Interaction-Based Approach Learning, Menjalin Kedekatan Antara Pengajar, Murid, Hingga Orangtua

Interaction-Based Approach Learning,

Menjalin Kedekatan Antara Pengajar, Murid, Hingga Orangtua

 

Interaction-Based Approach Learning atau pendekatan berdasarkan interaksi menjadi salah satu metode belajar yang sangat dibutuhkan dalam proses pengajaran baik secara virtual maupun tatap muka. Banyak yang tak menyadari jika ruang-ruang belajar sering kali terasa ada batasan, khususnya antara pengajar dan murid. Pernahkah Anda mengalami situasi dimana kelas terasa sunyi saat pengajar tengah menjelaskan sebuah materi? Tak ada interaksi yang terjadi antara murid dan pengajar, bahkan saat sesi tanya jawab.

Mungkin sebagian orang menganggap kedalaman materi adalah hal yang penting, namun hal ini justru membuat kita abai dengan bagaimana membangun interaksi antara pengajar dengan murid, atapun murid dengan murid yang lain. Pemahaman materi memang penting, namun bukan berarti proses belajar hanya tentang diri sendiri. Belajar juga berkaitan dengan orang lain, ingatlah jika manusia adalah makhluk sosial. Sangat penting bagi anak muda sekarang memiliki ketrampilan sosial yang tinggi. Kemampuan sosial tentu bermanfaat bagi masa depan mereka. Untuk itu, kemampuan sosial harus mulai dilatih di lingkup yang paling kecil salah satunya ruang kelas.

Metode belajar dengan pendekatan interaksi juga bisa menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas belajar. Apalagi dalam kondisi seperti ini, interaksi antara pengajar dan murid juga perlu diprioritaskan karena jika tidak ada kedekatan yang dibangun maka materi tersebut hanya sebatas tahu saja, tanpa ada pemahaman.

Kita kurang memahami hal mendasar dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Hal mendasar tersebut ialah membangun rasa percaya dan menerima. Bagi pengajar, murid, bahkan orangtua harus bisa membangun rasa percaya dan bisa menerima satu sama lain.

Pengajar butuh percaya dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh muridnya, serta menerima jika setiap murid memiliki keunikannya masing-masing. Hal ini juga berlaku pada murid, mereka juga perlu membangun rasa percaya jika pengajarnya adalah orang yang bisa menjadi fasilitator yang baik dalam proses belajar mengajar. Selain itu, murid juga mau menerima materi yang diberikan oleh pengajarnya, karena mereka meyakini jika apa yang diajarkan bertujuan untuk menggali potensi.

Sedangkan pihak orangtua atau wali murid perlu menaruh kepercayaan baik pada pengajar ataupun anaknya sebagai murid. Orangtua percaya jika pengajar mampu membimbing anaknya, serta mereka menerima metode pengajaran dan peratuan yang berlaku selama proses belajar. Orangtua juga tidak segan untuk terlibat dalam proses bimbingan tersebut karena mereka percaya anaknya memiliki potensi yang unik dan harus dikembangkan oleh lingkungan. Kepercayaan orangtua ibarat sebuah restu untuk masa depan anaknya.

Kualifikasi pengajar seperti gelar, pengalaman, sertifikasi, dan kinerja ujian guru memang kini menjadi tolok ukur untuk mengetahui kapasitas yang dimilikinya. Akan tetapi, banyak yang abai dengan bagaimana guru menjalin hubungan dengan murid ataupun orangtua murid. Terkadang hubungan antara ketiganya terasa berjenjang sehingga terjadi kecanggungan, untuk itu sebaiknya kita semua mengubah kebiasaan ini. Bagi pengajar jangan ragu untuk mengabarkan kepada orangtua murid bagaimana perkembangan anak selama belajar di kelas. Ceritakan apa yang mereka pahami dan yang diminati. Perlu kita pahami bersama jika kita tak bisa menilai perkembangan anak hanya dari nilai mata pelajaran saja.

Sama halnya dengan murid, jangan pernah merasa malu untuk bertanya atau menceritakan apa yang dipahami kepada guru. Jika masih ada ketakutan dan malu untuk bertanya atau bercerita, maka murid dapat memanfaatkan ruang-ruang privat. Murid dapat bertanya secara empat mata kepada pengajar ataupun kepada sesama temannya di kelas yang dirasa memiliki kemampuan pada bidang tersebut. Bertanya secara personal dapat melatih rasa percaya diri.

Membangun kedekatan akan berdampak baik ke depannya, bukan hanya kemampuan sosialisasi namun murid akan memiliki pemahaman yang mendalam karena komunikasi berjalan baik.

Merasa dekat bukan berarti kita menghilangkan rasa hormat.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *