Banyak Orangtua Tak Sadar, Pendidikan Yang Salah Dapat Memicu Stres Pada Anak

Banyak Orangtua Tak Sadar, Pendidikan Yang Salah Dapat Memicu Stres Pada Anak

Semua orangtua tentu ingin anaknya menjadi sosok yang berprestasi dan membanggakan. Namun terkadang tak banyak orangtua yang sadar jika yang mereka lakukannya justru membuat anak merasa stres dan tertekan.

 

Dalam sebuah penelitian mengungkapkan jika anak usia remaja sangat rentan mengalami stres. Menurut American Psycological Association mengatakan jika usia milenial yang paling rentan dengan stres mulai dari usia 18 – 33 tahun. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika tingkat stres dialami oleh anak-anak di bawah usia 18 tahun. Ada banyak hal yang mempengaruhi tingkat stres anak-anak, antara lain:

1.      Peristiwa traumatis

Mungkin kejadian yang kurag menyenangkan seperti kecelakaan, penyakit, hingga kematian orang terdekat dapat menimbulkan stres dan depresi pada anak, sehingga mereka akan kesulitan untuk menghadapi hidup.

2.      Masalah keluarga

Keluarga adalah elemen yang penting dalam pertumbuhan anak. Kondisi keluarga yang kurang baik tentu akan berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya. Perselisihan orangtua, masalah keuangan keluarga, dan lain-lain akan membuat anak merasa stres.

3.      Bullying

Seiring berkembangnya zaman, kini bullying tidak hanya dilakukan secara langsung. Bullying juga bisa dilakukan secara online, adanya media sosial membuat siapapun bisa mengakses informasi orang lain. Bukan hanya itu saja, fitur komentar juga membuat netizen mengatakan hal-hal yang tak pantas pada anak. Komentar-komentar tersebut tentu akan membuat anak mereka tertekan dan stres.

4.      Hubungan dengan lawan jenis

Saat anak mulai menginjak usia remaja, umumnya mereka akan tertarik dengan lawan jenisnya. Meskipun jatuh cinta adalah hal yang indah, namun jika ternyata cinta mereka tak terbalas tentu hal ini membuat anak mereka patah hati dan stres.

5.      Tuntutan akademik

Saat ini masih banyak orangtua yang terobsesi dengan keberhasilan pendidikan anaknya selain itu, banyak sekolah yang memberikan banyak tes dan tugas-tugas yang membebani siswa. Bukan hanya itu saja, terkadang jam sekolah yang panjang membuat anak juga banyak kehilangan waktu untuk bersenang-senang. Padahal ditengah jadwal pelajaran yang padat anak juga membutuhkan waktu untuk refresing dan melakukan hal yang mereka sukai. Apalagi adanya sistem ranking terkadang membuat beberapa anak merasa merasa perlu bersaing dengan teman-temannya.

Bahkan dikutip dari suara.com memberitakan jika tahun 2019 lalu seorang remaja berusia 13 tahun berasal dari George Town memutuskan untuk bunuh diri karena dirinya tak dapat menyelesaikan PR. Menurut laporan media setempat pada  25 Agustus 2019, sang anak gantung diri menggunakan handuk di dalam kamar mandi beberapa saat setelah mengerjakan PR dengan sang ibu. Menurut investigasi anak tersebut tidak pernah benar-benar tertarik untuk belajar dan selalu lemah secara akademis. Selain itu, ia juga banyak mengeluh kepada orangtuanya karena terlalu banyak mengerjakan PR dan bagaimana hal itu membuatnya stres.

Pendidikan memang hal yang penting, namun jangan sampai karena mementingkan pendidikan anak kita menjadi abai dengan kondisi anak tersebut. Untuk itu peran orangtua bukan hanya sekadar membiayai sekolah anak saja, namun juga sebagai support system bagi anak. Dimana orangtua harus membangun Balanced life bagi anak mereka. Balanced Life bisa dimulai dari hal yang sederhana seperti mengajak anak untuk membagi waktunya, kapan saatnya belajar, kapan saatnya beristirahat, dan kapan saatnya mereka bersenang-senang. Selain itu, sebagai orangtua tentu kita harus peka dengan kondisi anak, saat kondisi mereka sedang sedih sebaiknya jangan abaikan atau malah memarahinya. Biarkan perasaan sedih tersebut berlalu jangan paksa mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Saat anak mengatakan jika dirinya stres dan kesal dengan pelajaran atau hal lainnya dengarkan baik-baik dan bantu mereka menemukan solusinya.

Tingkat stres pada usia remaja memang semakin tinggi seiring dengan kegiatan belajar di rumah. Tugas yang semakin menumpuk serta gesekan dengan anggota keluarga yang lain terkadang menjadi faktor pemicu. Untuk itu, peran orangtua sangat penting selain menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak. Orangtua juga sepatutnya memilih pendidikan yang terbaik bagi anak. Pendidikan terbaik bukan berarti sekolah dengan akreditas A dan terkenal dengan prestasinya. Namun mengetahui apa yang dibutuhkan anak untuk menunjang proses belajarnya. Diskusi dengan anak sangatlah dibutuhkan saat ini.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *