Baru Mulai Memasukan Anak Ke PKBM? Simak Peran Yang Bisa Diambil Orangtua Dalam PKBM

Baru Mulai Memasukan Anak Ke PKBM? Simak Peran Yang Bisa Diambil Orangtua Dalam PKBM

Pendidikan tak hanya menjadi salah satu jalan seseorang bisa memperoleh kesuksesan di masa mendatang, pendidikan juga memberikan ketrampilan bagi seseorang dalam menjalani hidup kedepannya. Dulu pendidikan identik dengan memasukan anak ke sekolah formal, namun kini banyak cara dalam memberikan pendidikan terbaik untuk anak. Salah satu sistem pendidikan yang baik untuk pertumbuhan anak adalah PKBM.

 

Pendidikan alternatif seperti PKBM memiliki cara yang tentu yang berbeda dalam prakteknya. Di sekolah formal peran serta orangtua sangatlah minim, sedangkan sistem PKBM orang tua menjadi partner belajar untuk anak. PKBM bukan berarti memindahkan gaya pendidikan formal ke rumah, bukan. Namun adanya komunikasi dua arah yang membuat anak menjadi lebih berani bereksplorasi. Tentunya dalam hal ini membutuhkan peran orangtua yang cukup besar pada proses pendidikan anak.

Selain sebagai penuntun, peran orangtua dalam PKBM juga bisa menjadi fasilitator dan coach. Sebagai fasilitator, tentu Anda harus menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak dalam menunjang kompetensi, keterampilan, serta potensi yang ingin anak kembangkan. Sedangkan sebagai coach, Anda memiliki tugas untuk memotivasi atau memberikan dorongan positif pada anak agar mereka tetap bersemangat dalam menjalani proses pendidikan PKBM. Coaching ini sangat diperlukan, mengingat jika selama proses belajar anak akan menemui rasa bosan, jenuh, tidak percaya diri bahkan sampai patah semangat.

Apalagi beberapa anak biasanya menjalani proses belajar hanya sekadar untuk memenuhi perintah orangtuanya. Padahal salah satu tujuan dari PKBM sendiri adalah membangun sikap belajar yang mandiri pada anak. Jika dilakukan atas dasar keterpaksaan tentu tujuan pendidikan akan sulit dicapai. Oleh sebab itu banyak cara yang perlu diubah jika Anda sudah benar-benar siap dalam memberikan pendidikan alternatif untuk anak Anda.

Sebagai orangtua, mungkin saja Anda mengalami hal-hal yang juga anak alami. Namun disinilah proses bagaimana membentuk kembali ikatan yang sehat antara Anda dan buah hati. Pendidikan alternatif tak hanya memberikan cara lain dalam pengajaran, namun juga bisa memperkuat relasi antara anak dan orangtua jika dilakukan dengan semestinya. Untuk itu, orangtua perlu belajar bagaimana kondisi suasana hati anak sebab akan mempermudah dalam prosesnya jika dijalani dengan suasana hati yang senang dan gembira.

Tentu hal ini sangat berbeda jika anak belajar di sekolah formal. Dimana orangtua hanya terima bersih dan tidak bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan anak selama di sekolah. Orangtua tak terlalu memikirkan kenyamanan anak selama proses belajarnya di kelas. Apalagi jarang sekali sekolah yang memberikan laporan terkait perkembangan anak di sekolah kepada orangtua diluar perkembangan akademis. Orangtua hanya dibutuhkan pada proses kenaikan kelas dimana Anda akan mengambil rapor anak. Hasil belajar anak hanya bisa kita lihat melalui rapor itu saja. Padahal bentuk prestasi anak bukan hanya tentang nilai yang bagus, namun juga banyak dimensi lain yang patut diketahui orangtua dalam kesuksan pencapaian pendidikan anak.

Sebagai orangtua tentu Anda tidak ingin anak menjadi sosok  yang tertinggal hanya karena tidak memperoleh kenyamanan dalam belajar atau metode belajar yang diberikan kurang tepat. Dalam hal ini, peran orangtua sebagai support system sangat dibutuhkan.

Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara memperkenalkan konsep TRI SENTRA. Konsep ini terdiri dari lingkungan rumah (alam keluarga), lingkungan sekolah (alam perguruan), dan lingkungan sebaya (alam pergaulan). Ketiga hal tersebut perlu dalam proses belajar anak, dimana lingkungan rumah, lingkungan sekolah/belajar, dan lingkungan sebaya saling terhubung sehingga proses belajar akan lebih optimal.

PKBM menggabungkan konsep TRI SENTRA, dimana anak akan belajar dengan tutor yang berkompeten. Selain itu proses belajar PKBM bisa dilakukan privat dan membangun intensitas yang baik antara pengajar dan peserta didik sehingga anak akan merasa lebih bebas untuk bertanya. PKBM bukan hanya kegiatan belajar secara privat saja namun juga banyak kegiatan lain yang turut mendukung perkembangan anak seperti study club dan ektrakulikuler. Study club dan ekstrakulikuler bukan hanya mengasah kemampuan anak saja, namun juga melatih kemampuan mereka bersosial dengan teman sebaya atau teman yang memiliki minat yang serupa. Tentu kegiatan PKBM tidak dapat berjalan lancar tanpa ada dukungan dan peran yang besar dari orangtua.

Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari PKBM. Meskipun proses belajar cukup berbeda dengan sekolah formal, tapi Anda tak perlu khawatir, sebab banyak program PKBM yang menyediakan kurikulum berbasis akademis yang  menyediakan materi pembelajaran akademis, sosial, budaya, seni hingga pembentukan karakter anak. Semoga dengan artikel ini dapat membantu anda dalam merencanakan pendidikan anak.

 

 

Demikian artikel ini kami buat semoga memberikan gambaran bagi anda tentang serba serbi dunia pendidikan. Apabila ada pertanyaan tentang pendidikan alternatif Anda bisa hubungi kami di https://piwulangbecik.sch.id untuk informasi lebih lanjut.

The Social Dilemma & Factfulness

Mari kita diskusikan hubungan antara film dokumenter disertai drama The Social Dilemma (Netflix, 2020) dengan buku Factfulness (Hans Rosling, 2018). Hubungan keseimbangan antara ketakutan dengan harapan.

The Social Dilemma

menceritakan bahayanya perubahan yang sangat kecil dari dunia internet sekarang ini, baik itu Google, Facebook, Instagram, dllnya … dengan cara yang sangat halus, pelan … tetapi menghanyutkan. Para developer di perusahaan-perusahaan besar tersebut mengingatkan akan bahayanya layanan yang telah mereka bangun sendiri. Kita telah salah tangkap, mengira yang mereka buat adalah sebuah layanan bagi kita, padahal sebenarnya tanpa kita sadari, perilaku kita berubah mengikuti yang mereka mau.

Fenomena Bumi Datar

Salah satu contoh menarik dari cara bekerjanya algoritma media sosial adalah fenomena tentang bumi datar. Ketika seseorang baru pertama kali ingin mencari tahu tentang isu bumi datar atau tidak, maka dia akan disuguhkan dengan beragam informasi, baik yang mendukung atau pun tidak. Jika kita lakukan search di Google, maka yang muncul paling atas adalah yang paling banyak diklik dan dibaca. Dan itu tidak bermakna bahwa yang paling atas adalah yang paling benar. Kenapa begitu? Karena bagi algoritma medsos, bukan benar salahnya, tetapi seberapa banyak yang telah mengklik dan membaca. Hal ini berkaitan dengan dunia bisnis, pengiklan. Pengiklan akan memberikan insentif finansial kepada situs yang paling banyak dibaca. Karena targetnya adalah jumlah.

Lantas, setelah itu, algoritma pada saat bersamaan juga akan mencatat, kecenderungan dari pembaca pertama tadi. Situs mana saja yang lebih banyak dibaca, pengikut bumi datar atau penentangnya.

Jika yang dibaca lebih banyak di bagian pengikut bumi datar, maka pencarian berikutnya akan diarahkan kepada situs-situs yang mendukungnya. Yang secara lambat laun, si pembaca digiring, seolah-olah kecenderungannya mendapatkan pembenaran. Dan opini ini terus akan dibangun untuk semakin menguatkan bahwa medsos memang dibutuhkan oleh pembaca tersebut untuk mendapatkan info tentang bumi datar. Secara tidak sadar, pembaca secara pelan tapi pasti, dia telah terperangkap oleh algoritma medsos dan menjadi kecanduan akan informasinya.

Bagaimana dengan pembaca lain yang punya kecenderungan menentangnya? Dia juga akan mendapatkan info hal lain yang mendukung kecenderungannya tersebut. Sehingga, seolah dia juga mendapatkan pembenaran akan kecenderungannya tersebut.

Walhasil, keduanya akan merasa benar dan mendapatkan pembenaran. Keduanya telah terperangkap oleh algoritma artifisial intelijen yang mereka ciptakan. Dan sekarang, pembaca bukan lagi sebagai pencari informasi, tetapi telah menjadi produk, yang dijual kepada pemasang iklan.

Itu hanya salah satu contoh saja. Sudut pandang lain tentang film tersebut telah banyak ditulis, salah satu review yang cukup bagus ditulis oleh Bernadetta Yucki dan bisa dibaca di tautan berikut.

Factfulness

mengajak kita melihat kenyataan bahwa dunia tidak seburuk yang kita sangka. Informasi yang sampai kepada kita, terlalu bias, krn kita tidak pernah mau menyediakan waktu sebentar saja untuk menganalisa dengan jernih. Kita hanya follow the crowd. Sadarkah kita dengan hal ini?

Afrika Adalah Negara Miskin

Seolah-olah telah menjadi takdirnya bahwa Afrika selamanya akan miskin dan terbelakang. Tapi seringnya, opini ini terbentuk atas dasar perasaan saja.

Padahal kenyataannya, harapan hidup orang Afrika lebih dari 72 tahun. Sementara rata-rata harapan hidup dunia hanya 72 tahun, di bawah orang Afrika. Mereka telah mengembangkan pendidikan, ketersediaan listrik, air dan sanitasi yang semakin baik. Penurunan tingkat kematian bayi menurun lebih cepat dibandingkan Swedia. Lantas, kenapa semua itu tidak pernah dilihat sebagai perkembangan yang luar biasa?

90 tahun yang lalu, Swedia juga miskin. 50 tahun yang lalu, China, India, Korea Selatan dalam kondisi jauh lebih buruk dari Afrika saat ini.

Tapi orang cenderung tidak mau melihat kenyataan akan adanya perubahan. Padahal, perubahan yang kelihatannya pelan, tidak berarti tidak ada perubahan sama sekali. Tahukah bahwa 1 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda setelah 70 tahun. Dan 2 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda dalam 35 tahun. Kemudian 3 persen perubahan setiap tahunnya, akan menjadi berlipat ganda hanya dalam 24 tahun. Sekecil apapun perubahan itu, akan berdampak besar.

Orang cenderung melihat kondisi saat ini saja, dan tidak mau melihat proses perkembangannya. Sehingga mereka sering terkaget-kaget ketika 20 tahun kemudian, masyarakatnya mundur, dan sebaliknya, masyarakat lain semakin maju.

Banyak contoh dari data yang valid dihadirkan, untuk melihat kondisi dan perekembangan sebuah masyarakat dengan nyata, buka sekedar perasaan saja. Salah satu review menarik dari sudut pandang yang lain lagi, ditulis oleh Bagja Hidayat dan bisa dibaca di tautan berikut. Dan ebook yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tersedia di Gramedia di tautan berikut.

Bagaimana Kita Menyikapinya?

Film dokumenter tersebut menjadikan kita ngeri melihat pesatnya perkembangan zaman. Di lain pihak, buku factfulness justru memberikan kita gambaran akan dunia yang lebih baik dari yang kita takutkan selama ini.

Lantas, apakah info di atas menjadikan kita tambah galau, bingung atau justru kita bisa mengambil tindakan dengan lebih rasional lagi? Sebagai manusia sosial, kita perlu menyeimbangkan antara ketakutan dengan harapan. Untuk menyeimbangkan keduanya, kadang kita butuh teman berdiskusi dan saling mengisi, saling memberi ketika kita sudah melangkah mengambil keputusan.

Di situlah letak pentingnya kita
bergotong royong
saling menguatkan,
saling mengingatkan,
saling meringankan.

form pendaftaran PBx

Black Swan

Anak generasi Z banyak yang membuat kejutan tak terduga. Fenomena black swan. Seperti tidak ada progresnya, tapi pada saatnya … tiba tiba melejit.

Karena tidak pernah terduga, maka jangan sekali-kali menduga-duga atau memperkirakannya. Cukup bersabar membersamainya … dengan kasih sayang seutuhnya …

Buku tahun 2007 ini masih relevan dengan zaman sekarang … dampak dari sesuatu yang sangat mustahil terjadi …

Kemenkeu Mengajar: Pendidikan Dalam Pangkuan Ibu dan Bapak

sehari mengajar
seumur hidup memberi arti

Nadiem Makarim

1:17:15
Faktor terpenting adalah keterlibatan orang tua … berikanlah waktu untuk anak-anak anda.

Sri Mulyani Indrawati

42:18
Janganlah sampai keinginan kita untuk sempurna, mencegah kita untuk berbuat sesuatu.
1:19:30
Saya akan buat peraturan, sekarang rapat-rapat di kementerian saya, tidak boleh saat jam anak sekolah … kita start at 2 pm sampai jam 8 malam. (supaya orang tua tahu pembelajaran anak-anaknya, membantu anaknya dan tidak rebutan gadget atau device saat PJJ).

Dian Sastrowardoyo

1:15:27
Kalau kita tidak melakukan apa-apa, kita malah menjadi bagian dari masalah. Kalau kita ingin menjadi bagian dari solusi, kita harus melakukan sesuatu.
1:30:19
Daerah 3T (terluar tertinggal terjauh) diberikan subsidi pendidikan yang sangat besar, gurunya mendapatkan gaji yang paling besar, pengajar yang terbaik secara nasional, sehingga kalau ingin berkarir dengan bagus maka justru ditempatkan di daerah 3T tadi. Sehingga daerah 3T tadi mau tidak mau menjadi maju.

Najelaa Shihab

1:02:04
Pendidikan itu esensinya jaringan kolaborasi. Kemdikbud Kemenkeu berkolaborasi, bersama-sama melakukan inovasi. Juga orangtua dan guru.
1:15:40
Semua murid semua guru, semua ambil peran.
1:16:15
Perubahan pendidikan itu, bukan hanya butuh perubahan kebijakan, bukan hanya butuh pemerintah, tetapi butuh sebanyak mungkin praktek baik, orang yang percaya bahwa pendidikan itu tanggung jawab kita semua dan saya bisa ambil peran.
1:32:30
Mistrust, rasa saling tak percaya antar pemangku kepentingan yang selama ini amat sangat dominan di pendidikan kita, bisa segera hilang atau paling tidak berkurang, justru karena pengalaman di pandemi ini. Jangan merasa jadi korban. Relasi berdasarkan empati.

Ki Hajar Dewantara

1:39:56
Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu dan bapak, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba kepada sang anak semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya. Sebab cinta kasih kepada anak-anak boleh dibilang adalah cinta kasih tak terbatas.

Info tentang Kemenkeu Mengajar bisa didapatkan di sini.

Info Pendaftaran Sekolah KM5 ada di sini.

 

Jalan Tengah Untuk Anak Tidak Sekolah

SKB & PKBM Lebih Siap Menangani ATS

Bapak Dr Samto sebagai Direktur PMPK (Pendidikan Masyarakat & Pendidikan Khusus), dalam sambutan pembukaan “Penanganan Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah dan Program Indonesia Pintar Pendidikan Kesetaraan” yang diselenggarakan oleh Direktorat PMPK, Dirjen PAUD Dikdas & Dikmen, Kemdikbud, dari tanggal 22-24 Oktober 2020 bertempat di Harris Hotel Sentraland, Semarang, salah satunya menyebutkan tentang tren bertambahnya ATS dari tahun ke tahun. Tahun ini meningkat 700ribu-an. Bisa jadi peningkatan jumlah ini karena pendataan yang lebih baik, tetapi juga bisa karena alasan lainnya.

Yang jelas, ATS ini menjadi perhatian serius pemerintah RI dan juga masyarakat internasional dalam SDGs.

Dan lembaga yang justru sangat siap untuk menangani ATS ini adalah sekolah non formal, SKB dan PKBM. Kehadiran peserta didik yang fleksibel, materi pelajaran yang juga tidak terlalu akademis, dan pendekatan yang dilakukan oleh lembaga non formal ini lebih mengena.

Sebagian besar Satuan Pendidikan Non Formal ini didirikan oleh para aktivis yang peduli dengan dunia pendidikan. Walau pendiriannya dengan upaya sendiri dan fasilitas seadanya, tetapi semangat untuk ikut menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia ini, justru tinggi.

ATS ini tidak sekedar masalah uang dan kurikulum, tetapi lebih ke masalah perhatian dan kepedulian.

Program Indonesia Pintar

Bantuan PIP (Program Indonesia Pintar) salah satunya adalah untuk mengatasi ATS (Anak Tidak Sekolah) dengan rentang umur usia sekolah (6 sampai 21 tahun). Untuk yang kurang dari 6 tahun atau lebih dari 21 tahun, maka tidak bisa diajukan sebagai penerima PIP.

Informasi dari ibu Tien Suryani, pencairan PIP untuk daerah merah dan oranye di masa pandemi, dilakukan secara kolektif oleh satuan pendidikan. Penggunaan PIP tidak fleksibel karena sudah ditanggulangi oleh bantuan lainnya seperti PKH dllnya. Tapi satuan pendidikan tidak boleh memotong PIP ini untuk membayar SPP, karena sudah ditanggung lewat BOP.

Tapi, tantangan terbesar saat ini justru bukan dari dana, tetapi adalah menarik anak yang sudah bekerja untuk kembali ke sekolah dengan pendidikan yang akademis.

Ada jurang pemisah antara anak yang terbiasa bekerja, dengan dunia akademis, apalagi kalau harus mengulang dari awal lagi. Anak yang sudah berusia 15 tahun, tidak akan pernah mau untuk kembali ke sekolah dari kelas 1 SD.

Padahal anak ini sudah pandai menulis dan mendapatkan penghasilan dari kegiatan sosial medianya sekarang. Kalau mengulang dari kelas 1 SD lagi, artinya dia justru turun derajatnya.

Sertifikat Keahlian

Bapak Dr Abdul Kahar, Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kemdikbud RI, menceritakan usahanya dahulu bersama teman-teman Non Formal untuk memberikan sertifikat keahlian yang setara dengan kelas akademis. Misal, anak usia 15 tahun ini bisa setara kelas 3 SMP krn telah menghasilkan karya yang setara dengannya. Sebagai alternatif dari placement test, yang isinya juga masih terlalu akademis.

Tapi, ternyata usaha itu masih belum berhasil karena perlawanan dari pihak akademisi yang tetap mewajibkan ATS untuk melakukan placement test atau mulai dari awal lagi.

Asesmen Kompetensi Minimum

Pun begitu, usaha ini bisa terus dilakukan, dengan harapan Mas Menteri yang menggulirkan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Survei Karakter dan Survei Linkungan Belajar ini, selaras dengan sertifikat keahlian yang sesuai untuk menangani ATS.

Dapodik

Data PIP nantinya akan dipastikan diambil dari data lengkap di Dapodik. Sehingga hanya yang ditandai “bersedia menerima PIP” saja yang akan diajukan untuk mendapatkan bantuan. Pun begitu, untuk mendapatkan kevalidan data, ada beberapa saringan, seperti: sudah mempunyai NISN dan tidak terdaftar di sekolah lain (data ganda).

NISN

Masalah lain dari PIP adalah hanya diberikan bagi siswa yang telah mempunyai NISN. Secara sistem, mustinya maksimum setelah 3 bulan setelah terdaftar di dapodik, maka akan mendapatkan NISN. Tapi kenyataannya, sering ketika mendekati ujian, NISN baru diterbitkan. Dan ini tentu mengganggu program KIP. PMPK terus berupaya bekerjasama dengan Pusdatin untuk penerbitan NISN ini.

Minat Mengalahkan Bakat

minat dan niat yang kuat

mendatangkan manfaat

kalau sekedar berbakat

tetapi tidak ada niat

tidak ada minat

akan mokat

Sutradara & Aktornya

Bapak ibu, kalau benar bahwa anak adalah subyek pembelajaran, maka kalau pun ada yang pusing dan galau, itu adalah si anak itu sendiri. Karena dia adalah aktor utamanya. Sedangkan bapak ibu hanya sebagai pemain figuran. Dimana beban (kalau itu sebuah beban) berhasil tidaknya sebuah drama kehidupan ini, jelas berada di pundak aktor utama, bukan pemain figuran.

Kalau pemain figuran ini ternyata malah cemas dan galau, jangan-jangan, orang tua ini penginnya jadi sutradara. Tidak rela jadi pemain figuran, apalagi menjadi pendamping yang hanya sekali-kali menyediakan makan dan minum bagi aktor utamanya. Gak mau cuma jadi pendamping yang kerjanya hanya menghibur dikala aktor utamanya sedih dan putus asa.

Padahal … sutradara kehidupan ini, kita semua sudah tahu. bukan kita.
Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dialah pembimbing anak kita, dan juga kita

Pendampingan – Bukan Ujian

Anak usia dini sampai 18 tahun-an, lebih membutuhkan pendampingan daripada ujian.

Mereka tidak sedang diuji atas pembelajaran yang telah mereka lakukan selama ini. Mereka sebenarnya sedang didampingi dalam mengembangkan pembelajarannya, dan juga dalam mengembangkan keahliannya.

Mereka akan tumbuh dengan sehat dan tenang tanpa paksaan dan tekanan jika dalam pendampingan.

Pendamping ini bisa jadi orang tuanya, ustadznya, guru atau pihak lainnya yang dipercaya dalam perkembangan anak tersebut.

 

Sekolah Yang Membebaskan (2)

Landasan Rasional

Sekolah yang membebaskan bukan hanya sekadar slogan dan jargon tetapi punya tanda dan ciri yang bisa dikenali. Diantaranya adalah tidak pernah ada pembiasaan suatu perbuatan tanpa landasan pemikiran yang rasional yang dijelaskan kepada siswa. Ciri lainnya adalah cinta atau welas asih yang merupakan kebijakan dan pedoman pembelajaran yang dibangun berdasarkan konstruksi pengetahuan yang kokoh.

Korban Kebiasaan

Alkisah, di zaman Hitler ada tiga orang tawanan yang ditangkap dan dipenjarakan. Singkat cerita, tiga tawanan tersebut memilih berupaya untuk melarikan diri dari penjara daripada hanya menunggu waktu dan giliran untuk menerima vonis kematian.

Dan akhirnya berhasillah mereka melarikan diri. Setelah merasa aman dan jauh dari penjara, saat  ketiganya akan berpelukan, tiba-tiba satu orang dari mereka melangkah mundur dan berencana kembali ke penjara.

Dua temannya tentu saja kaget dan bingung melihat sikap teman yang satu ini. Lalu keduanya bertanya, apa alasanmu ingin kembali mendekam di penjara, padahal kamu tahu bahwa akhir dari nasibmu adalah kematian dan bila mereka menangkapmu setelah kamu melarikan diri dari penjara tentu sebelum dibunuh engkau akan disiksa dengan berbagai siksaan yang pedih.

Dengan enteng, ia  menjawab:  kalau aku bebas dari penjara bagaimana aku mendapatkan kerjaan dan makan secara teratur? Sementara di penjara, hidupku begitu teratur dan terbiasa dengan makan dan minum di jam-jam tertentu. Ini lebih aku sukai daripada hidup di alam bebas tapi serba tidak menentu.

Demikianlah pola pikir dan sikap orang yang menjadi korban kebiasaan. Ia lebih memilih mati secara tragis, asal tidak keluar dari zona kenyamanan dan kebiasaan yang selama ini dilakukannya.

Sang Guru berkata
janganlah kalian tertipu 
dengan banyaknya ibadah seseorang
karena mungkin itu 
sekedar kebiasaan yang dilakukan
tetapi nilailah seseorang dengan kejujuran 
dalam berbicara dan menunaikan amanat

Banyak guru yang berupaya menanamkan perilaku baik kepada anak didiknya dengan cara sekedar membiasakan mereka untuk mengerjakan dan mengulang-ulang suatu kebiasaan tertentu.

Pembiasaan suatu aktivitas menjadi tidak bagus ketika tidak dibangun dengan nalar yang bisa dipahami oleh siswa. Siswa mestinya dipahamkan kenapa mereka melakukan kebiasaan itu: apa manfaat dan madaratnya. Apa urgensinnya, apa kebaikannya.

Jika tidak, alih-alih membebaskan, kebiasaan bisa memenjarakan. Kebiasaan tanpa pemahaman rasional, sering membentuk kepribadian ganda: terlihat disiplin di lingkungan tertentu, tapi tidak tampak di lingkungan lain.

Mengenali Dulu, Mencintai Kemudian

Berapa banyak orang yang memuja tanpa terlebih dahulu mengenalinya. Bukankah akal bak lentera yang menuntun kita untuk berjalan dan melangkah secara benar?

Sadar atau tidak, kita terlalu emosional dan tidak rasional, sehingga gampang percaya dan mudah meriwayatkan kebohongan. Gampang menerima hoax dan gagal memberdayakan akal karuniaNya yang besar.

Sekolah yang membebaskan, memberikan perhatian besar pada pendidikan rasional sedari dini. Pemikiran yang logis dan tidak kontradiktif, karena dua hal yang bertentangan tidak mungkin bertemu.

Makrifat

Makrifat melahirkan cinta dan cinta menciptakan pengabdian. Di sekolah yang membebaskan, anda akan bertemu siswa pecinta yang rasional.

 

Sekolah Yang Membebaskan (1)

Kebebasan

Kebebasan adalah hadiah terbaik dan terindah yang dipersembahkan oleh Tuhan kepada manusia. Mengapa? Karena satu-satunya makhluk yang diciptakan merdeka, memiliki ikhtiar dan bisa mengubah dirinya sendiri adalah manusia.

Sang Guru berkata
janganlah engkau menjadi budak alias tawanan orang lain
karena Tuhan melahirkanmu sebagai orang yang merdeka

Sekolah sebagai wahana belajar dan ekspresi kreativitas siswa harus menjadi tempat yang membebaskan siswa untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai dan tidak menjadi “penjara” yang mengekang kebebasan dan justru membuat anak-anak terasing dengan dirinya sendiri; terasing dengan cita-cita dan kesukaannya.

Anak-anak bukan hanya menjalankan perintah-perintah dan aturan-aturan yang sudah didesain dan ditentukan oleh sekolah dan guru-gurunya, tapi mereka disadarkan untuk berkarya dan melakukan hal-hal yang menumbuhkan kemampuannya.

Kontrak Belajar

Mestinya anak-anak sejak semula terikat kontrak belajar untuk menentukan sendiri sekarang mau jadi apa dan berupaya sungguh-sungguh untuk melakukan aktivitas yang mendukung kemajuan pilihan cita-cita yang ditetapkannya. Orangtua seyogianya membebaskan anaknya dan mendukung anaknya mewujudkan kemampuannya. Orangtua tidak seharusnya memaksa anak mengikuti semua keinginannya dan mencetaknya seperti dirinya tanpa melibatkan kehendak dan kesukaan serta kenyamanan anaknya. Ingat, anak kita terlahir bukan di zaman kita dan metode pendidikan pun sudah banyak berubah.

Tidak sedikit anak-anak yang seperti robot yang harus menuruti apa keinginan pemiliknya.  Mereka pergi ke sekolah hanya untuk memenuhi harapan orangtuanya sementara mereka sendiri tidak menikmati keberadaannya di sekolah dan masa belajarnya semua dilakukan dengan terpaksa dan ketidaknyamanan.

Bebaskan Ruhku

Ya, di sana banyak batin yang menjerit dan berteriak, wahai ayah, wahai ibu, biarkan dan izinkan aku menjadi diriku sendiri seperti yang aku inginkan dan aku suka! Carikan sekolah yang membebaskan ruhku! Jangan jadikan sekolah sebagai penjara tahunanku! Aku perlu guru sang pembebas? Aku harus cari guru yang membantu kebebasanku dari tawanan raga dan nafsu amarah! Aku harus pastikan sekolah menjadi rumah keduaku dan surga kebahagiaanku.

Sa'di berkata
Bila sekolah membebaskan dan menyenangkan
hari libur pun para siswa merengek minta masuk sekolah