Self-Acceptance Pada Anak, Karena Setiap Anak Berhak Merasa Berharga

Self-Acceptance Pada Anak, Karena Setiap Anak Berhak Merasa Berharga

Saat ini banyak orang yang mengkampanyekan self-love atau mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri tentu sangat penting bagi masa depan seseorang. Walau kedengarannya mudah, namun ada hal yang harus dilakukan sebelum sampai ke tahap mencintai diri sendiri yaitu dengan menerima diri apa adanya.

Sebagai manusia, kita tak bisa memilih dengan siapa kita dilahirkan, seperti apa bentuk rupa fisik kita dan berada di lingkungan seperti apa kita tumbuh. Semua adalah kehendak dari Tuhan dan manusia hanya bisa menerima. Akan tetapi, proses menerima kondisi diri merupakan suatu proses perjalanan yang penuh dengan tantangan. Alih-alih menerima kondisi,  banyak di antara kita yang justru memunculkan sikap penolakan. Sikap seperti ini tentu akan menghambat proses kita sebagai manusia untuk berkembang dan bertumbuh di masa yang akan datang.

Tak banyak orang tua yang menyadari bahwa proses penerimaan diri bisa dimulai sejak usia anak-anak. Usia emas anak adalah masa yang baik untuk menanamkan nilai yang positif soal diri sendiri maupun bagaimana beinteraksi dengan lingkungan. Mengajarkan anak tentang self-acceptance bertujuan agar mereka memiliki kebanggaan dan rasa hormat atas dirinya sendiri. Saat anak mampu melihat dirinya berharga, maka anak juga akan belajar untuk menghormati orang lain. Tentu saja banyak cara sederhana yang orang tua bisa lakukan untuk membentuk self-acceptance pada anak, antara lain:

1.      Berikan empati

Anak mungkin akan merasa kesal pada dirinya saat tidak bisa melakukan sesuatu seperti teman-temannya. Misalnya, ia merasa sedih tak mendapatkan nilai matematika yang baik. Pada momen ini peran orang tua adalah memberikan empati agar anak tak terlalu memfokuskan diri pada kelemahan. Katakan pada anak bahwa ada hal lain yang bisa mereka kuasai misalnya bernyanyi, menggambar atau membaca buku dengan lancar. Bantulah anak untuk menerima kelemahan dan mengoptimalkan kekuatan mereka.

2.      Berikan cinta dan kasih sayang tanpa syarat apapun

Cinta adalah perasaan tanpa pamrih. Untuk menumbuhkan self-acceptance pada anak orang tua sebaiknya menujukkan cinta dan kasih sayang tanpa syarat. Perasaan cinta dan kasih sayang yang diperlihatkan secara konsisten akan membuat anak merasa beruntung karena ada orang tua yang menerimanya apa adanya. Hal ini membuat mereka tak ragu untuk melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

3.      Ajak mereka untuk berani mengambil risiko

Anak tentu senang dengan eksplorasi hal baru, namun semangat eksplorasi tentu perlu diiringi dengan keberanian menghadapi risiko. Jika anak tak diajarkan pemaknaan soal bagaimana menyikapi risiko secara positif, maka bisa membuat anak takut mencoba hal-hal baru. Di sinilah peran penting orang tua yaitu membersamai anak saat eksplorasi hal baru meskipun akan mengalami kegagalan. Anak akan merasa bahwa kegagalan bukan sesuatu yang keliru dan bisa menjadi sumber pembelajaran yang berharga.

4.      Biarkan mereka mengalami kesalahan

Saat anak sudah berani mengambil risiko maka kesalahan mungkin akan mereka lakukan. Kesalahan yang dilakukan kelak akan menjadi pelajaran berharga untuk membangun rasa percaya dirinya. Pada saat kesalahan itu terjadi, janganlah memarahi anak. Lebih baik membantu anak dalam memahami kesalahan apa yang sudah ia lakukan dan bagaimana agar kesalahan tersebut tak lagi terulang. Selain itu, tak lupa juga untuk terus memberi dorongan pada anak agar tak ragu untuk berani memulai kembali.

5.      Berhenti membanding-bandingkan

Inilah kesalahan yang tak sadar dilakukan oleh banyak orang tua. Hanya karena memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda bukan berarti anak bisa dibanding-bandingkan dengan saudara kandung atau teman sebayanya. Bakat, karakter, dan kemampuan berpikir anak tentu tidak bisa disamakan dengan yang lain. Ingatlah bahwa setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, tugas kita sebagai orang tua adalah membersamainya dan membantunya menemukan jalan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya.

Demikian cara sederhana yang bisa dilakukan untuk membangun self-acceptance pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal Pendekatan Student Centered Learning

Mengenal Pendekatan Student Centered Learning

Apakah Anda masih asing dengan istilah Student Centered Learning atau SCL? SCL merupakan salah satu pendekatan pada sistem belajar yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas belajar murid. SCL ini merupakan kegiatan yang aktif melibatkan murid, di mana mereka akan diajak untuk berpikir secara kritis. Proses belajar SCL akan menuntut murid berpartisipasi dalam memahami sebuah materi, sehingga mereka didorong untuk aktif bertanya atau berpendapat selama sesi pembelajaran. Pada prosesnya pengajar akan berperan sebagai fasilitator.

Selama ini proses belajar lebih sering dilakukan dengan cara pasif, seperti metode ceramah, membaca, audio visual, hingga demonstrasi. Padahal pembelajaran pasif membuat murid hanya mampu menelaah materi sebanyak 30% saja. Hal ini berbeda jika murid diajak untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi, praktik, bahkan mengajari sesama teman. Kemampuan mereka dalam menelaah materi bisa mencapai 50% hingga 90%.

Sebenarnya Student Centered Learning hampir sama seperti metode pembelajaran transformatif lain yang memiliki beberapa cara pembelajaran, namun inti dari metode pembelajaran ini ialah berfokus pada murid. Selain itu, SCL juga menekankan pada proses perubahan kualitatif selama proses belajar, progres inilah yang akan dinilai oleh pengajar. Dapat dikatakan SCL berfokus pada proses berkelanjutan dan peningkatan pada setiap murid. Hal ini merupakan salah satu upaya memberdayakan kemampuan murid sekaligus mengembangkan pola pikir yang kritis.

Keuntungan lainnya SCL tak hanya berkutat pada materi-materi saja, namun murid akan didorong untuk belajar dari studi kasus yang ada. Mereka akan mengekplorasi secara individu maupun kelompok untuk memecahkan sebuah masalah. Lingkungan seperti ini memungkinkan murid untuk memeriksa dan menyelesaikan masalah kompleks dengan menggunakan berbagai sumber daya, mengembangkan strategi yang dimiliki, hingga bernegosiasi dalam masalah tersebut secara kolaboratif. Selain itu, murid juga lebih mengetahui bagaimana kaitannya antara ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajar turut aktif mendampingi murid selama berproses, termasuk mendorong mereka melakukan proses pencarian, diskusi, dan penyimpulan atas hasil diskusi mereka.

Meskipun demikian, pada pelaksanaan metode SCL juga menemui beberapa kendala pada kondisi-kondisi tertentu. Misalnya seperti sulit diterapkan pada kelas yang berisi jumlah murid yang banyak, adanya beberapa kurikulum yang tidak cocok dengan metode ini, serta kendala pengajar dalam menumbuhkan keaktifan pada murid. Dapat dikatakan metode pembelajaran ini memang memiliki tantangan tersendiri terlebih untuk menciptakan kemandirian serta demokrasi dalam belajar yang tidak selamanya berjalan lancar.

SCL memang lebih sering diterapkan pada kalangan mahasiswa, namun saat ini banyak lembaga pendidikan pada tingkat menengah hingga dasar yang sudah mulai menerapkan metode pendekatan ini. Mengubah pendekatan adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencapai kualitas belajar yang maksimal pada murid. Kembali lagi, kesuksesan pendekatan SCL membutuhkan kerjasama yang baik antara murid dan pengajar.

 

Interaction-Based Approach Learning, Menjalin Kedekatan Antara Pengajar, Murid, Hingga Orangtua

Interaction-Based Approach Learning,

Menjalin Kedekatan Antara Pengajar, Murid, Hingga Orangtua

 

Interaction-Based Approach Learning atau pendekatan berdasarkan interaksi menjadi salah satu metode belajar yang sangat dibutuhkan dalam proses pengajaran baik secara virtual maupun tatap muka. Banyak yang tak menyadari jika ruang-ruang belajar sering kali terasa ada batasan, khususnya antara pengajar dan murid. Pernahkah Anda mengalami situasi dimana kelas terasa sunyi saat pengajar tengah menjelaskan sebuah materi? Tak ada interaksi yang terjadi antara murid dan pengajar, bahkan saat sesi tanya jawab.

Mungkin sebagian orang menganggap kedalaman materi adalah hal yang penting, namun hal ini justru membuat kita abai dengan bagaimana membangun interaksi antara pengajar dengan murid, atapun murid dengan murid yang lain. Pemahaman materi memang penting, namun bukan berarti proses belajar hanya tentang diri sendiri. Belajar juga berkaitan dengan orang lain, ingatlah jika manusia adalah makhluk sosial. Sangat penting bagi anak muda sekarang memiliki ketrampilan sosial yang tinggi. Kemampuan sosial tentu bermanfaat bagi masa depan mereka. Untuk itu, kemampuan sosial harus mulai dilatih di lingkup yang paling kecil salah satunya ruang kelas.

Metode belajar dengan pendekatan interaksi juga bisa menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas belajar. Apalagi dalam kondisi seperti ini, interaksi antara pengajar dan murid juga perlu diprioritaskan karena jika tidak ada kedekatan yang dibangun maka materi tersebut hanya sebatas tahu saja, tanpa ada pemahaman.

Kita kurang memahami hal mendasar dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Hal mendasar tersebut ialah membangun rasa percaya dan menerima. Bagi pengajar, murid, bahkan orangtua harus bisa membangun rasa percaya dan bisa menerima satu sama lain.

Pengajar butuh percaya dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh muridnya, serta menerima jika setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Hal ini juga berlaku pada murid, mereka juga perlu membangun rasa percaya jika pengajarnya adalah orang yang bisa menjadi fasilitator yang baik dalam proses belajar mengajar. Selain itu, murid juga mau menerima materi yang diberikan oleh pengajarnya, karena mereka meyakini jika apa yang diajarkan bertujuan untuk menggali potensi.

Sedangkan pihak orangtua atau wali murid perlu menaruh kepercayaan baik pada pengajar ataupun anaknya sebagai murid. Orangtua percaya jika pengajar mampu membimbing anaknya, serta mereka menerima metode pengajaran dan peratuan yang berlaku selama proses belajar. Orangtua juga tidak segan untuk terlibat dalam proses bimbingan tersebut karena mereka percaya anaknya memiliki potensi yang unik dan harus dikembangkan oleh lingkungan. Kepercayaan orangtua ibarat sebuah restu untuk masa depan anaknya.

Kualifikasi pengajar seperti gelar, pengalaman, sertifikasi, dan kinerja ujian guru memang kini menjadi tolok ukur untuk mengetahui kapasitas yang dimilikinya. Akan tetapi, banyak yang abai dengan bagaimana guru menjalin hubungan dengan murid ataupun orangtua murid. Terkadang hubungan antara ketiganya terasa berjenjang sehingga terjadi kecanggungan, untuk itu sebaiknya kita semua mengubah kebiasaan ini. Bagi pengajar jangan ragu untuk mengabarkan kepada orangtua murid bagaimana perkembangan anak selama belajar di kelas. Ceritakan apa yang mereka pahami dan yang diminati. Perlu kita pahami bersama jika kita tak bisa menilai perkembangan anak hanya dari nilai mata pelajaran saja.

Sama halnya dengan murid, jangan pernah merasa malu untuk bertanya atau menceritakan apa yang dipahami kepada guru. Jika masih ada ketakutan dan malu untuk bertanya atau bercerita, maka murid dapat memanfaatkan ruang-ruang privat. Murid dapat bertanya secara empat mata kepada pengajar ataupun kepada sesama temannya di kelas yang dirasa memiliki kemampuan pada bidang tersebut. Bertanya secara personal dapat melatih rasa percaya diri.

Membangun kedekatan akan berdampak baik ke depannya, bukan hanya kemampuan sosialisasi namun murid akan memiliki pemahaman yang mendalam karena komunikasi berjalan baik.

Merasa dekat bukan berarti kita menghilangkan rasa hormat.

Bergotong Royong di Dunia Pendidikan

A S E S M E N

asesmen kompetensi minimum
survei lingkungan belajar
survei karakter
SBMPTN
tes potensi skolastik
tes kemampuan akademik
american SAT
cambridge A-level
swiss international baccalaureate
logika
spasial
musikal
spiritual
naturalis
linguistik
kinestetik
intrapersonal
interpersonal

L I T E R A S I

baca tulis
numerasi
sains
finansial
digital
budaya & kewarganegaraan
critical thinking
problem solving
creativity
communication
collaboration
curiosity
initiative
persistence & grit
adaptability
leadership
social & cultural awareness

S T E A M

science
technology
engineering
arts
math
coding
animation
cyber security
product design

S O C I E T Y  5 . 0

IoT
big data
psikologi
pedagogi
andragogi
heutagogi
community
ecosystem

Bingung sendirian menghadapi banyaknya informasi ?
Marilah bergotong royong & saling meringankan.
Daftar di https://tinyurl.com/PBx-formDaftar ,
atau hubungi 085890963236 (WA)

Gotong Royong di Komite Sekolah

Era Pemerintahan NKRI Setelah Kemerdekaan (1945 sampai 1966)

Sejak jaman kemerdekaan, masyarakat telah dilibatkan dalam dunia pendidikan NKRI. Dimulai dengan dibentuknya POMG (Perkumpulan Orangtua Murid dan Guru), berdasarkan UU Pendidikan No.12 Tahun 1945 Pasal 28. Bertujuan untuk memelihara hubungan yang erat antara orangtua murid, agar sekolah dapat hidup subur dan lebih sanggup memenuhi tugasnya sebagai tempat yang membentuk manusia yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.

Namun beberapa tahun kemudian, dalam pelaksanaannya diterpa isu bahwa guru-guru telah menyalahgunakan keuangan POMG, yang mengakibatkan terbentuknya POM (Perkumpulan Orangtua Murid) saja, tanpa guru.

Pemerintahan Masa Orde Baru (11 Maret 1966 hingga 1998)

Di era orde baru, POM diganti menjadi BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan) berdasar surat keputusan Nomor:17/1974, tanggal 20 Nopember 1974, yang ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri dan Menteri P&K. Bertujuan meningkatkan hubungan yang erat dan kerja sama serta tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah untuk menyempurnakan kegiatan pendidikan.

BP3 diperkuat dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0293/U/1993.

Sejarah pendidikan di era orde baru dipenuhi dengan berbagai kepentingan politik dan industri yang berbenturan dengan budaya kita sendiri. Apa yang tertulis pada sebuah kebijakan beserta jargonnya, terlihat bagus, tetapi dalam pelaksanaannya berbeda. Dan meskipun orde baru sudah tumbang, tetapi dampaknya masih berlanjut.

Pemerintahan Masa Reformasi (sejak 1998)

Di tahun 2000an, dikenalkan istilah MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang diadopsi dari negara maju. Dimana dalam penerapannya adalah dengan membentuk Komite Sekolah (KS).

Dasar hukum Komite Sekolah adalah Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), yang kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. tentang Dewan Pendidikan dan Komite sekolah. Pasal 1 butir (2) disebutkan bahwa;
“ Pada setiap satuan pendidikan atau kelompok satuan pendidikan dibentuk Komite Sekolah atas prakarsa masyarakat, satuan pendidikan, dan/atau pemerintah kabupaten/kota.”

Dan untuk sosialisasinya, dibuatlah iklan di televisi tentang Komite Sekolah ini. Tapi … peranan KS yang ditonjolkan adalah fungsi pengumpulan dana dari wali murid, seperti dana untuk mengganti genteng yang bocor dan tembok yang rusak. Dan dalam prakteknya, fungsi KS ini memang sering dipakai untuk penggalangan dana dari orang tua dalam mendukung kegiatan di sekolah.

Secara operasional, tugas dan wewenang Komite Sekolah, disebutkan:
a) Mendorong dan meningkatkan hubungan baik antara masyarakat, sekolah maupun pemerintah.
b) Membantu kelancaran kegiatan pendidikan dan tidak mencampuri urusan teknik pengajaran sekolah yang menjadi wewenang kepala sekolah, guru dan pengawas.
c) Mengusahakan bantuan dari masyarakat, baik berupa benda, uang maupun jasa dengan tidak menambah beban wajib bayar.
d) Memberikan perimbangan kepala sekolah dan kepada perwakilan Depdikbud tentang permohonan keringanan atas permohonan wajib bayar.

Padahal, di negara maju, peran Komite Sekolah adalah untuk mendorong terjadinya demokratisasi penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah, seperti pemilihan kepala sekolah, penentuan seragam sekolah, kurikulum, buku pelajaran, dan tata tertib di sekolah.

MBS dan KS ini sebenarnya telah mendapatkan payung hukum yang kuat di UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas/SPN). Pasal 1 butir 25 menyebutkan bahwa;“Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orangtua/wali, peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan”.

Dimana dalam Pasal 54, mengatur tentang partisipasi masyarakat :
1. Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
2. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

Secara regulasi, bahkan ada tiga yang terkait Komite Sekolah, yaitu:
1. Kepmendiknas Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
2. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3. PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Anggota Komite Sekolah

Keanggotaan Komite Sekolah sesuai PP Nomor 17 Tahun 2010, pasal 197, diatur sebagai berikut:
Anggota komite sekolah/madrasah berjumlah paling banyak 15 (lima belas) orang, terdiri atas unsur:
1. Orang tua/wali peserta didik paling banyak 50%.
Catatan: orang tua/wali peserta didik yang dimaksud adalah yang anaknya masih aktif bersekolah di sekolah yang bersangkutan.
2. Tokoh masyarakat paling banyak 30%.
Catatan: tokoh masyarakat yang dimaksud adalah tokoh formal dan informal yang ada di lingkungan sekolah, diantaranya: tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah setempat (RT, RW, Lurah, Camat, dan pihak terkait lainnya) serta alumni.
3. Pakar pendidikan yang relevan paling banyak 30%.
Catatan: pakar pendidikan yang dimaksud adalah tokoh/pegiat yang memiliki keahlian dan kepedulian terhadap pendidikan. Unsur ini bisa berasal dari perguruan tinggi, organisasi profesi tenaga kependidikan, LSM, dunia usaha/industri.

Masa jabatan keanggotaan komite sekolah/madrasah adalah 3 (tiga) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.

Peran Komite Sekolah

Sedangkan peran KS, lebih kurang adalah sebagai berikut:
1. Fasilitator
Menerima masukan dari orangtua, menggali keterangan lebih lanjut, menyimpulkan pendapat mereka, dan membuat program yang melayani kebutuhan tersebut.

2. Katalisator
Yang menyebabkan dan mempercepat terjadinya perubahan ke arah lebih baik.

3. Komunikator
Menyampaikan pesan kepada seluruh orangtua siswa, dan juga memberikan respons dan tanggapan, serta menjawab pertanyaan dan masukan yang disampaikan oleh orangtua, sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman bersama dengan warga sekolah.

4. Inspirator
Memberi inspirasi dan sumber yang menggerakkan seluruh warga untuk terus bersemangat dalam mengembangkan dunia pendidikan dan memberi layanan terbaik, pada situasi yang menyenangkan, maupun dalam situasi sulit.

Semangat Gotong Royong di Komite Sekolah

Dari sejarah di atas, kita bisa membaca bahwa ada jurang perbedaan yang mencolok antara kebijakan dan pelaksanaan. Dalam pelaksanaannya, ada dua kubu ekstrim: KS dijadikan alat pembenaran kebijakan sekolah yang buruk, di lain pihak terjadi tuntutan yang berlebihan dari pihak orangtua terhadap sekolah.

Mari kita kembalikan fungsi KS kepada fungsi asli bangsa kita: gotong royong. Dengan semangat gotong royong, kita selalu menghindari saling menuntut, karena yang ada adalah saling meringankan. Dalam gotong royong juga tidak saling memanfaatkan secara negatif, tetapi saling membantu untuk menyelesaikan masalah.

Dengan gotong royong, juga tidak saja berkutat dengan lingkungannya sendiri, tetapi juga lingkungan sekitarnya. Misal ikut serta mengentaskan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Mari kita sikapi keberadaan KS ini dengan positif, demi kemajuan pendidikan anak bangsa kita sendiri.

catatan:
Beberapa kutipan diambil dari buku “Melawan Liberalisasi Pendidikan”, tahun 2014, yang ditulis oleh Darmaningtyas, Edi Subkhan dan Fahmi Panimbang.

Mengkultuskan Ujian dan Ijazah ?

“Ki Hajar ternyata pernah mengkritik pendidikan nasional kita. Ini sebenarnya kita sudah merespons dalam Merdeka Belajar, kita coba untuk memindahkan fokus dari Ujian Nasional yang berbasis kepada mapel, kepada Asesmen Kompetensi Minimum yang sifatnya literasi, numerasi, karakter. Sifatnya lintas mapel dan fleksibel,”

Demikian ungkap Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril pada webinar bertema “Kebijakan Pendidikan terkait Guru dan Tenaga Kependidikan” yang diselenggarakan oleh Pusdatin Kemendikbud, Selasa (15/9/2020).

Dan beliau memandang apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara berikut, layak untuk dijadikan bahan refleksi tentang kondisi saat ini.

“Ini pesan Ki Hajar di tahun 1956 dan saya rasa ini masih relevan untuk kita berefleksi apakah kita sudah bergerak dari sini atau masih tergerak dalam cara berpikir yang mengultuskan ujian dan tidak menumbuhkembangkan secara holistik. Jadi ini sebenarnya sudah lama diingatkan oleh bapak pendidikan kita,”

Ki Hajar pernah melakukan kritik terhadap pendidikan Indonesia melalui pernyataannya pada tahun 1956:

“Kita lihat di zaman sekarang masih terpakainya bentuk-bentuk rumah sekolah, daftar-daftar pelajaran yang tidak memberi cukup semangat mencari ilmu pengetahuan sendiri, karena tiap-tiap hari, tiap-tiap tri wulan, tiap-tiap tahun, pelajar-pelajar kita terus menerus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam school raport-nya atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini sebaiknyalah kita para pemimpin perguruan, bersama-sama dengan Kementerian P.P. dan K, mencari bagaimana caranya kita dapat memberantas penyakit examen cultus dan diploma jacht itu.

Examen cultus berarti mengultuskan ujian. Sedangkan diploma jacht berarti mengejar-ngejar ijazah.

referensi:
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/memberantas-penyakit-yang-mengultuskan-ujian (17 September 2020)

Paket A Mulai Kelas 1 atau 4 ?

Paket A dimulai dari awal Tingkatan 1 (Kelas I).
Calon peserta didik bisa langsung ke Tingkatan 2 (Kelas IV) jika memiliki satu dari dua hal ini:
– sertifikat SUKMA Lanjutan (Surat Keterangan Melek Aksara Lanjutan), atau
– memiliki rapor kelas III semester genap SD/MI

Untuk diketahui, pembagian Tingkat dan Kelas saat ini adalah sebagai berikut:
– Tingkat 1 (Kelas I – III) – SD
– Tingkat 2 (Kelas IV – VI) – SD
– Tingkat 3 (Kelas VII – VIII) – SMP
– Tingkat 4 (Kelas IX) – SMP
– Tingkat 5 (Kelas X) – SMA
– Tingkat 6 (Kelas XI – XII) – SMA

Pembelajaran di Tingkat 1 (Kelas I – III)

Hakekat muatan kurikulum Tingkat 1 adalah : membaca, menulis dan berhitung (calistung). Tingkatan 1 lebih membutuhkan bahan ajar dengan pendekatan tematik, bukan mata pelajaran. Karena peserta didik (dalam usia sekolah) di tingkat 1 ini belum bisa membaca dan belajar secara mandiri.

Bahan ajar tematik ini berdasarkan silabus atau kompetensi dasar yang sudah diterbitkan oleh Kemendikbud. Bahan ajar ini bisa sangat berbeda antar wilayah, sesuai dengan kondisi dna lingkungan wilayahnya sendiri-sendiri.

referensi:
https://fauziep.com/tingkatan-1-tidak-ada-modul-kenapa/ (4 September 2020)

catatan:
Pbx sudah mencoba, tetapi belum mendapatkan kepastian apakah ujian utk mendapatkan sertifikat SUKMA ini bisa dikerjakan secara daring atau tdk, di era wabah corona ini. Mengingat saat ini banyak anak HS yg tdk pernah bersekolah sama sekali dan ketika menginjak usia 10 tahun, ingin langsung masuk kelas 4 SD (Tingkat 2). Dimana kebanyakan mereka belajarnya di https://www.ixl.com/ atau situs online lainnya, dengan hasil nilai yang bagus kalau dinilai dari *kemampuan calistung* nya.

Urutan Pendaftaran & Pembelajaran di PKBM Piwulang Becik

bergotong royong
menghaluskan budi
menguatkan jati diri
meningkatkan nalar
melalui belajar mengajar

PBx masih membuka pendaftaran bagi anak yg belum terdaftar bersekolah, untuk tahun ajaran 2020/2021.

Silakan isi formulir pendaftaran ini sesuai dengan ketentuan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) untuk menghindari kesalahan penulisan nama di Dapodik, Rapor dan Ijazah. Dapodik menghendaki data rinci siswa, dimana memuat tinggi/berat badan, dll nya.

Kelengkapan dokumen bisa discan/foto secara jelas shg bisa dibaca, kmd email ke admin@piwulangbecik.org :
1. Akta Kelahiran
2. KK (Kartu Keluarga)
3. KTP Orang Tua/Wali/KTP Siswa (jika sudah mempunyai)
4. Foto (bisa difoto memakai telepon seluler)
5. Rapor sebelumnya
6. Ijazah Sebelumnya

Hormat kami,
Administrator PKBM Piwulang Becik

catatan:
pengisian formulir pendaftaran ini tidak serta merta diterima di PKBM Piwulang Becik. Jika tidak memenuhi syarat tersebut di atas, maka PKBM Piwulang Becik mempunyai hak untuk menolak pendaftaran tersebut.

Siaran Pers 4 Kementerian Untuk Pembelajaran di Masa Pandemi

Keputusan bersama 4 Kementerian telah disiarkan hari Senin 15 Juni 2020 dan rekamannya bisa dilihat di channel youtube Kemdikbud RI ini.

Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru di Masa Pandemi Covid-19 bisa dibaca di link berikut

Dan mbak Tami di akun Facebooknya pun telah membuat ringkasan yang bagus. Atas izin mbak Tami, kami sertakan rangkuman tersebut di sini.

Alhamdulillah, barusan banget sudah keluar press release resmi dari Kemendikbud RI (bisa cek di channel yutubnya) tentang Tahun Ajaran Baru 2020/2021 yang akhir akhir ini memunculkan banyak keresahan di orang tua.

Berikut ini saya coba summary-kan beberapa poin penting yang disampaikan oleh Mas Menteri terkait kebijakan Tahun Ajaran Baru yang akan berlangsung di masa pandemi ini. Untuk penjelasan lebih lengkap dan rincinya, bisa langsung dibaca satu persatu di slide yang saya sertakan di postingan ini ya.

1. Tahun ajaran tetap berlangsung di Bulan Juli 2020, TAPI Kemendikbud mengizinkan dibukanya pembelajaran tatap muka HANYA di zona hijau dengan syarat berlapis dan protokol kesehatan yang sangat ketat

2. Selain zona hijau, pembelajaran tatap muka TIDAK BOLEH dilakukan. Tahun ajaran tetap dimulai Juli, tetapi dilaksanakan melalui metode daring (online) sampai kondisi dinilai membaik

3. Pada zona hijau, HANYA jenjang SMP & SMA (dan setara) saja yang boleh melakukan pembelajaran tatap muka. JIKA dinilai kondisi tetap aman (status zona hijau), akan diikuti oleh jenjang Sekolah Dasar setelah 2 bulan ke depan, lalu diikuti lagi oleh jenjang PAUD 3 bulan setelahnya

4. JIKA status wilayah turun dari zona hijau, maka pembelajaran tatap muka WAJIB dihentikan

5. Meskipun zona hijau sudah memenuhi syarat berlapis dan protokol ketat, sehingga memutuskan untuk mengadakan pembelajaran tatap muka, orang tua PUNYA HAK AKHIR untuk memutuskan apakah anaknya akan mengikuti belajar di sekolah atau memilih belajar secara daring saja dari rumah

6. Pada zona hijau, kapasitas kelas WAJIB dikurangi dengan ketentuan maksimal 50% dari kapasitas awal, atau sekitar 18 siswa saja di setiap kelas

7. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tadinya memiliki aturan persentase tertentu untuk alokasi tertentu, selama masa pandemi ini direlaksasi tanpa batasan. Tiap sekolah BERHAK melakukan perubahan persentase untuk alokasi penting yang dianggap perlu untuk mendukung program belajar dan kesejahteraan guru

8. Khusus untuk jenjang Pendidikan Tinggi (kampus) tetap dilakukan pembelajaran secara DARING (online) di SEMUA ZONA, termasuk zona hijau. Kampus dianggap memiliki kemampuan & sumber daya yang lebih siap untuk meneruskan pembelajaran secara daring

9. Tetapi, ada kebijakan khusus untuk aktivitas belajar di level Perguruan Tinggi yang dianggap sangat penting dan berhubungan dengan kelulusan mahasiswa, yang sulit dilakukan secara daring (praktikum lab atau bengkel, misalnya). Khusus untuk kondisi tersebut, mahasiswa diperbolehkan datang ke kampus dengan menerapkan protokol yang sangat ketat

10. Kebijakan dan keputusan untuk unit pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama (RA, MI, MTs, MA, dan Pesantren), kurang lebih akan sama tapi baru akan diumumkan resmi oleh Kemenag sekitar 2 hari ke depan

***

Kebijakan di atas disebut oleh Mas Menteri sebagai “metode relaksasi yang PALING konservatif“, paaliing perlahan, dan paaliiing bertahap. Karena tujuan utama dari kebijakan ini adalah KESELAMATAN. Baik bagi anak, orang tua, guru, dan segenap staf pendidikan lainnya. Fyi, zona hijau saat ini cuma ada kurang dari 90 kota/kabupaten loh. Atau sekitar 6% dari populasi saja. Loud & Clear ya Parents..

Pemerintah sudah menetapkan kebijakan yang menurut saya cukup berimbang dengan kondisi pandemi di negara kita saat ini. Kalo kata Mas Menteri, kebijakan yang di-release hari ini adalah hasil rekomendasi dari banyaak sekali pihak, dengan mempertimbangkan banyaaak sekali faktor. Tapi intinya tetep sama ye : Corona itu emang BAHAYA.

Kalo kagak bahaya, ngapain cobak Mas Menteri ribet ngomong panjang lebar sore sore begini. Mending waktunya dia pake buat maen PS 5 yekan, WKWKW. Nah sekarang tinggal kita yang aktif ambil peran dan berusaha menjalankannya dengan sungguh sungguh. Sekolah sungguh sungguh merancang proses belajar daring agar bisa efektif buat siswa … Guru sungguh sungguh melaksanakan tugas mengajarnya meskipun dilaksanakan secara online … Para Ibu sungguh sungguh memperpanjang kesabaran menemani anaknya belajar di rumah … Para Ayah sungguh sungguh berusaha meluangkan waktu mendampingi anak sepulang bekerja …

Dan Saya pun sungguh sungguh ngiklanin buku edukatif anak di timeline Anda #EGimana~ stay safe & healthy, Parents! We shall overcome!
⭐ Jayaning Hartami

Pembelajaran di PKBM Piwulang Becik

Piwulang Becik adalah ruang belajar untuk mendalami minat serta mengembangkan karakter yang baik bagi anak dan orang tua. Dengan landasan filosofis bahwa anak adalah pelaku utama, orang tua adalah pendamping dan PKBM Piwulang Becik (PBx) adalah pendukung, maka setiap anak akan melakukan hal sebagai berikut.

1. Kontrak Belajar

Anak, dengan pendampingan orang tua, menentukan kurikulum dan metode pembelajarannya, kemudian menuangkan kesepakatan tersebut ke dalam Kontrak Belajar (KB) yang ditandatangani oleh orang tua dan pihak PBx. Tagihan pembelajaran diberikan di akhir semester dan tahun ajaran. Dengan KB dan tagihannya ini, anak belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Inti Kontrak Belajar adalah:
– Minat utama yang akan dikembangkan (anak sebagai pelaku utama)
– Modul pelajaran wajib (anak mengikuti aturan negara)
– Pelajaran spiritual (anak dan orang tua dalam mengembangkan karakter)

2. Setara Daring Modul

PBx memanfaatkan layanan dari Kemdikbud dalam mengerjakan modul pelajaran. Modul pelajaran wajib adalah: PPKN, IPS (atau Sejarah), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA (atau Ilmu Sains / Ilmu Sosial / Ilmu Bahasa).

Semester I: modul 1, modul 2, modul 3
Semester II: modul 4, modul 5

3. Portofolio

Lifeskill atau keterampilan hidup anak diperlihatkan dengan portofolio yang dikumpulkan di akhir semester dan juga akhir tahun ajaran.

4. Rapor

PBx menawarkan penilaian kuantitatif dengan mengerjakan soal di Setara Daring, dan penilaian kualitatif dari aktivitasnya di Student Club atau Student Project memakai Microsoft 365 dan portofolio yang telah dibuatnya. Jika anak dan orang tua mempunyai pilihan lain, dimusyawarahkan di KB untuk mendapatkan kesepakatan.

Bagi anak yang berada di kelas 6, 9 atau 12, ada beberapa program lagi yang akan ditempuh:

5. UPK (Ujian Pendidikan Kesetaraan) / Ujian Sekolah

UPK hanya untuk mata pelajaran wajib dan peminatan (bagi kelas 12). Di tahun ajaran 2020/2021 kemungkinan diganti dengan Ujian Sekolah (US) saja.

6. Berita Acara Kelulusan

Setelah mengerjakan UPK/US, anak akan mendapatkan SKL (Surat Keterangan Lulus).

7. Ijazah

Tahun ajaran 2018/2019 Ujian Nasional (UN) harus diadakan di kota tempat PKBM berdiri. Tahun ajaran 2019/2020 diganti dengan Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) yang bisa dilakukan secara daring oleh satuan pendidikan yang terakreditasi. Tahun ajaran 2020/2021 diganti dengan Ujian Sekolah, dan Asesmen Nasional bagi sebagian siswa yang dipilih oleh Diknas. Berita Acara (BA) menghasilkan Surat Keterangan Lulus (SKL) yang dipergunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ijazah diberikan setelah semua proses terpenuhi, mulai dari rapor, portofolio dan Ujian Sekolah.

Ke tujuh poin di atas adalah konsep pembelajaran yang akan ditempuh anak.
Lantas, bagaimana penerapannya? PBx telah menyederhanakan konsep di atas, sehingga teknis pembelajarannya menjadi mudah dan menyenangkan.

Penjurusan di Kelas 10 sampai 12

PBx membuka jalur peminatan : Matematika & Ilmu Alam / MIA (Matematika, Biologi, Fisika, Kimia), Ilmu-Ilmu Sosial / IIS (Sejarah, Ekonomi, Sosiologi, Geografi) dan Ilmu Bahasa & Budaya / IBB (Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Bahasa Asing Lain, Antropologi).

Kelompok Bermain

PBx juga memberikan layanan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun di Kelompok Bermain.

Student Club

PBx memberikan layanan menggunakan Microsoft 365 for Education, Setara Daring, Zoom dan Telegram Group untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Info tentang kegiatan PBx bisa diikuti di Instagram, Facebook, dan Youtube. Dimana orang tua dan anak di PBx mempunyai hak yang sama dalam belajar dan mengajar di Student Club/Project, mengikuti koridor kesopanan, kepatuhan kepada orang tua dan aturan negara, dalam mengembangkan 4C’s (Critical Thinking & Problem Solving, Communication, Collaboration, Creativity & Innovation) melalui STEAM (Science Technology Engineering Arts Math) yang disederhanakan.

Setiap Anak Unik

Karena setiap anak memiliki keunikannya masing-masing, maka setiap anak di PBx akan memiliki pembelajaran yang berbeda-beda pula. PBx menerapkan Education for All (pendidikan bagi semua) dan No One Left Behind (tidak ada yang dtinggalkan), sehingga apapun keadaannya … anak berhak mendapatkan pendidikan yang baik dan diakui oleh negara.

Tanya Jawab:

1. Untuk anak HS, apa cukup mengerjakan soal di setara daring yang bisa dikerjakan kapan saja selama 1 tahun ajaran?
[jawab]
Setara daring dikerjakan kapan saja, tetapi dalam rentang waktu 1 semester untuk mendapatkan rapor per semester. Soal di setara daring semuanya pilihan ganda.

2. Bagaimana dengan nilai tugas? apa dari tugas-tugas di SC?
[jawab]
Ya, dengan mengerjakan tugas di Student Club, maka sudah mencukupi untuk mendapatkan nilai di rapor.

3. Bagaimana dengan ujian semester dan ujian kenaikan kelas?
[jawab]
Tidak ada UTS (Ujian Tengah Semester) atau UKK (Ujian Kenaikan Kelas). Dengan mengerjakan pilihan ganda modul dan tugas di Student Club, plus Portofolio maka anak akan mendapatkan rapor semester dan akhir tahun ajaran.

4. Kalau tidak salah, belum ada kelulusan di PBx ?
[jawab]
PBx sudah meluluskan siswa setara SD, SMP dan SMA di tahun ajaran 2019/2020.

5. Ujian kenaikan kelas bisa dilakukan secara online tapi khusus ujian kelulusan harus melalui ujian tatap muka. Bagaimana dengan PBx sendiri ? Mengingat lokasi PBx yang cukup jauh di salatiga
[jawab]
Betul bahwa di tahun ajaran 2019/2020, UN dihapuskan, demikian pula di tahun ajaran 2020/2021. Pengganti UN adalah UPK (Ujian Pendidikan Kesetaraan) yang di tahun ajaran 2019/2020 dikerjakan secara online, bisa dikerjakan dari rumah dan tidak perlu datang ke PBx di Salatiga, Jawa Tengah.
Untuk tahun ajaran 2020/2021, PBx akan mengikuti peraturan dari pemerintah yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat.

6. Apakah setiap kelas ada modulnya dari kelas 1 sampai 6 SD?
Karena ada info klu modul dr pemerintah baru disediakan di kelas 4 ke atas.
[jawab]
PB telah menyediakan modul dari kelas 4 sampai 12.
PB telah juga menyediakan sistem pembelajaran tematik untuk kelas 1 sampai 3.
Semuanya sudah PBx sediakan di Setara Daring.

7. Untuk anak baru bergabung dan tahun ajaran baru ini masuk kelas 2, bagaimana dengan rapor kelas 1 yang sudah lewat?
[jawab]
Menurut Permendikbud RI nomor 43 Tahun 2019,
untuk mendapatkan ijazah setara SD : wajib menyelesaikan pembelajaran dari kelas I sampai kelas VI.
untuk mendapatkan ijazah setara SMP : wajib menyelesaikan pembelajaran dari kelas VII sampai kelas IX.
untuk mendapatkan ijazah setara SMA : wajib menyelesaikan pembelajaran dari kelas X sampai kelas XII.
Bagi yang belum menyelesaikan kelas sebelumnya, akan dilihat keadaannya dan solusinya adalah case by case. Sembari menunggu pemerintah menyediakan placement test.

8. Bagaimana PBx membantu mengetahui minat utama anak? Apa ada tools nya?
[jawab]
PBx tidak menyediakan tools atau metode apapun untuk mengetahui minat anak. Perkembangan minat anak adalah sebuah proses. Orang tua mempunyai peran besar dalam mendampingi anaknya dalam proses pengembangan minat ini. Dan semua pendamping di PBx secara gotong royong memberikan berbagai pilihan kegiatan melalui Student Club, yang dapat membantu anak mengembangkan minatnya.

Dengan semangat bergotong royong, PBx masih membuka kesempatan kepada anak yang belum terdaftar bersekolah di tahun ajaran 2020/2021.

Silakan isi formulir pendaftaran ini  sesuai dengan ketentuan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) untuk menghindari kesalahan penulisan nama di Dapodik, Rapor dan Ijazah. Dapodik menghendaki data rinci siswa, dimana memuat tinggi/berat badan, dll nya.

Kelengkapan dokumen bisa discan/foto secara jelas shg bisa dibaca, kmd email ke admin@piwulangbecik.org :
1. Akta Kelahiran
2. KK (Kartu Keluarga)
3. KTP Orang Tua/Wali/KTP Siswa (jika sudah mempunyai)
4. Foto (bisa difoto memakai telepon seluler)
5. Rapor sebelumnya
6. Ijazah Sebelumnya

Hormat kami,
Administrator PKBM Piwulang Becik

catatan:
pengisian formulir pendaftaran ini tidak serta merta diterima di PKBM Piwulang Becik. Jika tidak memenuhi syarat tersebut di atas, maka PKBM Piwulang Becik mempunyai hak untuk menolak pendaftaran tersebut.