama Sheila On 7

Pagi hari, keluarga Eross Candra datang ke Piwulang Becik untuk kasih portofolio El Pitu.
Siangnya, sebelum makan siang kita ngobrol-ngobrol sama Mba Sarah (istrinya mas eross) tentang pembelajaran El Pitu selama di Piwulang Becik. Ini ngobrolnya panjang dan seru banget. Ada Mas Eross dan El Pitu di belakang kamera.

Setelah asik ngobrol, kita lanjut makan siang bareng sama teman-teman Piwulang Becik pake pepes tahu sama nasi hangat bikinan Mbak Kom.
Sorenya, kita janjian sama Mba Sarah untuk nonton konser Sheila on 7 di Saloka, Salatigaaaaaa!!

Mba Sarah baik banget kita dibantu untuk nonton konser dengan nyaman sampe kita bisa ketemu sama semua personil Sheila on 7. Mereka semua humble dan sederhana banget. Kita diajak ngobrol trus kita foto bareng deeh. Seru poooll gak akan kita lupain!
See u on the next web post

#LiveInSeries 2 – Ivo Febrian: Mengatasi Ruang Sulit

Sejarah Bergabung dalam Komunitas  

Ivo Febrian (19), seorang lulusan SMK 7 Semarang asal Kudus yang kini sedang live in di Piwulang Becik, menceritakan pengalamannya tergabung bersama komunitas. Berawal dari belajar desain dan membuat ikon dalam program magang di Karir Anak, kini ia mulai merambah ke bidang 3D. “Awalnya aku bingung mau magang di mana. Tapi di antara semua perusahaan yang ada di daftar pilihan, aku tertarik sama Karir Anak. Sebenernya aku bimbang banget pilih Internet of Things (IoT) atau desain, cuma akhirnya aku pilih desain,” kenangnya. 

Saat mempersiapkan diri untuk magang, Ivo mulai belajar menggambar 2D dan membuat ikon-ikon secara otodidak. “Aku belajar lewat Youtube. Gada kuratornya. Kuratornya diri sendiri aja. Kalau udah ngerasa bagus, udah.” 

Lambat laun, ia mulai tertarik dunia 3D dan mengulik secara mandiri dengan peralatan seadanya. “Laptopku tuh kentang kalau belajar 3D. Tapi aku pengen soalnya itu hal baru. Aku liat peluangnya tuh yang bisa 3D belum banyak. Jadi aku memutuskan buat belajar itu dengan device yang apa adanya.” Ia menyebut dirinya sebagai orang yang tidak mau kalah sehingga ia terus mengasah keterampilannya, apapun tantangannya. “Di satu sisi aku harus bisa lebih cepet tapi aku juga harus tau laptopku kemampuannya seberapa. Jadi aku harus mikir 2 kali. Kalau aku bikin yang terlalu berekspektasi tinggi, kalau device-nya nggak kuat ya sama aja.” 

Setelah 8 bulan mengerjakan proyek ilustrasi dan micro stock, oleh mentornya, Ivo ditawari untuk belajar 3D. “Wah jelas aku mau banget! Dikabarin jam 12 siang waktu makan, beres-beres, jam 1 langsung berangkat ke Salatiga,” ujarnya dengan antusias.  

Pengalaman Live In – Kebiasaan Baru yang Dibentuk 

Menjalani proses live in di Salatiga, salah satu hal yang ia rasakan berubah dari dirinya adalah bisa masak. “Selama ini aku liat aja temen-temen masak. Paling bantu-bantu sedikit. Lebih banyak melihat. Setelah pulang dari sini, aku jadi mikir. Sebenernya selama ini aku bukannya nggak bisa masak, tapi nggak berani aja. Wah, langsung aku coba lah masak yang belum pernah aku masak. Waktu itu aku coba masak bayem jagung. Aku yang sebelumnya belum pernah ke pasar, nggak ngerti caranya rebus jagung, ya gas coba aja dulu lah. Ternyata pas dicobain, masih layak buat dimakan. Emang layak sih,” ceritanya sambil tertawa. 

Untuk keseharian lainnya, ia menyebutkan ada kebiasaan baru yang dibawa dari proses live in, contohnya kebiasaan doa bersama di pagi hari sebelum mengawali kegiatan. 

Tak hanya itu, kebiasaan gotong royong dalam membersihkan lingkungan juga terbentuk selama live in. “Di sini kan kalau pagi bersih-bersih. Kewajiban semua orang yang ada di sini. Pagi bersih-bersih kebun depan, samping, kebun kopi. Ya aku seneng sih bisa ngelakuin itu karena hobiku dulu berkebun. Jadi aku menemukan hobiku lagi. Suka liat yang ijo-ijo. Karena kebiasaan itu, pagi aku nggak usah nunggu ngerjain apa atau nunggu perintah, langsung ambil sapu.” 

Meski demikian, ada satu hal yang ia ingat saat berbincang dengan Aris Prasetya (52), kepala sekolah Piwulang Becik. “Aku tuh inget banget obrolan om Aris tentang bermuka dua. Contohnya aja kalau di rumah jelek, tapi di studio pengen terlihat bagus. Itu kan jadinya nggak autentik dengan karakter diri sendiri. Capek juga ingin terlihat lebih dari apa yang dipunya. Jadi kalau di studio bersih-bersih dan pengen nunjukin sisi terbaik diriku, di rumah harusnya juga gitu,” terangnya saat menceritakan percakapan yang berkesan selama live in di Salatiga. 

Kekurangan Bukan Halangan – Kondisi Buta Warna Parsial 

Selain berbagi pengalaman live in, Ivo juga bercerita mengenai kesulitan yang ia hadapi selama ini. Industri desain sangat erat kaitannya dengan warna. Meski demikian, Ivo yang didiagnosa buta warna parsial tidak melihat hal tersebut sebagai keterbatasan. Justru, ia menjadikan hal tersebut sebagai tantangan yang perlu dihadapi, bukan dihindari. 

“Aku pertama tau aku buta warna parsial soalnya aku pengen masuk SMK. Saat aku cari-cari persyaratannya, ternyata salah satu syaratnya itu tes buta warna. Trus aku cari-cari di Youtube dan coba tes yang bentuknya lingkaran dengan angka dan warna. Loh kok jawabanku buta warna parsial semua. Trus aku riset dan tes lagi. Tapi jawabannya buta parsial terus. Di situ aku makin yakin soalnya yang orang lain bisa liat, aku nggak bisa. Sebaliknya, aku bisa liat angka ini, orang lain nggak bisa. Tapi karena aku mau masuk SMK, aku bener-bener harus mempersiapkan dengan matang, gimana caranya supaya bisa tetap diterima. Ternyata lolos.” 

Selama 3 tahun bersekolah dan setahun magang, ia berhasil melewati tantangan warna dengan strategi yang ia lakukan. “Aku jarang banget nyebutin warna. Misalkan, ini warnanya pakai ini. Jadi nggak nyebut itu warna apa, tapi nunjuk warna.” 

Namun, ada satu momen di mana akhirnya ia mengaku bahwa ia buta warna parsial. “Saat itu, aku lagi belajar ilustrasi. Di situ aku salah buat ngasih warna. Mentorku bilang ‘loh itu salah. Wah kamu buta warna ya’. Aku jawab aja ‘loh emang iya’. Mentorku kaget dan satu komunitas tau semua. Tapi aku ngerasanya itu udah waktunya aku ngaku. Toh satu tahun aku udah berhasil melewati desain yang urusannya dengan warna. Jadi aku ngeliat kekuranganku itu dicari jalannya. Dengan parsialku, aku menemukan caraku sendiri. Sekarang, aku malah menganggap kekuranganku sebagai kelebihan.” 

Mendobrak Ruang Sulit – Latihan Public Speaking 

Dari proses wawancara, sekilas Ivo terlihat sebagai orang yang lancar berbicara depan umum. Ternyata, ia mengaku dulu ia tak seperti sekarang. “Aku tuh sebenernya orangnya pendiam. Awal-awal magang aku diem aja, cuma denger orang ngomong, nggak ada interaksi sama sekali. Kalau nggak dipancing, nggak ngomong. Tapi setelah itu, aku dapet wejangan, kalau nanti aku punya studio, punya karyawan, cara ngobrolku tuh gimana? Kalau mereka salah, aku nggak bisa ajak ngobrol, jadi tambah salah, akhirnya malah jatuh semua. Di situ aku mulai sadar dan sedikit demi sedikit latihan komunikasi. Misalnya kasih tebak-tebakan. Padahal sebelumnya aku nggak pernah becanda. Pada kaget juga sih, cuma untungnya jokes-nya masih masuk. Pada ketawa,” celotehnya panjang. 

“Dari situ, aku mulai dengan ngobrol berdua, ngobrol mastermind, sampai akhirnya aku diminta untuk buka forum kecil. Di situ aku belajar menghadapi semua orang yang melihat diriku. Aku paling nggak bisa dilihat orang banyak. Itu ndredeg, pikiran nge-blank, parah pokoknya. Tapi aku jadi belajar nge-handle forum sampai disuruh mimpin forum. Wah itu tantangan paling besar sih. Awalnya cuma 5 orang, trus jadi sekitar 25 orang. Itu pengalaman yang bener-bener wow. Dari situ aku jadi paham cara bicaraku, karakterku, dan kenalan dengan orang-orang baru gimana.” 

Ivo menutup ceritanya dengan konsep yang ia pahami tentang belief system. “Kuncinya itu dari mindset. Mindset ini akan membentuk perilaku, perilaku membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang diulang-ulang akan jadi realita kita. Ini prinsip yang aku pegang selama ini.” 

#LiveInSeries 1 – Haydar Wira & Reizzan Prasetya: Berkarya Sejak Muda

Awal Mula Belajar 3D 

Sebagai anggota termuda yang melakukan project-based learning di Piwulang Becik, Haydar Wira Prasetya (13) dan Mohammed Reizzan Setyawan (14), mengaku menikmati proses menggambar 3D. “Awal mulanya aku bikin gambar cuma main-main aja. Manual, digital, trus sekarang 3D. Tertariknya karena suka animasi-animasi gitu. Lihat behind the scence-nya kan keren tuh, bikin 3D” ujar Haydar saat menceritakan asal mula ketertarikannya pada 3D. Sementara itu, Izzan menyebutkan prosesnya berkarya saat mengerjakan project di studio Kampung Becik. “Awalnya aku bikin stok ikon, trus bikin ilustrasi, dan sekarang 3D. Aku seneng gitu, pengen explore.” 

Haydar dan Izzan menjelaskan bahwa keterampilan membuat karya 3D terasah justru saat bermain game. “Tangan jadi lebih luwes saat pegang mouse,” kata Haydar. Izzan pun menyetujui. “Kalo aku emang suka main game pakai komputer gitu. Jadi pas ngerjain 3D kayak udah enak soalnya mirip-mirip.” 

Menekuni 3D sejak dini dan benar-benar terjun menghasilkan karya, Haydar dan Izzan merasakan kebanggaan tersendiri. “Aku bangga soalnya bisa ngelakuin project yang besar. Pengen nantinya jadi 3D artist,” aku Haydar. “Aku juga ngerasa bangga tapi bisa lebih baik lagi,” tambah Izzan. 

Sejauh ini, keduanya merasa senang dan belum terpikirkan untuk eksplorasi bidang lain. “Kalau penasaran bidang lain nggak ada. Masih belum ketemu yang nyenengin lagi. Masih enjoy 3D. Paling seru itu modeling,” ujar Haydar. “Tapi sebetulnya ada susahnya. 3D kan ada lighting sama texture, jadi kompleks banget,” tambahnya. 

Sebaliknya, Izzan merasa tidak terlalu sulit. “Paling susahnya itu suka ada revisi. Kadang bingung kliennya itu maunya gimana,” terang Izzan polos yang sontak diikuti anggukan setuju oleh Haydar.  

Belajar Mengenai Kecerdasan Ruang 

Selain teknis 3D, Haydar dan Izzan juga belajar hal-hal non teknis, termasuk perihal kecerdasan ruang, terutama relasi dengan Reza Ahmad Prasetya (16) sebagai mentor mereka berdua. “Sebetulnya agak susah buat bedain antara keluarga sama guru. Misalnya kalau sebagai keluarga, aku bisa minta tolong ambilin piring atau nemenin makan. Kalau sebagai guru, aku nurut soalnya masih belajar juga,” ungkap Haydar. Hal serupa disebutkan juga oleh Izzan. Ia menyadari peran saat project-based learning berbeda dengan saat di waktu luang. “Kalau di ruang kerja, mas Reza jadi mentor kita. Jadi manut gitu. Kalau lagi main ya kayak mas aja.” 

Memaknai Kesalahan dan Masalah 

Semua manusia tak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan Izzan dan Haydar. “Pernah waktu itu, sore-sore Haydar ajak aku main trus aku langsung ikut ke sana nggak pakai sendal. Nggak becek sih, tapi kan jadinya kotor. Trus ditegor om Aris. Dari situ jadi sadar kalau keluar harus pakai sendal. Jadi nggak tersinggung kalau diingetin,” kenang Izzan. “Aku juga sama. Yang lainnya aku lupa. Tapi kalau aku agak kesel juga,” sahut Haydar jujur. 

Selain kesalahan, mereka pun tak lepas dari masalah. Namun menariknya, baik Haydar maupun Izzan merasa tidak terlalu mempermasalahkan. “Aku nggak nyadar kayaknya. Nggak nganggep itu masalah. Jadi kalau ngerjain 3D kan kita perlu komputer yang spec-nya bagus. Jadinya sering nge-freeze gitu. Trus restart komputer paksa. Solusinya upgrade PC,” cetus Haydar. “Kalau aku pernah sih tapi ya kalau ada masalah trus sudah selesai masalahnya, jadi lupa,” sambut Izzan. Intinya, buat mereka berdua, tips menyelesaikan masalah adalah tidak berlarut-larut dalam masalah tersebut. Cari solusinya lalu move on.  

Proses Adaptasi di Ruang Komunal 

Berada jauh dari rumah dan belajar hidup mandiri, Izzan menceritakan pengalamannya beradaptasi dengan lingkungan baru. “Awal-awalnya kan aku di sini jauh dari orang tua. Bisa tapi aku ya kangen sih,” ungkapnya jujur. Sementara itu, Haydar merasa senang akhirnya punya teman sebaya. 

Mereka juga bercerita mengenai kebiasaan makan, terutama saat makan siang. “Kalau soal makanan, rasanya beda, tapi enak soalnya laper,” Izzan tertawa renyah. Ia juga melakukan kegiatan bersih-bersih seperti menyapu, cuci piring, dan membersihkan meja. Berbeda dengan Izzan yang lahap makan apapun, Haydar lebih memilih menu makan yang berbeda dari yang lainnya. “Soalnya di sini kebanyakan makannya sayur. Aku kurang suka,” jelasnya blak-blakan. Meski demikian, ia tetap ikut berbaur dan berkumpul saat makan siang. 

Terkait interaksi dengan teman-teman yang berbeda umur, Haydar dan Izzan tidak merasa ada perbedaan yang signifikan. Mereka bisa membaur seperti bermain game bersama, olahraga basket, menonton bioskop, dan sebagainya. “Sebenernya sama kakak-kakak di sini biasa aja sih. Manggilnya sih tetep kak, tapi ngobrolnya santai. Kalau bosen biasanya refreshing trus nyapa kakak-kakak ‘halo, lagi ngapain?’,” jelas Izzan. “Aku juga biasa aja sih. Udah terbiasa bertaun-taun main bareng beda umur,” sahut Haydar.  

Harapan ke Depannya 

Ketika bicara masa depan, baik Haydar maupun Izzan merasa ingin hidup bebas. “Kalau aku, 4-5 tahun udah ada studio jadi udah ada orang yang ngurusin,” tutur Haydar. Selaras dengan Haydar, Izzan bercita-cita ingin memulai bisnisnya sendiri. “Kalau aku ke depannya pengen punya studio juga. Umur berapanya belum tau, yang pasti aku udah tinggi,” katanya ceplas-ceplos sambil tertawa. 

Tonton wawancara lengkapnya di:

Ekosistem untuk Akselerasi Bakat

Jika pada tulisan sebelumnya kita mengulas tentang Myelin dalam konteks diri, pada tulisan kali ini kita akan melihat Myelin dalam konteks ekosistem. Bagaimana sebenarnya Myelin dapat makin menebal dalam kondisi tertentu? Apakah cukup dengan latihan?

Daniel Coyle, penulis buku Talent Code, menjelaskan bahwa kunci seorang juara dunia adalah berkat tempaan lingkungan yang tepat.  Ada fakta menarik tentang sebuah klub tenis Rusia yang berhasil mencetak petenis-petenis terbaik meski dengan fasilitas seadanya. Prestasi ini tidak pernah dihasilkan oleh klub tenis manapun di seluruh Amerika Serikat.

Apa rahasianya? Ternyata, bagaimana mereka dilatih menjadi faktor penentu yang membedakan dengan klub tenis lainnya. Atlet-atlet tersebut menjadi unggul karena sentuhan pelatih yang menciptakan program latihan yang berat untuk mengoptimalkan potensi seperti yang pernah dibahas dalam tulisan mengenai Quantum Leap.

Contoh di Lingkungan Piwulang Becik

Di lingkungan Piwulang Becik, dikenal istilah mentoring yang memang dirancang untuk melatih Myelin tersebut. Mentor bagi anak-anak adalah orang tua mereka sendiri. Ratih, salah seorang orang tua murid, menceritakan pengalamannya selama 4 tahun terakhir di Piwulang Becik. “Dulu, kita selaku orang tua diminta untuk membuat portofolio yang sekarang jadi activity log. Kalau di sekolah, guru yang nulis rapor, di sini orang tua harus bisa bekerjasama dengan anak untuk menulis portofolio.”

Meski tanggung jawab orang tua jadi lebih berat, berkat portofolio, banyak perkembangan yang sekilas terlihat kecil namun terasa berharga. Contohnya, saat anaknya yang berusia 5 tahun berhasil pakai sepatu, kancing baju, dan menguncir rambutnya sendiri. Ia catat semua dalam portofolio.

Tak cuma portofolio. Proses ia mendampingi, mendukung, dan menemukan passion anak juga merupakan tantangan tersendiri. Ia mengaku kesulitan saat mendorong anaknya lebih aktif di kelas, padahal anaknya sendiri yang memilih kelas-kelas Student Club yang ingin dihadiri. Namun seiring berjalannya waktu, mulai terlihat minat anak kecenderungannya ke mana. “Anakku ikut beberapa Student Club, tapi kelas yang dia nggak pernah skip itu Student Club memasak. Dia siapin sendiri bahan-bahannya dan aktif partisipasi di kelas. Saya lega banget akhirnya ketemu juga passion-nya. Walaupun nanti akan berubah, gapapa. Yang penting sekarang paling tidak dia sudah bisa ambil keputusan, sudah tahu kalau nggak ngerti harus nanya,” ujarnya antusias.

Selain bertanggung jawab terhadap anak sendiri, Ratih juga bertanggung jawab pada anak-anak lain dalam mengajar Student Club bahasa Inggris. “Ternyata lebih sabar ngajar anak orang lain ketimbang anak sendiri. Karena kalau anak sendiri tuh punya standar. Ekspektasinya terlalu tinggi kadang-kadang. Padahal kalau dipikir-pikir, dia kan baru 11 tahun. Harapannya udah begitu-begini. Nggak apple to apple lah kalau dibandingin sama diri sendiri di umur segini. Tapi jadi lebih aware. Bandinginnya sama dia 1 tahun yang lalu, 1 bulan yang lalu, dan seterusnya.”

Cerita Ratih tentang pengalamannya selama di Piwulang Becik ini menjadi contoh bagaimana sebetulnya ekosistem belajar yang kondusif di tengah banyaknya himpitan dan tantangan ternyata dapat mempercepat terjadinya penebalan Myelin dan membangun awareness. Tanpa stimulasi lingkungan, minat dan bakat anak tak akan cukup untuk terakselerasi secara optimal.

Seperti kutipan yang terkenal:

“Pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.”

Myelin, Kunci Transformasi Diri

Seringkali orang tidak sadar bahwa sebuah kesuksesan tak hanya ditentukan oleh brain memory yang terbentuk dari pengetahuan. Berdasarkan penelitian, yang tidak kalah penting juga adalah muscle memory yang terbentuk dari latihan.

Tentang Myelin

Kalau brain memory terletak di otak dan menghasilkan hafalan teori dan konsep, muscle memory ini ada di seluruh jaringan otot kita dan menghasilkan refleks otomatis. Manusia membutuhkan keduanya, namun seringkali pendidikan kita lebih mengutamakan pada brain memory. Padahal, muscle memory juga tak kalah penting.

Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul “Myelin, Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan”, komponen muscle memory atau yang disebut myelin ini merupakan pembungkus jaringan sel-sel syaraf yang membawa sinyal yang sama berulang-ulang. Makin sering informasi diulang dalam Myelin, semakin tebal. Hal ini yang menjadi kunci dalam membentuk kebiasaan kita dan merupakan sumber talenta saat dilatih terus-menerus.

Contoh Myelin dalam Konteks Piwulang Becik

Di Piwulang Becik, proses pembelajaran banyak memanfaatkan fungsi Myelin. Salah satu contohnya adalah Hasan, seorang pengajar musik. Ia bercerita bahwa ia belajar bermain alat musik sejak SMP sampai sekarang. Mulai dari belajar otodidak dengan pinjam alat musik teman dan akhirnya diajari cara bermainnya, sampai bisa otomatis memainkan lagu tanpa tahu lagu tersebut sebelumnya.

Pernah suatu waktu, ia diminta bermain gitar dengan kunci yang diinstruksikan pemain kibor. Ternyata kuncinya salah, namun ia secara otomatis menyesuaikan hanya berdasarkan intuisi. Hal ini merupakan contoh muscle memory atau Myelin.

Hal menarik lainnya adalah saat biasanya ia mengajar offline namun ketika pandemi, ia harus mengalihkan seluruh pembelajaran menjadi online. Awal-awal pembiasaan rasanya sulit karena tidak familiar. Namun lama-kelamaan, berbagai masalah karena keterbatasan belajar online bisa teratasi. Salah satunya, dengan meminta murid mengirimkan karya yang kemudian dikurasi dan dibahas bersama di kelas.

Harus Tahu vs Ingin Tahu

Selain terkait pembelajaran di kelas, Hasan juga mengungkapkan contoh lain saat ia diminta menjelaskan mengenai Piwulang Becik kepada para orang tua. Berhubung  Myelin tak melulu berkaitan dengan keterampilan fisik tapi juga mindset dan mental, momen-momen seperti ini ternyata melatih Hasan untuk mengenali mana yang harus ia ketahui sebagai seorang koordinator dan mana yang berupa keinginan untuk tahu.

“Ibaratnya kita mau ke Bali. Kita harus tahu kan lewat jalan mana. Kalau nggak tahu ya cari tahu,” jelasnya. Saat ia diminta untuk menjelaskan Piwulang Becik kepada para orang tua, ia menyadari ia masih banyak hal yang ia belum tahu. Namun, tanpa mencoba terlebih dahulu, tak akan muncul keinginan untuk mencari tahu lebih lanjut. Inilah latihan mental yang terus-menerus dilakukan sampai akhirnya terbentuk Myelin yang tebal sehingga secara otomatis ia bisa memilah dan memutuskan mana yang ia harus tahu sebagai seorang koordinator untuk kemudian disampaikan pada para orang tua.

Takut Salah vs Berani Melangkah

Berhubungan dengan latihan mental, ia juga menyebutkan bahwa saat memulai hal baru, refleks selama ini adalah takut salah. Namun, ia melatih dirinya untuk mengubah mindset. “Grogi dan takut salah itu wajar. Yang penting, kita tetap berani untuk melangkah,” tambahnya. Mindset ini penting agar kita bisa terbuka akan hal-hal baru dan mau terus belajar dari kesalahan.

Mengutip kata-kata Nelson Mandela:

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.”

Mengamati Diri, Memindai Masa Depan

Ketika kita membicarakan pendidikan masa depan, apa yang kamu bayangkan? Kelas-kelas yang didukung dengan fasilitas teknologi canggih? Konten-konten pembelajaran dengan ilmu global dan berbahasa internasional? Atau justru, kamu membayangkan murid-murid di masa depan? Bagaimana pola pikir dan laku mereka? Apa saja tantangan yang akan mereka hadapi? Seperti apa ekosistem mereka belajar?

Apapun yang kita bayangkan, bisa jadi benar. Tapi pertanyaan yang paling penting untuk kita tanyakan, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk pendidikan masa depan? Kata kuncinya adalah: DIRI. Kesadaran kita untuk melihat dan memahami ke “dalam” lebih dalam sebelum bertransformasi.

Dalam buku “Theory U: Leading from the Future as It Emerges” oleh Otto Scharmer, ada sebuah model pemikiran dari Brian Arthur, seorang Economist, untuk membantu kita memahami proses transformasi diri maupun organisasi. Model ini dapat pula dipakai dalam konteks pendidikan.

Observasi. Proses mengamati, mendengar, dan merasakan ke dalam diri untuk menemukan dan membangkitkan potensi terbaik kita. Semakin lihai kita dalam mengobservasi diri, semakin peka juga kita pada sekitar, terutama dalam memahami murid-murid kita. Contoh paling mudah untuk melatih keterampilan observasi adalah mengamati emosi yang hadir. Saat marah pada murid misalnya. Apakah ada emosi lain yang lebih dalam seperti kekecewaan karena punya ekspektasi yang tidak sesuai realita? Seperti apa rasanya? Apa yang saya lihat dari murid tersebut yang memancing kemarahan saya? Apa yang tidak saya lihat? Keterampilan ini merupakan kunci dari proses transformasi.

Refleksi. Mengendapkan dan merenungkan temuan dari proses observasi tadi. Apakah ada keyakinan dan pandangan yang saya miliki yang menghambat proses memahami diri juga anak murid? Apa saja asumsi yang saya sadari? Bagaimana saya mengubah paradigma lama agar bisa melihat potensi yang selama ini tak saya sadari? Pertanyaan-pertanyaan refleksi ini bisa kita tanyakan pada diri sebelum kita bereaksi dan merespon suatu tindakan. Proses pengendapan dan perenungan ini seringkali memunculkan kesadaran baru terkait apa yang selama ini terpendam dalam diri.

Aksi. Setelah proses observasi dan refleksi, langkah terakhir adalah tindakan spontan dalam mencoba dan menyempurnakan pendekatan baru untuk melakukan transformasi. Dalam prosesnya, kita akan dihadapkan pada ketidakpastian, ambiguitas tinggi, dan rentan gagal. Maka dari itu, butuh keterbukaan untuk merangkul berbagai kemungkinan yang tak terpikirkan sebelumnya dan terus mencoba hal-hal yang mustahil. Tentunya, hal ini tidak akan bisa terlaksana tanpa proses mengamati diri dan keberanian mempertanyakan apakah asumsi yang saya miliki selama ini masih relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan masa depan?

Pada intinya, untuk dapat memindai masa depan, hal paling penting dan mendasar yang perlu kita lakukan adalah mengamati diri. Mengutip kata-kata seorang penulis bernama Shane Parrish:

Empati, Upaya “Menembus” Dinding

Dalam teori Fisika, ada Hukum Newton 3 tentang Aksi Reaksi yang berbunyi:

“Jika suatu benda mendapatkan gaya, maka benda tersebut akan memberikan kekuatan yang sama besar terhadap sumber gaya tersebut secara berlawanan.”

Contoh paling sederhananya, bila kita mendorong dinding (aksi), dinding tersebut akan berbalik mendorong kita (reaksi).

Apabila kita memandang sebuah masalah seperti menghadapi dinding, beberapa orang terus mendorong bahkan menabrak dinding sampai kelelahan sendiri. Beberapa lainnya, memutuskan menyerah dan berbalik arah.

Dua respon ini merupakan reaksi fight or flight. Wajar saja, karena merupakan insting purba manusia untuk bertahan hidup saat terancam bahaya. Namun, pernahkah kita berpikir solusi alternatif? Bagaimana ya caranya “menembus” dinding?

Kita ambil contoh seorang guru bahasa Indonesia bernama Bela. Selama ini, bahasa Indonesia dianggap membosankan dan tidak penting karena setiap hari juga berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Memahami tantangan ini, Bela ingin mengubah perspektif bahwa bahasa Indonesia itu menyenangkan. Kalau ia memaksakan pembelajaran text book pada mereka, bisa saja para murid makin merasa bahasa Indonesia membosankan. Semakin ia memaksa, pembelajaran akan semakin jauh dari kata menyenangkan. Semakin melelahkan karena hanya berusaha mendorong dinding. Persis seperti Hukum Aksi Reaksi Newton 3.

Kembali ke pertanyaan bagaimana caranya “menembus” dinding, jawabannya adalah dengan berempati. Pertanyaan berikutnya, bagaimana ya caranya Ani berempati?

  • Pertama, mencoba memahami apa yang murid tersebut pikirkan dan rasakan. Apa ya yang disukai anak-anak? Apa yang jadi tren saat ini? Apa istilah-istilah kekinian yang digunakan supaya bisa masuk ke dunia mereka?
  • Kedua, cari berbagai alternatif pembelajaran seru seperti menonton film, mendengar lagu, menyanyi bersama, main games, dan sebagainya. Kenali apa yang menjadi kesukaan mereka agar belajar terasa lebih menyenangkan.
  • Ketiga, rayakan tiap perkembangan. Dengan mengapresiasi tiap milestones dalam proses belajar, mereka akan menyadari sejauh mana mereka berkembang. Selain itu, bisa memacu semangat agar terus menjadi lebih baik lagi.

Masih banyak lagi tips lainnya. Namun pada intinya, lakukan secara perlahan dan bertahap. Dinding dalam proses belajar terkadang tak terlihat, tapi kita selalu punya pilihan. Menabrak, menghindar, atau menembus, semua tergantung kita menyikapi.

Quantum Leap, Sebuah “Lompatan” Potensi

Marvel Multiverse

Apakah kamu pernah mendengar istilah Quantum Leap? Yuk kita kenalan dengan istilah ini!

 

 

 

Tentang Quantum Leap

Quantum Leap merupakan “lompatan” yang membuat manusia mencapai potensinya secara optimal.

Kalau dalam bayanganmu lompatan itu seperti atlet yang melewati halang rintang, Quantum Leap berbeda. “Lompatan”-nya lebih menyerupai gelombang yang menembus suatu batas. Mungkin terdengar membingungkan. Untuk memudahkan, analoginya seperti ini. Bayangkan seseorang yang dalam 2 minggu bisa membuat desain 3D. Padahal, dia belum pernah pegang laptop sebelumnya. Atau seseorang dalam seminggu bisa berkomunikasi dengan orang asing. Bahkan sampai dapat pasangan. Padahal, sebelumnya dia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris.

Quantum Leap Wave

Selain itu, Quantum Leap juga bersifat probabilitas. Mungkin terjadi, mungkin tidak.

Makanya, momentum dalam Quantum Leap bisa saja datang tanpa diduga. Apabila kita tidak siap, kesempatan tersebut akan lewat begitu saja.

 

 

Contoh Quantum Leap

Kita ambil contoh Syama, seorang murid di Piwulang Becik yang terlihat pendiam di kelas. Namun, di sebuah pertunjukan drama di kelas, secara mengejutkan, banyak dialog yang diperankan Syama. Bela, guru bahasa Indonesia Syama, kaget dan tak menyangka bahwa ternyata memang selama ini Syama memperhatikan apa yang ia ajarkan. Hanya saja, ia tak banyak bicara.

Contoh lainnya, anggap saja bernama Zizi. Ia seorang difabel tuna netra yang punya keahlian di bidang musik. Saat mengajar di kelas online, Zizi dapat menghapal para muridnya hanya dari mendengar suaranya saja. Bela takjub dan terheran-heran, bagaimana Zizi bisa tau siapa saja muridnya tanpa melihat. Zizi pun tidak pernah terpikir sanggup mengajar musik.

Yang terjadi pada Syama maupun Zizi sebenarnya bukan tiba-tiba. Ada proses yang tidak terlihat.

Contohnya, bagaimana Bela memancing perlahan agar Syama berani berbicara melalui pendekatan personal, bagaimana ia pun kerap bertanya pada orang tua Syama. Apakah anaknya diam karena takut atau memang pendiam? Apakah anaknya menyukai pelajaran bahasa Indonesia? Orang tuanya bilang iya dan bilang bahwa di rumah, Syama sering cerita tentang kegiatannya.

Zizi pun demikian. Ia tidak langsung bisa lancar mengajar tapi karena terus-menerus dilakukan, lama-lama ia terampil. Keterbatasannya tak menghambat potensinya. Zizi bisa saja menolak menjadi pengajar. Namun, ia mengambil momentum untuk terus meningkatkan kemampuannya. Bahkan, kalau baik Syama, Bela maupun Zizi tidak berhenti dan puas dengan “lompatan” yang terjadi, bisa jadi ada probabilitas terjadinya Quantum Leap di momentum lain dalam hidup mereka.

Pertanyaan untuk kita refleksikan bersama: apakah saat momentum tiba, kita sudah siap untuk menembus batas-batas nalar kita? Kalau pun belum siap, apakah kita berani memulai? Ataukah kita menyerah karena merasa batas tersebut mustahil ditembus?

Setiap Orang Bisa Mengajari, Namun Mereka Belum Tentu Menjadi Pengajar Yang Baik

Setiap Orang Bisa Mengajari, Namun Mereka Belum Tentu Menjadi Pengajar Yang Baik

“Pendidikan Adalah Senjata Paling Mematikan Di Dunia, Karena Dengan Pendidikan Anda Dapat Mengubah Dunia.” –  Nelson Mandela

Dunia banyak berubah karena semakin banyak orang yang melek akan pendidikan. Tentu hal ini tidak terlepas dari peran pengajar yang berdedikasi. Kompetensi seorang pengajar tentu harus memenuhi kualifikasi yang baik agar semakin banyak generasi cerdas yang lahir dari pendidikan yang tepat. Sayangnya banyak orang yang mengira jika pengajar yang baik dinilai dari gelar yang berhasil diperoleh.

Padahal menjadi seorang pengajar tak harus memiliki gelar tentu, siapapun bisa mengajari asal ada keinginan untuk memberikan pemahaman keilmuan ke orang lain. Namun memberikan pemahaman akan suatu ilmu juga tidak boleh asal, ingat apa yang kita sampaikan kepada orang lain juga harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk itu, tidak mudah menjadi seorang pengajar, mereka harus memenuhi beberapa kualifikasi agar menjadi pengajar yang baik. Berikut ini merupakan kualifikasi pengajar yang baik, antara lain:

1.      Selalu punya energi untuk peserta didiknya

Umumnya seorang pengajar yang baik akan menaruh perhatian pada setiap peserta didiknya baik itu dalam percakapan biasa ataupun diskusi. Seorang pengajar sebaiknya memiliki kemampuan menjadi pendengar yang baik untuk peserta didiknya.

2.      Memiliki tujuan yang jelas dalam mengajar

Bukan hanya peserta didik saja, namun seorang pengajar juga harus memiliki tujuan yang jelas selama proses mengajar. Sehingga ia akan bekerja penuh agar tujuan tersebut dapat tercapai.

3.      Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif

Seorang tenaga pengajar yang baik tentu harus memiliki kemampuan disiplin yang efektif. Hal ini bertujuan untuk mengajak peserta didiknya melakukan perubahan perilaku positif selama proses belajar mengajar.

4.      Memiliki keterampilan dalam mengelola ruang belajar dengan baik

Ruang belajar bukan hanya tentang kelas dalam bentuk fisik, namun juga diskusi-diskusi virtual. Seorang pengajar yang baik tentu memiliki keterampilan dalam mengelola ruang belajarnya. Ia harus memastikan proses belajar dan bekerja berjalan secara kondusif dan efektif.

5.      Membangun komunikasi yang baik dengan orangtua

Pengajar yang baik adalah mereka yang mampu menjaga komunikasi terbuka dengan para orangtua, serta memberikan kabar tentang perkembangan anak-anaknya selama proses. Seperti perilaku, kedisiplinan, kemampuan yang dimiliki, dan isu lainnya.

6.      Memiliki harapan yang besar pada setiap peserta didiknya

Umumnya orangtualah yang memiliki harapan besar terhadap pendidikan anaknya, namun pengajar yang baik juga memiliki harapan kepada setiap peserta didiknya. Sehingga mereka akan memberikan dorongan agar setiap peserta didiknya terus bekerja keras.

7.      Memiliki pengetahuan tentang kurikulum

Kurikulum adalah hal yang penting dalam pendidikan, untuk itu seorang pengajar harus memiliki pengetahuan tentang kurikulum tersebut serta standar-standar pendidikan lainnya.

8.      Pengetahuan tentang subjek yang diajarkan

Pengajar tentu harus memiliki pengetahuan  yang luas dan memiliki minat terhadap subjek yang diajarkan. Sehingga mereka akan siap untuk menjawab pertanyaan dan membuat suasana belajar menjadi lebih menarik.

9.      Memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya

Seorang pengajar yang baik umumnya memiliki gairah untuk berbagi ilmu dan bekerja bersama peserta didiknya.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan peserta didik

Pengajar yang baik adalah pengajar yang mampu membangun hubungan yang kuat dan saling menghargai dengan peserta didiknya. Hubungan yang dibangun memiliki landasan kepercayaan yang kuat.

11. Mengajarkan peserta didiknya untuk belajar bagaimana cara belajar

Padat proses ini berarti pengajar membiarkan peserta didiknya menemukan sendiri pertanyaannya atau pertanyaan yang diajukan kepada peserta didiknya.

12. Memiliki sifat baik kepada sesama pengajar

Pengajar bukan hanya memberikan pemahaman keilmuan tapi juga memberikan contoh yang baik. Sifat yang baik seperti rendah hati, mau berbagi ilmu, fleksibel, dan berprasangka baik.

13. Memiliki pengetahuan yang memumpuni terkait media sosial

Sosial media kini menjadi sebuah gaya hidup. Banyak orang yang berperilaku baik di dunia nyata namun jahat di dunia maya. Sebagai seorang pengajar tentu mereka juga harus besikap bijak dan beretika dalam menggunakan media sosial.

Demikian kualifikasi pengajar yang baik, hal ini bukan hanya berlaku kepada tutor. Namun juga berlaku kepada orang dewasa lain yang mendampingi proses belajar anak.

Perlukah Menanamkan Jiwa Kompetitif Pada Anak?

Perlukah Menanamkan Jiwa Kompetitif Pada Anak?

Siapa yang tak bangga ketika melihat anak meraih juara dalam sebuah kompetisi? Mengikutsertakan anak dalam sebuah kompetisi atau perlombaan tentu memberikan banyak dampak, seperti menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri, menjadi dorongan untuk belajar lebih, dan menumbuhkan jiwa kompetitif. Tentu tak ada salahnya mengajak anak untuk mengikuti berbagai lomba selagi belum dewasa. Akan tetapi orangtua harus berhati-hati, karena biasanya ambisi pribadi orangtua sering kali terlibat dalam hal ini.

Sayangnya di luar sana banyak orangtua yang ingin anaknya memenangkan perlombaan sehingga menuntut anak menjadi pemenang. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi pertumbuhan anak, mereka akan mendapatkan tekanan mental yang cukup besar. Apalagi jika anak tak berhasil memenangkan perlombaan, mereka akan menyalahkan diri sendiri dan menunjukkan rasa kekecewaannya baik itu langsung maupun tidak. Jika hal ini terus terjadi, anak akan menjadi rendah diri, dan terlalu berambisi. Terlalu ambisius membuat anak melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenangnya, tanpa peduli apakah cara yang mereka lakukan itu jujur ataupun curang.

Pada kondisi itu tentu sikap kompetitif sudah tidak sehat. Jiwa kompetitif yang seharusnya mendukung anak untuk berkembang secara mental dan kemampuan, justru membuat mereka tertekan. Untuk itu, sebagai orangtua anda perlu memahami  bagaimana anak memiliki sifat kompetitif yang sehat.

Perlu dipahami jika berkompetisi tak berarti bersaing dengan orang lain, namun anak bersaing dengan dirinya sendiri. Anak harus mengusahakan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Sayangnya banyak orangtua yang tidak memahami perkara ini, sehingga mereka justru meminta anak untuk menjadi terbaik diantara teman-temannya. Untuk itu, ada kiat-kiat yang dapat diterapkan oleh orangtua untuk menumbuhkan jiwa kompetisi yang sehat pada anak.

1.      Tanamkan konsep positif tentang kompetisi

Katakan pada anak jika pencapaian bukan hanya tentang memenangkan sesuatu, akan tetapi memiliki tujuan yang jelas dan usaha meraihnya. Jika seandainya mereka mengalami kegagalan, itu bukan masalah besar, mereka justru memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman tersebut.

2.      Jadilah role model yang baik untuk anak

Anak adalah peniru yang baik. Untuk mencontohkan bagaimana persaingan yang sehat kepada anak anda bisa mengajak anak bermain bersama. berikan sikap yang baik saat anda mengalami kekalahan dan bagaimana anda memenangkan permainan.

3.      Bangun rasa empati

Kompetisi akan menjadi sehat jika orangtua mengajarkan kepada anak untuk menomorsatukan pertemanan yang baik. Ajak anak untuk tidak memikirkan dirinya sendri saja, serta membangun hubungan interpersonal yang baik. Katakan padanya jika menang dan kalah adalah hal yang biasa.

4.      Tekankan pada motivasi intrinsik

Dalam suatu kompetisi, seseorang bukan hanya di dorong oleh faktor-faktor luar seperti, kemenangan, piala, piagam, atau uang. Namun, ada faktor dari dalam diri yang turut mendorong seperti kegembiraan dan pengembangan diri. Tekankan dorongan pada anak yang bersifat intrinsik, misalnya menjadi pribadi yang lebih kuat secara mental, menumbuhkan rasa percaya diri, dan lain-lain.

5.      Keseimbangan itu penting

Ingat kemenangan bukan segalanya, saat anak merasa sedih karena tak meraih hasil yang memuaskan, maka orangtua harus memberikan apresiasi dan dorongan positif. Katakan pada anak jika ia telah mengusahakan yang terbaik. Mungkin saja, hari ini bukan hari keberuntungannya.

Ingat kompetisi yang sehat bukan berfokus pada kemenangan, namun proses yang dijalani oleh anak. Mulailah tanamkan mindset pada diri sendiri dan anak jika setiap perjuangan tentu selalu ada usaha dan progres untuk lebih berkembang.