Filosofi Ilmu Padi “Semakin Berilmu, Semakin Merunduk” Haruskah Terus Begitu?

Filosofi Ilmu Padi “Semakin Berilmu, Semakin Merunduk” Haruskah Terus Begitu?

“Jadilah seperti padi, semakin berisi maka semakin merunduk” mungkin istilah ini merupakan nasihat yang sering disampaikan orangtua kepada kita. Hal ini bermakna jika tidak sepantasnya manusia bersikap sombong atas ilmu yang mereka miliki. Selalu ingat jika di atas langit masih ada langit. Makna dari filosofi padi ini tentu bisa kita sepakati bersama, sebagai manusia kita tentu tidak boleh berjalan dengan congkak seakan semua orang akan tak lebih diri dari kita.

 

Akan tetapi, apakah hal ini membuat kita mengharuskan orang-orang yang cerdas untuk terus merundukkan dirinya? Jika banyak orang yang berilmu tapi mereka  memilih untuk diam dan tunduk sepertinya itu tidaklah bijak. Mereka yang memiliki ilmu dan berpengalaman seharusnya menjadi sosok yang lantang bersuara, membagikan ilmunya kepada sesama manusia, atau mulai membuat penemuan yang akan mengubah peradaban.

Tahukah jika ternyata Indonesia termasuk negera yang cukup lambat dalam memproduksi intelektual dalam bentuk publikasi ilmiah dibanding negara lain yang ada di ASEAN? Tentu ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini, namun yang paling berpengaruh adalah fundamental seseorang. Banyak kalangan pelajar yang hanya mengengincar gelar tanpa mendalami apa yang mereka pelajari, sehingga mereka malas untuk belajar dan mengerjakan karya.

Apakah hal itu dipengaruhi oleh filosofi padi yang selama ini sering dinasehatkan oleh para orang-orangtua?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu tahu sejarahnya terlebih dahulu. Selama ini padi menjadi akar kebudayaan manusia. Padi diolah menjadi nasi, kemudian nasi menjadi sumber makanan pokok manusia. Dengan mengonsumsi nasi, seseorang akan menjadi lebih bertenaga dan produksi untuk bekerja sekaligus beraktivitas setiap hari. Sejak sistem pertanian padi mulai dikenal manusia, maka peningkatan kegiatan produksi berkembang semakin pesat. Sehingga muncullah transaksi jual-beli antara petani dan mereka yang membutuhkan. Seiring berjalannya waktu kebutuhan manusiapun kini semakin beragam, seperti sandang dan papan. Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan jika kehidupan ini terus bergerak. Padi sebagai sumber makanan pokok seakan menjadi keniscayaan hidup bagi peradaban. Dari bulir padi orang-orang kemudian memiliki profesi petani dan melakukan transaksi untuk mencipatakan ekonomi yang stabil. Bahkan pada abad ke-19, Thomas Stamford Raffles mengakui jika seluruh tanah di Jawa bisa dimanfaatkan, kualitas variasi tanaman dan kuantitas produksi yang dapat dihasilkan di pulau ini tak tertandingi.

Namun bagaimana memaknai filosofi padi agar tetap rendah hati namun sukses ke depannya? Padi seakan menjadi sebuah objek yang sakral di masyarakat Jawa hal ini karena padi menjadi bahan pokok yang penting dan wajib ada dalam upacara suci. Masyarakat Jawa meyakini jika padi merupakan bagian dari keberkahan yang dilimpahkan Tuhan untuk umat manusia. Bahkan proses hidup tumbuhan padi menjadi pandangan bagi orang Jawa yang menjalani kehidupan. Pada dasarnya filosofi padi mengandung beragam penghayatan manusia khususnya masyarakat Jawa. Peran alam dalam pertumbuhan padi dan peran roh atau spirit yang mempengaruhi kehidupan padi sehingga hal ini kemudian difilosofikan.

Di era modern saat ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan berjalan dengan cepat. Dengan banyaknya penemuan dan industri kreatif terkadang muncul persaingan antara satu sama lain. Sikap terus merunduk dalam arti yang sebenarnya adalah mengalah, tidak bisa diterapkan jika ingin bersaing dengan ilmuwan atau penggiat kreatif lainnya. Saat ini kita perlu menunjukkan kompetensi yang dimiliki. Akan tetapi saat kita sudah memiliki kompetensi dan ilmu pengetahuan gunakanlah sebaik-baiknya, pastikan apa yang kita tekuni bermanfaat bagi orang lain. Kita memang tak harus terus merunduk, namun kita bertindak sesuai dengan porsinya masing-masing. Jangan terlalu sombong atau merasa benar-benar mengetahui sesuatu.

Memahami filosofi ilmu padi terkadang butuh kehati-hatian agar tak menimbulkan pemaknaan yang keliru. Untuk itu perlu adanya lembaga pendidikan yang mampu merepresentasikan filosofi ilmu namun tetap disesuaikan dengan kondisi zaman. Sehingga sebagai orangtua kita perlu mengajarkan anak untuk menjadi sosok yang berilmu dan bisa beradaptasi dengan zaman, namun masih mempertahankan nilai-nilai kehidupan yang luhur seperti apa yang digambarkan pada filosofi padi.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *