Memelihara Bahasa, Memilih Sikap Dan Menjaga Kesopanan

Memelihara Bahasa, Memilih Sikap Dan Menjaga Kesopanan

Saat ini kita telah memasuki era digital, di mana semua kegiatan dipermudah dengan adanya internet dan perangkat teknologi yang mendukung. Adanya internet membuat kita dapat mengakses segala informasi terbaru, bahkan terhubung secara langsung dengan orang lain tak terbatas tempat dan waktu.

Banyak masyarakat yang sangat bergantung dengan adanya internet, gawai, laptop atau perangkat canggih lainnya. Hal ini tentu banyak mengubah gaya hidup masyarakat, mulai dari cara berpikir, bertindak dan berkomunikasi. Adanya sosial media misalnya, membuat kita seakan menjadi lebih mudah terhubung dengan orang lain yang sudah dikenal maupun asing. Akan tetapi dengan kemudahan akses yang diberikan, tanpa sadar kita kehilangan batas antara ranah privat dan publik.

Minimnya keterampilan komunikasi dalam ranah sosial bisa menjerumuskan seseorang pada kesalahpahaman. Kecepatan informasi dan tersebarnya informasi yang tersaji dalam layar gawai, seringkali membuat seseorang kehilangan cara mereka dalam menyaring informasi. Misalnya seperti banyak orang di luar sana yang tak bisa menempatkan bahasa pada konteksnya sehingga bahasa yang disampaikan justru mengarah pada kesalahpahaman dan berujung pada pertikaian baik secara daring maupun luring.

Komunikasi yang buruk tak hanya ditemui pada orang dewasa, hal ini juga sering ditemukan pada kalangan remaja hingga anak-anak. Banyak dari mereka yang belum tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan lawan bicaranya. Contoh sederhana, bagi masyarakat Jawa tentu mengetahui jika Bahasa Jawa terbagi menjadi empat tingkatan, yakni Ngoko Lugu, Ngoko Alus, Krama Lugu, dan Krama Inggil. Tingkatan tersebut ditujukan kepada siapa yang diajak bicara, misalnya seperti anak kepada orangtua diharapkan menggunakan Krama Inggil, sebagai rasa hormat dan kesopanan. Sayangnya, sekarang ini tak banyak anak asli Jawa yang menggunakan Krama Inggil untuk berbicara dengan orang tuanya. Justru banyak dari mereka yang menggunakan bahasa Ngoko, yang mana bahasa tersebut digunakan untuk teman sebaya.

Dapat dikatakan, bahasa yang digunakan adalah cerminan kesopanan. Oleh sebab itu pemilihan kata saat menyampaikan informasi, gagasan, ataupun kritik sangatlah diperlukan. Bahasa adalah langkah awal pada seseorang bisa berperilaku baik dengan diri maupun pada orang lain. Apabila bahasa yang seorang dengar adalah bahasa kasar, jika salah dalam memaknai maka bahasa tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan kemungkinan diterapkan juga pada orang lain. Hal tersebut juga bisa dilihat ketika seorang anak tumbuh dengan orang tua yang saling mencaci maki satu sama lain setiap harinya serta orang tua yang sering memberi label sebagai anak nakal atau bodoh. Anak bisa menginternalisasi apa yang didengar setiap harinya dan tanpa disadari bisa berpengaruh pada pembentukan karakter di kehidupan selanjutnya.

Belajar berbahasa yang baik sama artinya dengan kita berusaha mendidik pikiran dan jiwa untuk lebih sehat lagi. Selain itu, bahasa juga sangat erat dengan nilai sosial, religi, dan budaya. Menjadi penting untuk membangun budaya berbahasa yang baik di lingkungan keluarga dengan mulai menyadari setiap kata yang terucap.