Satu Hari Bersama Sheila On 7

Pagi hari, keluarga Eross Candra datang ke Piwulang Becik untuk kasih portofolio El Pitu.
Siangnya, sebelum makan siang kita ngobrol-ngobrol sama Mba Sarah (istrinya mas eross) tentang pembelajaran El Pitu selama di Piwulang Becik. Ini ngobrolnya panjang dan seru banget. Ada Mas Eross dan El Pitu di belakang kamera.

Setelah asik ngobrol, kita lanjut makan siang bareng sama teman-teman Piwulang Becik pake pepes tahu sama nasi hangat bikinan Mbak Kom.
Sorenya, kita janjian sama Mba Sarah untuk nonton konser Sheila on 7 di Saloka, Salatigaaaaaa!!

Mba Sarah baik banget kita dibantu untuk nonton konser dengan nyaman sampe kita bisa ketemu sama semua personil Sheila on 7. Mereka semua humble dan sederhana banget. Kita diajak ngobrol trus kita foto bareng deeh. Seru poooll gak akan kita lupain!
See u on the next web post

#LiveInSeries 2 – Ivo Febrian: Mengatasi Ruang Sulit

Sejarah Bergabung dalam Komunitas  

Ivo Febrian (19), seorang lulusan SMK 7 Semarang asal Kudus yang kini sedang live in di Piwulang Becik, menceritakan pengalamannya tergabung bersama komunitas. Berawal dari belajar desain dan membuat ikon dalam program magang di Karir Anak, kini ia mulai merambah ke bidang 3D. “Awalnya aku bingung mau magang di mana. Tapi di antara semua perusahaan yang ada di daftar pilihan, aku tertarik sama Karir Anak. Sebenernya aku bimbang banget pilih Internet of Things (IoT) atau desain, cuma akhirnya aku pilih desain,” kenangnya. 

Saat mempersiapkan diri untuk magang, Ivo mulai belajar menggambar 2D dan membuat ikon-ikon secara otodidak. “Aku belajar lewat Youtube. Gada kuratornya. Kuratornya diri sendiri aja. Kalau udah ngerasa bagus, udah.” 

Lambat laun, ia mulai tertarik dunia 3D dan mengulik secara mandiri dengan peralatan seadanya. “Laptopku tuh kentang kalau belajar 3D. Tapi aku pengen soalnya itu hal baru. Aku liat peluangnya tuh yang bisa 3D belum banyak. Jadi aku memutuskan buat belajar itu dengan device yang apa adanya.” Ia menyebut dirinya sebagai orang yang tidak mau kalah sehingga ia terus mengasah keterampilannya, apapun tantangannya. “Di satu sisi aku harus bisa lebih cepet tapi aku juga harus tau laptopku kemampuannya seberapa. Jadi aku harus mikir 2 kali. Kalau aku bikin yang terlalu berekspektasi tinggi, kalau device-nya nggak kuat ya sama aja.” 

Setelah 8 bulan mengerjakan proyek ilustrasi dan micro stock, oleh mentornya, Ivo ditawari untuk belajar 3D. “Wah jelas aku mau banget! Dikabarin jam 12 siang waktu makan, beres-beres, jam 1 langsung berangkat ke Salatiga,” ujarnya dengan antusias.  

Pengalaman Live In – Kebiasaan Baru yang Dibentuk 

Menjalani proses live in di Salatiga, salah satu hal yang ia rasakan berubah dari dirinya adalah bisa masak. “Selama ini aku liat aja temen-temen masak. Paling bantu-bantu sedikit. Lebih banyak melihat. Setelah pulang dari sini, aku jadi mikir. Sebenernya selama ini aku bukannya nggak bisa masak, tapi nggak berani aja. Wah, langsung aku coba lah masak yang belum pernah aku masak. Waktu itu aku coba masak bayem jagung. Aku yang sebelumnya belum pernah ke pasar, nggak ngerti caranya rebus jagung, ya gas coba aja dulu lah. Ternyata pas dicobain, masih layak buat dimakan. Emang layak sih,” ceritanya sambil tertawa. 

Untuk keseharian lainnya, ia menyebutkan ada kebiasaan baru yang dibawa dari proses live in, contohnya kebiasaan doa bersama di pagi hari sebelum mengawali kegiatan. 

Tak hanya itu, kebiasaan gotong royong dalam membersihkan lingkungan juga terbentuk selama live in. “Di sini kan kalau pagi bersih-bersih. Kewajiban semua orang yang ada di sini. Pagi bersih-bersih kebun depan, samping, kebun kopi. Ya aku seneng sih bisa ngelakuin itu karena hobiku dulu berkebun. Jadi aku menemukan hobiku lagi. Suka liat yang ijo-ijo. Karena kebiasaan itu, pagi aku nggak usah nunggu ngerjain apa atau nunggu perintah, langsung ambil sapu.” 

Meski demikian, ada satu hal yang ia ingat saat berbincang dengan Aris Prasetya (52), kepala sekolah Piwulang Becik. “Aku tuh inget banget obrolan om Aris tentang bermuka dua. Contohnya aja kalau di rumah jelek, tapi di studio pengen terlihat bagus. Itu kan jadinya nggak autentik dengan karakter diri sendiri. Capek juga ingin terlihat lebih dari apa yang dipunya. Jadi kalau di studio bersih-bersih dan pengen nunjukin sisi terbaik diriku, di rumah harusnya juga gitu,” terangnya saat menceritakan percakapan yang berkesan selama live in di Salatiga. 

Kekurangan Bukan Halangan – Kondisi Buta Warna Parsial 

Selain berbagi pengalaman live in, Ivo juga bercerita mengenai kesulitan yang ia hadapi selama ini. Industri desain sangat erat kaitannya dengan warna. Meski demikian, Ivo yang didiagnosa buta warna parsial tidak melihat hal tersebut sebagai keterbatasan. Justru, ia menjadikan hal tersebut sebagai tantangan yang perlu dihadapi, bukan dihindari. 

“Aku pertama tau aku buta warna parsial soalnya aku pengen masuk SMK. Saat aku cari-cari persyaratannya, ternyata salah satu syaratnya itu tes buta warna. Trus aku cari-cari di Youtube dan coba tes yang bentuknya lingkaran dengan angka dan warna. Loh kok jawabanku buta warna parsial semua. Trus aku riset dan tes lagi. Tapi jawabannya buta parsial terus. Di situ aku makin yakin soalnya yang orang lain bisa liat, aku nggak bisa. Sebaliknya, aku bisa liat angka ini, orang lain nggak bisa. Tapi karena aku mau masuk SMK, aku bener-bener harus mempersiapkan dengan matang, gimana caranya supaya bisa tetap diterima. Ternyata lolos.” 

Selama 3 tahun bersekolah dan setahun magang, ia berhasil melewati tantangan warna dengan strategi yang ia lakukan. “Aku jarang banget nyebutin warna. Misalkan, ini warnanya pakai ini. Jadi nggak nyebut itu warna apa, tapi nunjuk warna.” 

Namun, ada satu momen di mana akhirnya ia mengaku bahwa ia buta warna parsial. “Saat itu, aku lagi belajar ilustrasi. Di situ aku salah buat ngasih warna. Mentorku bilang ‘loh itu salah. Wah kamu buta warna ya’. Aku jawab aja ‘loh emang iya’. Mentorku kaget dan satu komunitas tau semua. Tapi aku ngerasanya itu udah waktunya aku ngaku. Toh satu tahun aku udah berhasil melewati desain yang urusannya dengan warna. Jadi aku ngeliat kekuranganku itu dicari jalannya. Dengan parsialku, aku menemukan caraku sendiri. Sekarang, aku malah menganggap kekuranganku sebagai kelebihan.” 

Mendobrak Ruang Sulit – Latihan Public Speaking 

Dari proses wawancara, sekilas Ivo terlihat sebagai orang yang lancar berbicara depan umum. Ternyata, ia mengaku dulu ia tak seperti sekarang. “Aku tuh sebenernya orangnya pendiam. Awal-awal magang aku diem aja, cuma denger orang ngomong, nggak ada interaksi sama sekali. Kalau nggak dipancing, nggak ngomong. Tapi setelah itu, aku dapet wejangan, kalau nanti aku punya studio, punya karyawan, cara ngobrolku tuh gimana? Kalau mereka salah, aku nggak bisa ajak ngobrol, jadi tambah salah, akhirnya malah jatuh semua. Di situ aku mulai sadar dan sedikit demi sedikit latihan komunikasi. Misalnya kasih tebak-tebakan. Padahal sebelumnya aku nggak pernah becanda. Pada kaget juga sih, cuma untungnya jokes-nya masih masuk. Pada ketawa,” celotehnya panjang. 

“Dari situ, aku mulai dengan ngobrol berdua, ngobrol mastermind, sampai akhirnya aku diminta untuk buka forum kecil. Di situ aku belajar menghadapi semua orang yang melihat diriku. Aku paling nggak bisa dilihat orang banyak. Itu ndredeg, pikiran nge-blank, parah pokoknya. Tapi aku jadi belajar nge-handle forum sampai disuruh mimpin forum. Wah itu tantangan paling besar sih. Awalnya cuma 5 orang, trus jadi sekitar 25 orang. Itu pengalaman yang bener-bener wow. Dari situ aku jadi paham cara bicaraku, karakterku, dan kenalan dengan orang-orang baru gimana.” 

Ivo menutup ceritanya dengan konsep yang ia pahami tentang belief system. “Kuncinya itu dari mindset. Mindset ini akan membentuk perilaku, perilaku membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang diulang-ulang akan jadi realita kita. Ini prinsip yang aku pegang selama ini.” 

#LiveInSeries 1 – Haydar Wira & Reizzan Prasetya: Berkarya Sejak Muda

Awal Mula Belajar 3D 

Sebagai anggota termuda yang melakukan project-based learning di Piwulang Becik, Haydar Wira Prasetya (13) dan Mohammed Reizzan Setyawan (14), mengaku menikmati proses menggambar 3D. “Awal mulanya aku bikin gambar cuma main-main aja. Manual, digital, trus sekarang 3D. Tertariknya karena suka animasi-animasi gitu. Lihat behind the scence-nya kan keren tuh, bikin 3D” ujar Haydar saat menceritakan asal mula ketertarikannya pada 3D. Sementara itu, Izzan menyebutkan prosesnya berkarya saat mengerjakan project di studio Kampung Becik. “Awalnya aku bikin stok ikon, trus bikin ilustrasi, dan sekarang 3D. Aku seneng gitu, pengen explore.” 

Haydar dan Izzan menjelaskan bahwa keterampilan membuat karya 3D terasah justru saat bermain game. “Tangan jadi lebih luwes saat pegang mouse,” kata Haydar. Izzan pun menyetujui. “Kalo aku emang suka main game pakai komputer gitu. Jadi pas ngerjain 3D kayak udah enak soalnya mirip-mirip.” 

Menekuni 3D sejak dini dan benar-benar terjun menghasilkan karya, Haydar dan Izzan merasakan kebanggaan tersendiri. “Aku bangga soalnya bisa ngelakuin project yang besar. Pengen nantinya jadi 3D artist,” aku Haydar. “Aku juga ngerasa bangga tapi bisa lebih baik lagi,” tambah Izzan. 

Sejauh ini, keduanya merasa senang dan belum terpikirkan untuk eksplorasi bidang lain. “Kalau penasaran bidang lain nggak ada. Masih belum ketemu yang nyenengin lagi. Masih enjoy 3D. Paling seru itu modeling,” ujar Haydar. “Tapi sebetulnya ada susahnya. 3D kan ada lighting sama texture, jadi kompleks banget,” tambahnya. 

Sebaliknya, Izzan merasa tidak terlalu sulit. “Paling susahnya itu suka ada revisi. Kadang bingung kliennya itu maunya gimana,” terang Izzan polos yang sontak diikuti anggukan setuju oleh Haydar.  

Belajar Mengenai Kecerdasan Ruang 

Selain teknis 3D, Haydar dan Izzan juga belajar hal-hal non teknis, termasuk perihal kecerdasan ruang, terutama relasi dengan Reza Ahmad Prasetya (16) sebagai mentor mereka berdua. “Sebetulnya agak susah buat bedain antara keluarga sama guru. Misalnya kalau sebagai keluarga, aku bisa minta tolong ambilin piring atau nemenin makan. Kalau sebagai guru, aku nurut soalnya masih belajar juga,” ungkap Haydar. Hal serupa disebutkan juga oleh Izzan. Ia menyadari peran saat project-based learning berbeda dengan saat di waktu luang. “Kalau di ruang kerja, mas Reza jadi mentor kita. Jadi manut gitu. Kalau lagi main ya kayak mas aja.” 

Memaknai Kesalahan dan Masalah 

Semua manusia tak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan Izzan dan Haydar. “Pernah waktu itu, sore-sore Haydar ajak aku main trus aku langsung ikut ke sana nggak pakai sendal. Nggak becek sih, tapi kan jadinya kotor. Trus ditegor om Aris. Dari situ jadi sadar kalau keluar harus pakai sendal. Jadi nggak tersinggung kalau diingetin,” kenang Izzan. “Aku juga sama. Yang lainnya aku lupa. Tapi kalau aku agak kesel juga,” sahut Haydar jujur. 

Selain kesalahan, mereka pun tak lepas dari masalah. Namun menariknya, baik Haydar maupun Izzan merasa tidak terlalu mempermasalahkan. “Aku nggak nyadar kayaknya. Nggak nganggep itu masalah. Jadi kalau ngerjain 3D kan kita perlu komputer yang spec-nya bagus. Jadinya sering nge-freeze gitu. Trus restart komputer paksa. Solusinya upgrade PC,” cetus Haydar. “Kalau aku pernah sih tapi ya kalau ada masalah trus sudah selesai masalahnya, jadi lupa,” sambut Izzan. Intinya, buat mereka berdua, tips menyelesaikan masalah adalah tidak berlarut-larut dalam masalah tersebut. Cari solusinya lalu move on.  

Proses Adaptasi di Ruang Komunal 

Berada jauh dari rumah dan belajar hidup mandiri, Izzan menceritakan pengalamannya beradaptasi dengan lingkungan baru. “Awal-awalnya kan aku di sini jauh dari orang tua. Bisa tapi aku ya kangen sih,” ungkapnya jujur. Sementara itu, Haydar merasa senang akhirnya punya teman sebaya. 

Mereka juga bercerita mengenai kebiasaan makan, terutama saat makan siang. “Kalau soal makanan, rasanya beda, tapi enak soalnya laper,” Izzan tertawa renyah. Ia juga melakukan kegiatan bersih-bersih seperti menyapu, cuci piring, dan membersihkan meja. Berbeda dengan Izzan yang lahap makan apapun, Haydar lebih memilih menu makan yang berbeda dari yang lainnya. “Soalnya di sini kebanyakan makannya sayur. Aku kurang suka,” jelasnya blak-blakan. Meski demikian, ia tetap ikut berbaur dan berkumpul saat makan siang. 

Terkait interaksi dengan teman-teman yang berbeda umur, Haydar dan Izzan tidak merasa ada perbedaan yang signifikan. Mereka bisa membaur seperti bermain game bersama, olahraga basket, menonton bioskop, dan sebagainya. “Sebenernya sama kakak-kakak di sini biasa aja sih. Manggilnya sih tetep kak, tapi ngobrolnya santai. Kalau bosen biasanya refreshing trus nyapa kakak-kakak ‘halo, lagi ngapain?’,” jelas Izzan. “Aku juga biasa aja sih. Udah terbiasa bertaun-taun main bareng beda umur,” sahut Haydar.  

Harapan ke Depannya 

Ketika bicara masa depan, baik Haydar maupun Izzan merasa ingin hidup bebas. “Kalau aku, 4-5 tahun udah ada studio jadi udah ada orang yang ngurusin,” tutur Haydar. Selaras dengan Haydar, Izzan bercita-cita ingin memulai bisnisnya sendiri. “Kalau aku ke depannya pengen punya studio juga. Umur berapanya belum tau, yang pasti aku udah tinggi,” katanya ceplas-ceplos sambil tertawa. 

Tonton wawancara lengkapnya di:

Ekosistem untuk Akselerasi Bakat

Jika pada tulisan sebelumnya kita mengulas tentang Myelin dalam konteks diri, pada tulisan kali ini kita akan melihat Myelin dalam konteks ekosistem. Bagaimana sebenarnya Myelin dapat makin menebal dalam kondisi tertentu? Apakah cukup dengan latihan?

Daniel Coyle, penulis buku Talent Code, menjelaskan bahwa kunci seorang juara dunia adalah berkat tempaan lingkungan yang tepat.  Ada fakta menarik tentang sebuah klub tenis Rusia yang berhasil mencetak petenis-petenis terbaik meski dengan fasilitas seadanya. Prestasi ini tidak pernah dihasilkan oleh klub tenis manapun di seluruh Amerika Serikat.

Apa rahasianya? Ternyata, bagaimana mereka dilatih menjadi faktor penentu yang membedakan dengan klub tenis lainnya. Atlet-atlet tersebut menjadi unggul karena sentuhan pelatih yang menciptakan program latihan yang berat untuk mengoptimalkan potensi seperti yang pernah dibahas dalam tulisan mengenai Quantum Leap.

Contoh di Lingkungan Piwulang Becik

Di lingkungan Piwulang Becik, dikenal istilah mentoring yang memang dirancang untuk melatih Myelin tersebut. Mentor bagi anak-anak adalah orang tua mereka sendiri. Ratih, salah seorang orang tua murid, menceritakan pengalamannya selama 4 tahun terakhir di Piwulang Becik. “Dulu, kita selaku orang tua diminta untuk membuat portofolio yang sekarang jadi activity log. Kalau di sekolah, guru yang nulis rapor, di sini orang tua harus bisa bekerjasama dengan anak untuk menulis portofolio.”

Meski tanggung jawab orang tua jadi lebih berat, berkat portofolio, banyak perkembangan yang sekilas terlihat kecil namun terasa berharga. Contohnya, saat anaknya yang berusia 5 tahun berhasil pakai sepatu, kancing baju, dan menguncir rambutnya sendiri. Ia catat semua dalam portofolio.

Tak cuma portofolio. Proses ia mendampingi, mendukung, dan menemukan passion anak juga merupakan tantangan tersendiri. Ia mengaku kesulitan saat mendorong anaknya lebih aktif di kelas, padahal anaknya sendiri yang memilih kelas-kelas Student Club yang ingin dihadiri. Namun seiring berjalannya waktu, mulai terlihat minat anak kecenderungannya ke mana. “Anakku ikut beberapa Student Club, tapi kelas yang dia nggak pernah skip itu Student Club memasak. Dia siapin sendiri bahan-bahannya dan aktif partisipasi di kelas. Saya lega banget akhirnya ketemu juga passion-nya. Walaupun nanti akan berubah, gapapa. Yang penting sekarang paling tidak dia sudah bisa ambil keputusan, sudah tahu kalau nggak ngerti harus nanya,” ujarnya antusias.

Selain bertanggung jawab terhadap anak sendiri, Ratih juga bertanggung jawab pada anak-anak lain dalam mengajar Student Club bahasa Inggris. “Ternyata lebih sabar ngajar anak orang lain ketimbang anak sendiri. Karena kalau anak sendiri tuh punya standar. Ekspektasinya terlalu tinggi kadang-kadang. Padahal kalau dipikir-pikir, dia kan baru 11 tahun. Harapannya udah begitu-begini. Nggak apple to apple lah kalau dibandingin sama diri sendiri di umur segini. Tapi jadi lebih aware. Bandinginnya sama dia 1 tahun yang lalu, 1 bulan yang lalu, dan seterusnya.”

Cerita Ratih tentang pengalamannya selama di Piwulang Becik ini menjadi contoh bagaimana sebetulnya ekosistem belajar yang kondusif di tengah banyaknya himpitan dan tantangan ternyata dapat mempercepat terjadinya penebalan Myelin dan membangun awareness. Tanpa stimulasi lingkungan, minat dan bakat anak tak akan cukup untuk terakselerasi secara optimal.

Seperti kutipan yang terkenal:

“Pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.”

Tips Kegiatan Belajar yang Menyenangkan untuk Anak Di Rumah

Tips Kegiatan Belajar yang Menyenangkan untuk Anak Di Rumah

Di masa pandemi sekarang tentu banyak kegiatan yang dibatasi, bahkan sekarang tidak boleh keluar rumah. Penyebaran virus yang cepat, tentunya akan mengancam kesehatan kita dan anggota keluarga yang lain termasuk anak. Untuk itu, kita harus menjaga kesehatan dengan mengikuti anjuran pemerintah #dirumahsaja.

Seperti yang kita tahu jika hampir semua kegiatan diadakan secara online, termasuk belajar. Tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua, dalam kondisi seperti ini tentu pendampingan orangtua terhadap pendidikan anak sangatlah penting.

Terkadang kegiatan belajar di rumah sering kali membuat anak-anak merasa bosan. Mereka harus mengikuti kelas virtual kemudian mengerjakan tugas. Siklus belajar yang sama dan dijalani dalam jangka waktu yang panjang tentu akan membuat anak merasa sedikit stres. Jika sudah seperti ini maka anda perlu mengganti metode belajar yang lebih menyenangkan.

Kegiatan belajar sambil bermain menjadi alternatif yang membuat anak bersemangat kembali. Akan tetapi sebelum itu ada yang harus anda buat terlebih dahulu yakni jadwal kegiatan.

Membuat jadwal harian anak

Ingatkan anak jika ini bukan libur Panjang dan diskusikan secara terbuka dengan komunikasi yang baik dengan mereka. Karena saat membuat jadwal kegiatan anak, sebenarnya anda juga mengatur jadwal anda sendiri. Beberapa yang perlu diperhatikan:

  • Jumlah tugas yang dikerjakan dan tenggang waktunya
  • Waktu beristirahat dan bermain
  • Waktu beribadah
  • Waktu tidur siang

Kegiatan belajar sambil bermain di rumah

Setelah anda mengatur jadwal kegiatan dengan baik. Selanjutnya adalah menyiasati kegiatan belajar sambil bermain. Kegiatan ini bisa menjadi quality time moment antara orangtua dan anak, ini juga menjadi kesempatan bagi anda untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik pada anak.

Anda bisa memanfaatkan barang-barang yang ada dan memilih permainan tradisional.

Permainan tradisional cenderung membutuhkan aktifitas fisik dan kerjasama tim. Sehingga secara tidak langsung anak akan berolahraga dan belajar bersosialisasi meskipun masih dalam lingkup kecil. Berikut ini adalah permainan tradisional yang bisa menjadi alternatif belajar sambil bermain di rumah.

1.      Engklek

Mungkin permainan ini sering anda mainkan saat masih kecil, sambil bernostalgia anda bisa mengajak anak untuk bermain bersama. Anda dan anak bisa menyiapkan gambar petak engklek dan gacuk. Permainan ini sangat menyenangkan dimainkan setidaknya 3-5 orang, bermain engklek dapat menumbuhkan jiwa kompetitif pada diri anak.

2.      Lompat tali

Saat ingin bermain lompat tali tentu orangtua dan anak membutuhkan tali karet yang dirangkai panjang. Bermain lompat tali sama dengan berolahraga dengan intensitas tinggi.

3.      Mengembangbiakan tanaman

Selain beraktivitas fisik, kegiatan belajar sambil bermain lainnya adalah berkebun atau menanam bunga dan tanaman hias lainnya untuk halaman rumah. Anda bisa mengajak anak untuk menanam mulai dari bijinya, atau jika memungkinkan anda bisa mengajarkan teknik mencangkok tanaman.

4.      Membuat rangkaian listrik sederhana

Anda bisa mempraktekan aliran listrik sederhana dengan kabel, baterai, dan bola lampu.

Sebenarnya masih banyak kegiatan belajar sambil bermain yang bisa anda praktekan sendiri di rumah, namun yang terpenting orangtua mampu membangun storytelling pada anak. Storytelling merupakan salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan literasi anak tanpa terbebani. Anda tak perlu menggunakan barang-barang yang canggih, anda bisa memanfaatkan benda apa saja di rumah. Jadikan kondisi ini, momentum menjadi orangtua yang edukatif mendampingi proses belajar anak dari yang mereka tak ketahui hingga hal-hal yang dipahami secara mendalam.

 

Piwulang Becik, PKBM Pilihan Kami

Piwulang Becik, PKBM Pilihan Kami

PKBM merupakan alternatif pendidikan yang sekarang ini banyak diminati oleh orangtua. Memang tak mudah bagi beberapa orangtua untuk memutuskan menyekolahkan anak mereka di PKBM dibanding sekolah formal pada umumnya. Ada banyak hal yang perlu disiapkan sebelumnya, karena kegiatan PKBM melibatkan peran orangtua yang sangat besar. Begitu juga saat Anda akhirnya memilih pendidikan alternatif maka Anda harus siap untuk turut serta dalam proses belajar anak.

Sama halnya memilih sekolah terbaik bagi anak, menentukan PKBM juga sering membuat orangtua pusing. Meskipun saat ini banyak informasi tentang berbagai Pendidikan alternatif bagi anak dengan materi belajar dan tawaran menarik lainnya. Namun sebagai orangtua tentu Anda tidak boleh salah asal pilih. Alangkah baiknya pencarian informasi tak hanya sekedar berselancar internet, namun juga lmenghubungi PKB untuk berkonsultasi secara langsung untuk memperoleh data yang lebih valid.

Umumnya dalam proses pemilihan PKBM, orangtua telah memiliki kriteria yang telah ditentukan sebelumnya  seperti lokasinya yang dekat dengan rumah, materi pembelajaran, kegiatan ekstrakulikuler yang akan diikuti oleh anak, hingga biaya yang disediakan. Meskipun bukan pendidikan formal, PKBM juga memiliki akreditasi sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan. Untuk itu, para orangtua harus benar-benar selektif dalam memilih PKBM yang tepat untuk anaknya. Salah satu PKBM yang dapat Anda pertimbangkan adalah PKBM Piwulang Becik (PBx).

PKBM Piwulang Becik merupakan PKBM yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah. PKBM Piwulang Becik didirikan oleh Bapak Aris Prasetya, dimana proses pembelajaran anak akan konsen pada ajaran kebaikan yang bersifat gotong royong. Pada PKBM ini anak bukan hanya belajar tentang literasi saja mereka akan belajar filsafat hidup yang bermakna untuk masa mendatang.

Jika ditanya Akreditasi, Piwulang Becik saat ini berakreditas C. Hal ini terbilang masih wajar dikarenakan PKBM Piwulang Becik terbilang masih baru yaitu didirikan sejak tahun 2018 lalu. Sehingga baru sedikit dari peserta didiknya yang sudah lulus. Tentu saja berbeda dengan PKBM yang menginduk ke sekolah formal baik swasta maupun negeri.

Sama halnya dengan PKBM yang lain, PKBM Piwulang Becik memiliki kontrak belajar yang harus disepakati oleh orangtua dan anak. Sebagai rekan yang akan membantu orangtua dalam mencapai tujuan pendidikan anak, tentu kesepakatan dalam kontrak harus disusun secara jelas. Mulai dari kurikulum, materi pembelajaran, tutor, hingga jangka waktu belajar.

Piwulang Becik memberlakukan kontrak belajar mandiri. Orangtua akan berlaku sebagai homeschooler yang bebas menentukan kurikulum apa yang akan digunakan. Segala pelajaran dapat diakses secara pribadi dan belajar dengan mandiri. Selain itu, anak tidak perlu mengerjakan Ujian Semester. Nilai raport akan diperoleh dari nilai akademis dan portofolio.

Penggunaan portofolio sebagai nilai raport masih terdengar asing bagi sebagian orangtua didik. Secara sederhana portofolio merupakan laporan singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak sehari-hari seperti proses pembelajaran dan proyek apa yang telah diselesaikan. Portofolio tersebut bisa berupa video, narasi pendek, dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar anak dan orangtua lebih fokus pada proses belajar anak bukan hanya sekadar nilai akademis. Nilai akademis umumnya mengacu pada kebutuhan legalitas pendidikan anak alias ijazah.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh PKBM Piwulang Becik seperti sistem pembelajaran daring yang dirancang dengan Learning Management System, sehingga cocok untuk pembelajaran jarak jauh. Selain itu, anak juga dilengkapi dengan modul belajar yang lengkap dan student Club yang mendukung mereka untuk berinteraksi dengan peserta didik lainnya lainnya.

Semoga dengan artikel ini bisa menjadi bahan pertimbangan anda memilih PKBM piwulang becik.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

Pendampingan – Bukan Ujian

Anak usia dini sampai 18 tahun-an, lebih membutuhkan pendampingan daripada ujian.

Mereka tidak sedang diuji atas pembelajaran yang telah mereka lakukan selama ini. Mereka sebenarnya sedang didampingi dalam mengembangkan pembelajarannya, dan juga dalam mengembangkan keahliannya.

Mereka akan tumbuh dengan sehat dan tenang tanpa paksaan dan tekanan jika dalam pendampingan.

Pendamping ini bisa jadi orang tuanya, ustadznya, guru atau pihak lainnya yang dipercaya dalam perkembangan anak tersebut.

 

Halal Bihalal Di Piwulang Becik

Halal Bihalal

Terimakasih teman-teman atas kehadiran, diskusi dan tentu makanan yang dibawanya :). Awal tahun ajaran 2019/2020 nanti, kita akan bersama-sama membangun Adab dan Kompetensi setiap anak, membangun kolaborasi dengan komunitas dan ekosistem lainnya dengan saling berguru, belajar dan melakukannya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H

meminta maaf adalah kelapangan
sebaliknya, menyebabkan kesempitan

memaafkan membawa Anda dalam ketenangan
tidak pernah memaafkan adalah kesombongan

maaf memaafkan adalah kasih sayang
membawa kebahagiaan

halal bihalal Piwulang Becik, Selasa 11 Juni 2019 jam 1600

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H

Assalamu ‘alaikum sahabat Piwulang Becik,

Banyak hal yang telah kita lakukan dan kami sangat berterimakasih atas partisipasi dan dukungannya selama ini. Ada suka duka, sedih gembira. Kita lalui bersama.

Maafkan kami selama ini dalam memberikan pelayanan. Dan kami telah memaafkan pula jika ada hal-hal dari teman-teman yang kurang berkenan di kami.

setiap hari tanpa maksiat, adalah hari raya.

Kini saatnya kita merayakan hari kemenangan, hari kebersamaan untuk melangkah lebih lanjut lagi.

Sukacita di Hari Kemenangan

I’ve paid my dues
Time after time
I’ve done my sentence
But committed no crime
And bad mistakes
I’ve made a few
I’ve had my share of sand kicked in my face
But I’ve come through

(And I need to go on and on, and on, and on).

We are the champions, my friends
And we’ll keep on fighting ’til the end
We are the champions
We are the champions
No time for losers
‘Cause we are the champions of the world

setiap kemenangan musti dilalui dengan pengorbanan

Selama Ramadhan ini, kita telah menunaikan kewajiban. Dari hari ke hari berjuang mengalahkan nafsu diri. Masih banyak kesalahan yang kita lakukan. Dan sedikit kebaikan yang kita kerjakan. Tapi kita terus berjuang dan berjuang. Karena kita adalah pemenang, bukan pecundang.

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Selamat bersukacita di Hari Kemenangan ini