Menumbuhkan Kebiasaan Belajar Mandiri Di Rumah Dengan Bimbingan Dari Pengajar dan Orang Sekitar

Menumbuhkan Kebiasaan Belajar Mandiri Di Rumah Dengan Bimbingan Dari Pengajar dan Orang Sekitar

Belajar adalah sebuah proses panjang yang bukan hanya terjadi dalam bersekolah saja, namun proses belajar berlangsung seumur hidup. Itu artinya proses belajar tetap berjalan meskipun sudah di rumah dan tidak bertemu dengan para pengajar. Sejatinya belajar bukan hanya tentang menghafal atau memahami materi saja, tapi belajar juga berkaitan dengan menjalin hubungan yang baik antara anak dengan pengajarnya, begitupun sebaliknya. Adanya hubungan erat antara pengajar dan anak akan menimbulkan dampak positif, seperti muncul dorongan untuk lebih bersemangat untuk memahami hal baru.

Namun dalam situasi pandemi seperti ini, pertemuan antara pengajar dan anak menjadi terbatas. Proses belajar di rumah menjadi tantangan tersendiri. Minimnya interaksi secara langsung tentu hal ini membuat anak harus belajar dengan cara baru, yakni belajar mandiri. Setelah jam belajar bersama pengajar selesai, maka anak memiliki tanggung jawab untuk bereksplorasi dari materi yang sudah diberikan.

Dengan belajar secara mandiri, membantu anak dalam memecahkan persoalan yang terkait proses belajarnya secara mandiri dan hal ini tentu saja bagus untuk bekal kehidupannya kedepan. Namun belajar secara mandiri tetaplah bukan hal yang mudah bagi anak, apalagi jika sebelumnya belum pernah dilakukan. Untuk itu, simak penjelasan berikut ini untuk membantu dalam mendapingi anak dalam proses belajar mandiri:

1.      Buatlah jadwal belajar dengan baik

Belajar mandiri memang tidak mudah, perlu komitmen yang besar pada diri anak. Agar mempermudah proses belajar langkah awal yang harus dilakukan adalah membuat ‘to-do-list’ dengan menuliskan semua kegiatan yang harus dikerjakan dalam satu hari. Dari kegiatan-kegiatan tersebut selanjutnya urutkan kegiatan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, proses ini harus berdasarkan skala prioritas. Anak juga bisa menyertakan jam belajar bersama pengajar dan belajar secara mandiri.

2.      Buat porsi belajar yang pas

Saat anak tengah bersemangat, seringkali mereka jadi lupa waktu dan justru terus belajar tanpa ingat waktu. Walau seakan terlihat baik tapi sebenarnya hal ini akan menjadi kurang efektif bagi proses belajarnya. Saat belajar mandiri anak harus pandai mengatur waktu belajar dan istirahat. Anda bisa membantunya membuat perkiraan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar begitupun juga dengan istirahat.

3.      Jangan ragu untuk melibatkan orang lain sebagai bentuk dari inisiatif

Belajar mandiri bukan berarti anak harus menyelesaikannya semuanya sendiri. Tentu ada beberapa kemampuan yang tak dimiliki anak dan sulit untuk menyelesaikannya sendiri. Pada saat ini maka biarkan anak berinisiatif untuk melibatkan orang lain selama proses belajarnya. Munculnya inisiatif merupakan bagian dari kemandirian, dalam konteks belajar di rumah, anak bisa berinisiatif dengan melibatkan orang lain seperti orangtua ataupun kakak. Misalnya orangtua dapat membantu anak untuk mengevaluasi pemahaman mereka terhadap suatu materi.

4.      Fokus!

Jika ketiga poin di atas sudah dilakukan maka yang terakhir adalah FOKUS. Selama proses belajar jauhkan diri dari berbagai benda yang mendistraksi. Jika perlu buat peratuan, benda-benda seperti remote TV, handphone, game, dan lainnya bisa disentuh setelah proses belajar selesai. Jika proses belajar anak menggunakan gawai, maka anda bisa membuat peraturan aplikasi mana saja yang boleh dibuka selama belajar.

Belajar secara mandiri memang tidak mudah, oleh sebab itu orang tua atau pendamping juga perlu terlibat dalam proses belajar anak. Orang tua tak hanya sebagai pengawar semata, namun juga memainkan peran sebagai sumber dukungan positif bagi anak agar makin termotivasi pada proses belajar mandiri yang sedang dijalaninya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *